Penuturan Doktor Fahimeh Mostafavi Tentang Ayahnya, Imam Khomeini ra (5)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i25534-penuturan_doktor_fahimeh_mostafavi_tentang_ayahnya_imam_khomeini_ra_(5)
Mohon Jelaskan sedikit kenangan anda tentang perjuangan Imam Khomeini ra!
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 12, 2016 07:54 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Mohon Jelaskan sedikit kenangan anda tentang perjuangan Imam Khomeini ra!

Imam Khomeini di masa mudanya sebagai seorang talabeh [santri] menjalani kehidupannya dengan sedikit uang yang diwarisi dari ayahnya. Oleh karena itu beliau tidak mengambil uang bulanan santri. Pada masa itu Agha Syeikh Abdolkareem Hairi sebagai pendiri Hauzah Ilmiah Qom dan sebagai pimpinannya. Sebagaimana yang diceritakan oleh Imam Khomeini, beliau sendiri pergi ke Arak meminta Ayatullah Hairi untuk datang ke Qom dan mendirikan hauzah. Setelah Agha Hairi, hauzah dipegang oleh Agha Boroujerdi.

Almarhum Syeikh Abdolkareem Hairi memberikan uang bulanan kepada para santri dan sampai sekarang menjadi sebuah tradisi. Tapi Imam Khomeini menolak dan tidak mengambil uang bulanan itu dan berkata:

“Saya punya uang, cukup bagi saya.”

Model pemikiran seperti inilah sehingga Imam Khomeini dan ibu saya bersabar dalam menghadapi segala kesulitan dalam hidupnya. Sekali waktu ibu saya menceritakan tentang masa lalu. Beliau mengatakan, “Saku Qaba [pakaian ulama yang berkancing] Agha [Imam Khomeini] tidak pernah saya letakkan di bagian depan. Karena suatu saat saya terpaksa harus menjadikan bagian bawahnya sebagai jas, maka garis saku akan jatuh di bagian pundak dan tidak bagus. Itupun, bila jas tersebut sudah robek maka saya membaliknya. Saya buat popok untuk bayi dan semua ini karena tidak adanya dana. Namun Imam Khomeini selalu mengatakan:

“Aku punya sekian dan harus hidup dengan apa yang ada ini.”

Suatu hari saya melihat baju yang dipakai Imam Khomeini. Kepada beliau saya berkata, bagaimana kalau gambar baju ini saya berikan kepada surat-surat kabar dan mereka cetak fotonya.

Sepertinya lengannya sudah pendek. Ibu saya tidak menginginkan baju itu sia-sia, kemudian menambahkannya sepotong kain karbon kevlar dan menambahkan di bagian tengah lengan. Baik warna maupun jenis kain tidak sama dengan warna dan jenis kain baju yang ada. Jelas beda antara kain karbon kevlar dan kain tetoron.

Imam Khomeini berkata:

“Tidak. Tidak masalah sama sekali.”

Saya berkata, “Saya tidak mengatakan bermasalah. Tapi sedikit tidak sesuai.” Beliau berkata:

“Tidak. Sangat bagus. Jangan diutak atik. Biarkan saja. Sangat bagus.”

Meski dalam urusan harta Imam Khomeini tidak begitu menganggap penting. Namun beliau sangat memperhatikan masalah kebersihan. Dalam seminggu beliau mandi dua kali. Yakni pagi hari Selasa dan pagi dari Jumat beliau mandi. Di kamar mandi beliau menggunakan celemek dan membersihkan bulu wajahnya. Untuk mencukur rambut kepalanya, kadang beliau meminta bantuan kami dan seringnya minta bantuan ibu. Kemudian beliau membasuhnya di kamar mandi.

Untuk menjaga kesehatan, beliau punya sandal sesuai dengan kondisinya. Misalnya sandal kamar berbeda dengan sandal halaman atau sandal wc. Dengan demikian, beliau senantiasa punya sandal sebanyak lima sampai enam pasang sandal. Suatu hari saya berkata kepada beliau, “Anda mengatakan, hendaknya kalian sederhana. Sementara Anda punya enam sampai tujuh pasang sandal. Namun kami hanya punya satu pasang sandal.”

Beliau berkata:

“Kalian punya satu pasang sandal. Kalian pakai selama satu tahun. Saya punya tujuh pasang. Saya memakainya selama tujuh tahun. Saya tidak berlebihan. Namun, sandal yang saya pakai di dapur berbeda dengan sandal yang saya pakai di kamar. Kalian juga, lakukan hal ini.”

Bila kalian masuk ke kamarnya Imam Khomeini seakan-akan kalian masuk ke dalam surga. Siapa saja yang membawa hadiah minyak wangi, beliau menerimanya. Pada dasarnya beliau memakai semua jenis minyak wangi. Sehari beberapa kali beliau memakai minyak wangi. Beliau tidak suka bila kami berbau tidak sedap. Terkadang bila kami di rumah dan memasak di dapur, setelah selesai kami matikan lampunya dan pergi menemui Imam, lantas kami duduk, Imam Khomeini memalingkan wajahnya dan mengatakan masakan apa yang kamu bikin. Dengan demikian, secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa kami berbau masakan. Tentunya beliau tidak pernah mengatakan sesuatu kepada kami secara terang-terangan. Sekali waktu saya berkata kepada beliau, “Betapa Anda harus bersabar menghadapi kami!” Karena beliau tidak ingin mengatakan sebaliknya, beliau berkata:

“Begitulah. Kami bersabar.”

Secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa Imam Khomeini dalam sehari memakai minyak wangi sebanyak tujuh kali. Karena di antara dua salat, mustahab hukumnya menyisir jenggot dan memakai minyak wangi. Di sajadah Imam Khomeini senantiasa ada sisir. Beliau meletakkan tasbih secara khusus di bagian atas sajadah. Karena hal itu juga mustahab hukumnya. Kemudian beliau bangkit dan pergi ke kamar lainnya untuk memakai minyak wangi. Kemudian kembali lagi untuk mengerjakan salatnya.

Kebersihan beliau saat makan juga tampak sekali. Beliau punya kedisiplinan tersendiri ketika makan baik itu makan Ab Gusht atau makanan lainnya. Di hidangan makanannya, ada dua sampai tiga sendok makan. Satu pisau dan dua sampai tiga sendok selai. Pada dasarnya, untuk setiap wadah ada satu sendok masing-masing. Dengan demikian, tercegah jangan sampai membuang-buang makanan. 

Mungkin sulit untuk percaya. Namun Imam Khomeini memakan satu suapan rotinya pakai sendok. Beliau berusaha tidak makan dengan tangan demi menjaga kebersihan. Terkadang mengatakan:

“Aku ingin sekali makan setiap suapan dengan sendok secara terpisah. Sendok yang masuk ke dalam mulut ini, aku tidak suka kembali ke mulutku lagi yang kedua kalinya.

Sendok untuk makan Ab Gushtnya sangat besar. Supaya tidak ada yang tumpah di bibirnya. Pertama meletakkan celemek dan melapisinya dengan plastik. Ketelitiannya dalam kebersihan benar-benar tinggi. Sehingga terkadang kami mengatakan, “Kendi, ember ada tujuh, makan malam dan siang tidak ada sama sekali, ini kisah makannya Anda. Makanan Anda bukan apa-apa. Namun, tashrifat [formalitas] banyak sekali.”

Saya teringat ketika masih kecil. Saya memasukkan roti ke dalam yogurt yang ada di dalam mangkok dan saya makan. Begitu saya mau mencelupkan ke dalam yogurt, jari-jari saya terkena yogurt. Imam Khomeini menepis tangan saya. Saya masih sangat kecil dan kira-kira umur lima atau enam tahun. Beliau tahu saya sedih. Kemudian beliau memasukkan tangan saya ke dalam mulutnya dan berkata:

“Bukannya saya tidak suka pada tanganmu, namun kita harus perhatian ketika berada di tepi hidangan makanan bersama-sama. Ada sendok untuk yogurt.” 

Di semua masa kecil dan remaja saya, saya tidak pernah melihat Imam Khomeini menyakiti seseorang atau makhluk lainnya. Misalnya bila beliau tidur di waktu siang, bila terkadang ada lalat kelihatan di dalam kamar. Beliau tidak akan membunuhnya. Tapi beliau membuka pintu dan mengeluarkan lalat itu satu persatu. Pekerjaan Imam ini terkadang makan waktu yang lama. Pada hakikatnya, semakin makhluk atau manusia itu lemah, maka kelembutan hati Imam Khomeini kepadanya semakin tinggi. Imam Khomeini sangat mencintai kalangan bawah masyarakat. Beliau sangat memperhatikan kondisi mereka. Misalnya bila dikatakan kepada beliau bahwa ada orang lanjut usia atau miskin datang. Pasti beliau sendiri yang membuka tabir di depan pintu gerbang dan menyambutnya. Beliau tidak menampakkan kondisi sebagai pertemuan dengan seorang pemimpin kantor fulan atau sosok sebuah negara.  

Suatu hari seseorang sampai di pertigaan jalan rumah Imam. Dia ingin menemui Imam Khomeini tanpa mendaftar sebelumnya. Meski para pasdaran penjaga memaksanya ia tetap tidak mau pergi dari situ. Pelan-pelan dia mendekatkan dirinya sampai ke depan kantor Imam Khomeini. Akhirnya kabar ini sampai kepada Imam Khomeini bahwa seorang lelaki tua datang dengan caranya sendiri dan dia tidak mau pergi dari sana. Saya menyaksikan sendiri; Imam Khomeini bangkit dan menemuinya ke gang dan menemui lelaki tua itu. Lelaki tua itu dalam keadaan tertidur. Imam Khomeini mendekatinya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah beliau, namun lelaki tua itu tidak menerimanya. Kepadanya Imam Khomeini berkata:

“Apa yang ingin engkau lakukan? Apa yang engkau inginkan dariku?”

Lelaki tua itu menjawab, “Agha! Saya tidak menginginkan apa-apa dari Anda dan saya juga tidak mau masuk. Saya datang hanya ingin menziarahi Anda. Hanya ini saja!” (Emi Nur Hayati) 

Dikutip dari penuturan Fahimeh [Zahra] Mostafavi, anak Imam Khomeini ra.

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh