Penuturan Doktor Fahimeh Mostafavi Tentang Ayahnya, Imam Khomeini ra (9)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i27676-penuturan_doktor_fahimeh_mostafavi_tentang_ayahnya_imam_khomeini_ra_(9)
Kapan Anda tahu bahwa penyakit Imam Khomeini perlu dioperasi?
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Des 07, 2016 16:05 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Kapan Anda tahu bahwa penyakit Imam Khomeini perlu dioperasi?

Sebelum dioperasi, ketika para dokter datang ke rumah ibu, saya juga di sana. Imam Khomeini keluar ke halaman. Sebagaimana biasanya, bila beliau keluar ke halaman, beliau berada di samping tangga dan di depan dapur. Bila ada seseorang, maka beliau berdiri di situ dan berbincang-bincang dengannya, bila tidak ada orang, maka beliau melanjutkan jalan kakinya. Waktu itu beliau datang di samping tangga dan berkata:

“Rencananya saya mau dioperasi?”

Saya berkata, “Anda hanya lemah saja. Kelemahan tidak memerlukan operasi.” Beliau berkata:

“Ya begitulah. Mereka mengatakan demikian.”

Mengingat pada usia beliau dan kelemahannya, anggapan saya kuat, tapi hanya sekedar anggapan. Oleh karena itu saya pergi menemui dokter Pourmoghaddas, saya katakan, “Melihat kondisi beliau dan usianya, bagaimana mungkin beliau harus dioperasi?” Tapi saya tidak mengatakan bahwa saya tidak tahu masalah aslinya. Saya hanya menanyakan tentang operasi beliau. Dia juga menjelaskan, “Bila tidak kita operasi, boleh jadi terjadi pendarahan parah. Dan pendarahan itu sangat membahayakan beliau. Tapi bila beliau kita operasi, maka itu lebih baik.” Dan kesimpulannya, dia menjelaskan bahwa tidak ada jalan lain selain operasi. Tepat pada hari operasi, salah satu dokter datang dan mengatakan, “Kami tidak mengira bahwa lukanya sedemikian rupa.”

Ketika operasi, Anda berada di mana?

Di lobi rumah sakit, ada dipasang tv yang menayangkan ruang operasi dan aktivitas para dokter. Saya juga berada di lobi tersebut duduk di depan  tv dan bapak-bapak juga duduk di sana.

Ahmad Agha, Agha Mousavi Ardabeli, Agha Khamenei, Agha Rafsanjani, Agha Tavasoli, Agha Ashtiyani, Agha Sadoughi; semua bapak-bapak ini dan sejumlah lainnya ada di sana. Dikatakan, “Ibu-ibu tidak boleh berada di sini.” Tapi saya katakan, “Saya tetap di sini.” Karena tujuan saya adalah saya ingin melihat apa yang dilakukan oleh para dokter. Saya ingin memerhatikan, apa yang dilakukan dalam operasi. Itulah mengapa saya duduk di sana. Karena saya sangat perhatian pada masalah utama operasi. Saya bahkan lupa sama sekali apa kejadiannya. Agha Mousavi menangis tersedu-sedu. Agha Khamenei pergi untuk mengerjakan salat. Agha Rafsanjani juga menangis tersedu-sedu, demikian juga bapak-bapak yang duduk di sebelah sana. Saya duduk [di lobi] sejak dimulainya operasi sampai selesai. Pada waktu itu datanglah ibu dan saudari saya [Siddighe Khanum] dan mereka duduk. Beberapa saat kemudian Agha Rafsanjani berkata kepada ibu, “Sebaiknya Anda pergi saja. Apa gunanya duduk di sini, selain hanya membuat Anda sedih.” Ibu mengatakan, “Baiklah.” Dan ibu pergi dari sana. Tapi Agha Rafsanjani menyaksikan saya tidak bangkit dari situ. Dia melihat ke arah saya dan berkata, “Anda juga sebaiknya pergi bersama ibu ke dalam.” Saya menjawab, “Tidak. Saya tetap di sini saja bersama Anda.” Dia berkata kepada ibu, “Anda bawa juga dia, karena akan sedih.” Saya katakan, saya tidak akan bersedih dan saya ingin memerhatikan.” Dia juga tidak mengatakan apa-apa lagi. Tujuan saya hanya ingin tahu bagaimana sih operasi itu. Saya benar-benar penasaran. Karena saya betul-betul memerhatikan kondisi di dalam ruangan operasi dan hal-hal yang berkaitan dengan operasi. Akhirnya bagi saya terselesaikan. Di samping itu saya juga melihat bagaimana perut dibedah dan memotong hal-hal tertentu dan menyisihkannya. Kemudian saya menyaksikan bagaimana memasukkan tangan ke dalam perut. Setelah operasi selesai, saya keluar.

Setelah operasi, apakah para dokter merasa puas dengan operasinya?

Para dokter tidak begitu menunjukkan kesedihan. Tentunya dokter Fazel yang menuntaskan operasi, menunjukkan kegembiraannya, “Operasi telah dilakukan dengan sukses.” Dan setelah Imam Khomeini siuman, kondisi beliau juga baik. Tentunya untuk kembali siuman, membutuhkan waktu yang sangat lama. Sehingga membuat kita khawatir. Tapi dikatakan, “Ini alami. Tidak masalah.” Kemudian ketika kami menjumpai beliau, Imam Khomeini tidak menunjukkan rasa sedih dan sakit.

Tentunya tergantung pada bagaimana kita bertanya kepada beliau. Bila kita bertanya, “Bagaimana keadaan Anda? Beliau menjawab:

“Baik. Tidak buruk.”

Atau menjawab dengan model lain. Tapi bila kita bertanya, “Anda merasakan sakit?” Karena beliau tidak pernah berbohong, beliau selalu menjawab:

“Aku merasakan sakit.”

Saya setiap kali bertanya, apakah Anda merasakan sakit ataukah tidak. Beliau mengatakan:

“Seluruh tubuhku rasanya sakit.”

Saya kebanyakan berada di sisi Imam Khomeini. Khususnya ketika tidak enak badan. Wajar, ketika dokter menyuntiknya, beliau merasakan sakit sehingga bergerak, sebagaimana yang lainnya. Namun saya tidak pernah melihat kondisi beliau berubah. Beliau senantiasa tetap berzikir; pelan tanpa ada suara yang terdengar. Salah satu dokter mengatakan, “Ketika saya melakukan sesuatu pada beliau, dan beliau benar-benar merasakan rasa sakit, saya melihat ke wajahnya untuk mengetahui bagaimana reaksinya. Saya melihat wajah Imam Khomeini begitu tenang seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Saya berpikir, seandainya waktu itu saya menusukkan sebuah batang besi ke dalam tubuhnya, maka tidak akan tampak ada perubahan pada lahiriah beliau.”

Dalam pembicaraannya, dokter mengatakan, “Saya yakin bahwa pada saat-saat tertentu Imam Khomeini mengalami sebuah hubungan dan pisah dari alam materi. Berkali-kali saya menyaksikan ketika beliau benar-benar sakit, keringat keluar dari dahinya, namun tidak sedikitpun alis beliau mengerut.”

Selama Imam Khomeini berada di rumah sakit, apa saja yang Anda lakukan?

Kami sering berada di rumah beliau dan rumah sakit. Khususnya saya, karena saya yang bertanggung jawab membuatkan makanannya. Saya selalu di sana. Para saudara perempuan dan para keponakan juga berada di sana. Mengingat saya tahu makanan apa saja yang disukai oleh Imam Khomeini, juga sedikit asinan dan lain sebagainya, biasanya saya yang menyiapkannya. Sejak tahun 1358 HS ketika beliau dibawa ke rumah sakit jantung, saya juga yang membuatkan makanannya dan membawanya untuk beliau. Kali ini untuk urusan membuat makanannya menjadi tanggung jawab saya. Biasanya Laili [putri saya] dan satu orang lainnya yang membawa makanan ke rumah sakit. Atau bila saya tidak ada, maka saya serahkan kepada Farideh Khanum [saudari] atau Fathimah Khanum [istri Ahmad Agha] atau Fereshteh [keponakan, anak saudari]. Dokter mengatakan, Imam Khomeini harus diberi makan sehari lima kali. Dan setiap kali makan, sedikit saja tapi bergizi. Karena ketika operasi, sekitar dua pertiga dari pencernaannya diambil. Kami juga biasanya ketika sarapan, memberinya teh dan yang lainnya dalam kadar sedikit. Sama sekali tidak bisa dipercaya karena saking sedikitnya [kadar makanan yang harus diberikan]. Pada hari terakhir, ketika saya menemui beliau dan membawa teh, saya katakan, “Agha, Anda mau minum teh?” Beliau berkata:

“Ini adalah tanggunganku. Kasih saja dan bebaskan aku.”

Kemudian saya mendudukannya dan beliau makan dua suap roti; masing-masing berukuran satu sendok teh dan saya letakkan di atasnya sedikit keju. Roti manis yang saya berikan kepada beliau. Kemudian beliau minum secangkir teh. Selama itu, saya juga membuat sedikit daging dengan yang lainnya seperti adasi [kacang lentil] dan sayuran. Kemudian saya menghaluskannya dan memberikan kepada beliau dalam bentuk bubur. Terkadang di pertengahan hari, kami memberikan buah kaleng dan semacamnya. (Emi Nur Hayati) 

Dikutip dari penuturan Fahimeh [Zahra] Mostafavi, anak Imam Khomeini ra.

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh