Penuturan Doktor Fahimeh Mostafavi Tentang Ayahnya, Imam Khomeini ra (10)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i28498-penuturan_doktor_fahimeh_mostafavi_tentang_ayahnya_imam_khomeini_ra_(10)
Bagaimana Anda tahu tentang proses sakitnya Imam Khomeini?
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Des 18, 2016 08:10 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini ra
    Imam Khomeini ra

Bagaimana Anda tahu tentang proses sakitnya Imam Khomeini?

Selain saya sendiri mengetahui kondisi lahiriah yang ada, atau karena mendengar, saya juga rajin menanyakan secara terpisah kepada para dokter. Saya juga berpesan kepada Ahmad Agha bahwa sebagai seorang putri, saya berhak untuk mengetahui kondisi Imam Khomeini secara detil. Dia juga berkata, “Tidak masalah.” Itulah mengapa setiap saya ada, selalu diberitahu tentang apa yang terjadi. Bila saya tidak ada, maka setiap hari dia menelpon saya dan menceritakan kondisi Imam Khomeini. Tentunya terkadang dia juga mengatakan, jangan sampai saya menyampaikan ke ibu atau saudari yang lain, karena khawatir mereka tidak tahan. Boleh jadi mereka juga akan menunjukkan kesedihannya. Tentunya pada hari Jumat terakhir, Ahmad Agha mengumpulkan ibu, para saudara perempuan dan anak-anak perempuan dan berbicara tentang sakitnya Imam Khomeini. Karena saya tahu, saya tidak hadir.

Mohon jelaskan juga tentang hari terakhir, yakni hari Sabtu 13 Khordad!

Hari itu pagi-pagi sekali saya menemui Imam Khomeini dan menyiapkan sarapan untuk beliau [sebagaimana sudah pernah saya ceritakan]. Tapi di akhir sarapan beliau batuk-batuk dan keluarlah apa yang sudah dimakannya. Keluarlah cairan hijau kental mengenai baju beliau dan segera dibersihkan. Kemudian saya pergi. Sekitar pukul sepuluh pagi, dikabarkan bahwa kondisi beliau tidak baik. Tapi beliau dalam keadaan sadar dan berbicara. Setelah Zuhur beliau berkata:

“Sampaikan, bapak Ashtiyani dan Tavassoli hendaknya datang [ke sini].”

Saya katakan kepada sebagian orang untuk pergi [mencari mereka]. Setelah agak lama, Imam Khomeini kembali berkata kepada saya:

“Sampaikan, bapak Ashtiyani dan Tavassoli hendaknya datang [ke sini].”

Saya akhirnya protes, “Mengapa kalian tidak pergi mencari mereka? Kemudian ada yang datang dan mengatakan, “Bapak Tavassoli tidak ada.” Imam Khomeini berkata:

“Kalau begitu bapak Anshari dan Ashtiyani saja yang datang [ke sini].”

Imam Khomeini menghadap ke saya dan dengan serius berkata:

“Aku sedang menjadikanmu sebagai saksi, sampaikan agar diumumkan.”

Kali berikutnya beliau juga mengulangi lagi kata-kata ini. Maksudnya adalah masalah syar’i yang telah disampaikan kepada Agha Ashtiyani dan Anshari. Salah satu dari masalah itu adalah terkait wudhu sebelum waktu [salat] dan yang lainnya terkait masalah bilad kabirah [negeri besar]. Sebelum beliau pergi ke rumah sakit, saya bertanya kepada beliau, “Apa pendapat Anda tentang wudhu sebelum waktunya [salat]? Beliau berkata:

“Saya meyakini bahwa berwudhu dengan niat apa saja sebelum waktunya [salat], ia bisa [digunakan untuk] melakukan shalat.”

Saya katakan, “Anda tahu bahwa sebagian bapak-bapak pendapatnya tidak demikian. Mereka tidak mengizinkan mengerjakan salat lain dengan wudhu yang telah dipakai untuk salat atau pekerjaan tertentu.” Beliau berkata:

“Saya menilai boleh berwudhu, baik itu ditekankan untuk salat, atau sebelum waktunya salat, atau untuk pekerjaan yang lain.”

Di rumah sakit, selain menjelaskan masalah wudhu sebelum waktunya, juga menjelaskan tentang masalah kedua yang berkaitan dengan negeri besar. Tentunya ucapan Imam Khomeini sangat sulit untuk dipahami. Karena selain suaranya yang sangat pelan, beliau juga berbicara dengan memakai masker oksigen. Kalimat pertama yang beliau sampaikan adalah sebegai berikut:

“Bila di sebuah kota sedemikian begitu besar, sehingga dari satu sisi matahari terbit dan di sisi lain matahari tenggelam.”

Dan suara beliau begitu pelan sehigga kami tidak mampu mendengarkan apa-apa. Meski untuk Agha Ashtiyani hanya sebagai pengulangan. Itupun bagian akhirnya tidak jelas. Agha Ashtiyani hanya mengatakan, “Ok...Ok...! kemudian Imam Khomeini berkata:

“Saya tidak lagi ada urusan dengan Anda!”

Dan pergilah Agha Ashtiyani.

Sekitar pukul satu siang, Imam Khomeini memanggil semua keluarga dan berkata:

“Sampaikan kepada ahli bait [keluarga] agar datang.”

Saya baru pertama kali mendengar kata ahli bait dari beliau tentang keluarganya. Khususnya kepada saya beliau berkata:

“Engkau juga harus ada dan sampaikan, hendaknya ibu datang dan sampaikan juga yang lain juga hendaknya datang.”

Kami menjalankan perintahnya dan ibu pun datang dan saudari-saudari yang lain juga datang. Kami mengelilingi tempat tidur Imam. Setelah menyampaikan beberapa kata tentang masalah syariat, beliau berkata:

“Jalan ini adalah jalan yang sangat sulit dan benar-benar sulit. Jagalah jalan kalian, perbuatan kalian dan ucapan kalian.”

Kemudian berkata:

“Saya tidak lagi ada urusan dengan kalian. Matikan lampu. Bila masing-masing kalian ingin tetap [di sini], tetaplah. Bila ingin pergi, pergilah!”

Begitu kami mematikan lampu, beliau menutup matanya. Itupun beliau tidak akan bangun kembali dan pada hakikatnya beliau pingsan dan tidak akan sadar lagi. Setelah satu jam, beliau dibangunkan dengan alat shock sehingga jangan sampai beliau meninggal dunia.

Apakah Anda keluar dari rumah sakit?

Tentunya saya selalu keluar masuk rumah sakit. Sesaat ke rumahnya ibu dan kemudian kembali lagi ke rumah sakit. Di pertengahan saat saya di rumah ibu, saya melihat saudari saya [Farideh Khanum] dengan salah satu anak-anak perempuan, [saya lupa siapa dia di antara mereka] datang dari rumah sakit dan dalam keadaan sangat sedih berkata, “Mereka mau kembali mengoperasi Imam!” Kelihatannya mereka mau membawa beliau ke ruang operasi dan alat untuk jantung sudah disiapkan. Pembicaraan ini menyebabkan keributan dan ibu benar-benar marah. Karena ibu tidak tahu kondisi Imam Khomeini secara detil, betapa kondisi beliau sangat parah. Ibu langsung memaki cadur dan sandalnya dan dengan tergopoh-gopoh menuju rumah sakit. Karena kondisi ibu sendiri, membuat saya harus mendampinginya dan saya bersama beliau masuk ke rumah sakit. Di lobi rumah sakit, bapak-bapak sedang duduk dan para dokter juga ada di sana. Meski ibu yang tidak bisa berbicara dengan orang lelaki, dengan sedih beliau berkata, “Biarkan! Lepaskan. Mengapa kalian begitu mengganggu lelaki tua ini. Apa sih urusan kalian? Biarkan dia pada kondisinya. Demi Allah, dia sudah tidak punya kekuatan, sehingga harus kalian operasi. Demi Allah, dia tidak kuat.” Sehingga membuat semua orang khawatir dan maju. Karena sebelumnya mereka tidak melihat ibu seperti ini.

Dokter Arefi maju dan berkata, “Ibu! Imam Khomeini keadaannya baik. Tidak ada orang yang ingin mengoperasinya. Tidak ada pembicaraan operasi. Silahkan! Temui beliau. Beliau kondisinya baik.” Dan dia mengarahkan ibu ke untuk mendekati Imam Khomeini. Kemudian [Agha Arefi] berkata kepada saya, “Sini, saya ingin bicara dengan Anda.” Dia berkata, “Karena ibu tidak tahu tentang keadaan Imam Khomeini, bila Anda menganggap baik, maka hari ini saya akan menyampaikan tentang sakitnya Imam kepada ibu, supaya beliau tahu tentang sakitnya Imam. Sehingga beliau tidak akan sedih bahwa kita akan melakukan sesuatu untuk Imam.” Saya katakan, “Bagaimanapun juga beliau harus tahu. Iya. Beliau seharusnya sejak awal diberitahu.” Itulah mengapa ketika ibu keluar dari kamar Imam, dokter Arefi mengajaknya ke tepian dan duduk di kursi dan menjelaskan masalahnya pada ibu. Ketika dokter menjelaskan penyakitnya Imam Khomeini kepada ibu, seakan-akan bagi ibu, segalanya telah selesai dan tampak pada sikap-sikapnya bahwa beliau menyerah. Beliau tidak lagi berbicara apa-apa. Beliau bangkit dengan tenang dari lobi rumah sakit dan masuk ke dalam kamar [Imam Khomeini] dan kemudian pergi. (Emi Nur Hayati) 

Dikutip dari penuturan Fahimeh [Zahra] Mostafavi, anak Imam Khomeini ra.

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh