Daras Akhlak Ayatullah Sayid Ali Khamenei: Manusia Paling Lalai
https://parstoday.ir/id/news/iran-i36204-daras_akhlak_ayatullah_sayid_ali_khamenei_manusia_paling_lalai
Ayatullah Sayid Ali Khamenei sebagaimana ulama lainnya dalam kuliah Fiqih dan Ushul Fiqihnya dalam sepekan mengkhususkan sehari untuk menyampaikan syarah atas hadis-hadis akhlak yang berkaitan dengan masyarakat. Sumber hadis berasal dari buku as-Syafi fi al-'Aqaid, al-Akhlaq wa al-Ahkam dan al-Amali. Kali ini beliau berbicara tentang "Manusia Paling Lalai".
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Apr 18, 2017 06:31 Asia/Jakarta
  • Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei
    Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei

Ayatullah Sayid Ali Khamenei sebagaimana ulama lainnya dalam kuliah Fiqih dan Ushul Fiqihnya dalam sepekan mengkhususkan sehari untuk menyampaikan syarah atas hadis-hadis akhlak yang berkaitan dengan masyarakat. Sumber hadis berasal dari buku as-Syafi fi al-'Aqaid, al-Akhlaq wa al-Ahkam dan al-Amali. Kali ini beliau berbicara tentang "Manusia Paling Lalai".

Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei

Manusia yang paling lalai adalah orang yang tidak mau mengambil pelajaran dari perubahan yang terjadi di alam secara umum dan di antara manusia pada khususnya. Ini manusia yang lalai. Karena dunia ini penuh dengan pelajaran.

وَ سَکَنتُم فی مَسَاکِنِ الَّذِینَ ظَلَمُوا أَنفُسَهُم 

Bagian dari ayat 45 surat Ibrahim ini memperingatkan siapa saja yang menduduki jabatan atau kekuasaan bahwa di sini ketika Anda menjabat, sebelumnya telah ada orang lain yang mengisinya dan kini telah pergi dan Anda yang datang. Ini perubahan kondisi.

Manusia harus mengambil pelajaran dari perubahan dalam perjalanan sejarah manusia, bagaimana ada yang naik dan ada yang turun di dunia ini. Pelajaran sendiri memiliki model dan macam. Yakni, bukan saja manusia merasa bahwa nikmat ini akan hilang, ini hanya satu bagian dari pelajaran, bila saya dan kalian hari ini memiliki nikmat, mereka yang hidup sebelum kita juga memiliki nikmat ini dan nikmat itu telah diambil dari mereka.

Demikianlah dunia. Nikmat ini mungkin akan diambil dari saya dan kalian. Jangan membayangkannya abadi. Jangan membayangkannya sudah ditandatangani, dijamin dan pasti. Nikmat ini harus dijaga dengan mensyukuri Allah dan melaksanakan kewajiban.