Mengenal Watak Asli Amerika
Kesepakatan nuklir atau Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) tidak lahir atas dasar kepercayaan, dan Republik Islam Iran juga tidak mempercayai Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, mengatakan hal itu pada Rabu (27/9/2017) dalam wawancara dengan presenter terkenal Amerika, Charlie Rose di Asia Society di New York. Zarif menandaskan, "AS dengan mengumumkan keputusannya terkait JCPOA, harus menunjukkan kepada masyarakat dunia apakah Washington dapat dipercaya atau tidak."
Menlu Iran menegaskan bahwa ia akan membuat keputusan yang diperlukan dalam hal penarikan diri AS dari kesepakatan nuklir.
Presiden AS Donald Trump menggambarkan kesepakatan nuklir Iran dengan Kelompok 5+1 sebagai hal yang memalukan bagi Amerika selama pidatonya di Majelis Umum PBB.
Padahal, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sudah tujuh kali memverifikasi kepatuhan Iran terhadap JCPOA, dan para pejabat Washington sendiri juga mengakui komitmen Republik Islam.
Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Joseph Dunford, dalam sidang dengar pendapat dengan Komite Angkatan Bersenjata Senat pada Selasa lalu, mengatakan, "Komitmen kita terhadap kesepakatan yang telah kita tandatangani akan mempengaruhi kesediaan pihak lain untuk menandatangani kesepakatan dengan AS."
Pejabat militer Amerika ini menuturkan, komunitas intelijen AS percaya bahwa Iran berkomitmen dengan JCPOA.
Trump dalam waktu singkat telah memperlihatkan kepada dunia bahwa jika mereka ingin membuat sebuah keputusan atau melaksanakan sebuah kesepakatan, mereka tidak seharusnya memperhitungkan kata-kata AS. Kini, bukan hanya Iran yang berbicara tentang sikap inkonsistensi AS, tapi banyak negara juga merasakan hal yang sama.
Sikap ingkar janji ini sudah tampak jelas bagi banyak negara, seperti penolakan AS untuk melaksanakan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), penarikan diri mereka dari perjanjian iklim Paris, sampai pelanggaran ratusan janji dan kesepakatan lain bahkan dengan penduduk asli Amerika.
Seorang intelektual Amerika, Noam Chomsky dalam wawancara dengan situs Human Rights Watch AS, mengatakan, "… banyak orang sudah capek dengan janji-janji para pejabat Amerika… rasa percaya masyarakat terhadap sistem pemerintahan telah runtuh."
Hasil sebuah survei yang dilakukan University of Maryland pada 2016 menunjukkan bahwa masyarakat Iran sejak awal tidak optimis tentang kepatuhan AS terhadap kesepakatan nuklir. Dalam survei ini, sekitar 62 persen dari masyarakat Iran berpendapat bahwa mereka "tidak begitu" atau "sama sekali" tidak percaya bahwa AS akan memenuhi janjinya.
Menurut menlu Iran, apa yang penting bagi masyarakat internasional adalah bisa mengandalkan kata-kata AS sebagai mitra negosiasi.
"Jika dunia tidak dapat mengandalkan kata-kata AS sebagai mitra negosiasi, maka tidak ada yang akan bernegosiasi dengan Washington, sebab mereka tahu bahwa AS pada akhirnya akan menggunakan ungkapan terkenal ini, 'Apa yang menjadi milik saya adalah milik saya, tapi apa yang menjadi milik Anda bisa dirundingkan,'" tegasnya. (RM)