JCPOA dan Reaksi Menlu Iran terhadap AS
Statemen terbaru Presiden AS, Donald Trump mengenai kesepakatan nuklir Iran menunjukkan bahwa Trump sedang mempermasalahkan komitmen Tehran terhadap JCPOA. Padahal negara-negara Eropa, bahkan sebagian pejabat senior AS sendiri menegaskan dukungan mereka terhadap kesepakatan nuklir antara Iran dan kelompok 5+1.
Masalah tersebut memicu reaksi keras dari berbagai kalangan, termasuk Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif. Dalam wawancara dengan koran The Guardian dan Financial Times, Zarif menyinggung sikap Donald Trump yang berambisi mewujudkan ancamannya terhadap Tehran, dan menegaskan Iran tidak berkomitmen terhadap JCPOA dalam laporan kementerian luar negeri AS ke Kongres yang akan disampaikan pada 15 Oktober 2017.
Menlu Iran dalam wawancara tersebut menyerukan supaya negara-negara Eropa mengabaikan sikap AS, jika pemerintahan Donald Trump membatalkan kesepakatan nuklir internasional dengan Iran. Zarif mengingatkan, "Jika Eropa mengamini Washington dalam hal ini, maka kesepakatan nuklir akan hancur, dan Iran akan tampil dengan teknologi nuklir yang lebih canggih dari sebelumnya, yaitu sebelum kesepakatan nuklir tahun 2015.
Apabila Trump tidak mengakui komitmen Iran terhadap JCPOA dalam laporan yang disampaikan ke Kongres AS pada 15 Oktober 2017, maka Kongres memiliki waktu selama 60 hari untuk menjatuhkan kembali sanksi yang telah diterapkan sebelumnya terhadap Iran.
Tapi, sebagaimana disinggung Zarif, jika Trump benar-benar mewujudkan ancamannya, maka Iran sudah tidak memiliki kewajiban untuk menjalankan komitmennya. Ketika Trump merusak kesepakatan nuklir JCPOA, Tehran bisa mengambil berbagai aksi balasan sebagai reaksinya, termasuk aksi tercepat Iran untuk mengembalikan aktivitas nuklir damainya ke era sebelum JCPOA. Tehran sudah memprediksi opsi keluar dari kesepakatan tersebut.
Selain itu, Iran juga memiliki opsi lain yang berkaitan dengan negara-negara anggota kelompok 5+1. Menurut menlu Iran, jika negara-negara Eropa, Rusia dan Cina mengamini AS dengan keluar dari kesepakatan nuklir yang telah dicapai, maka JCPOA akan berakhir umurnya.
Dengan mempertimbangkan sikap negara-negara Eropa, Rusia dan Cina yang menegaskan komitmen mereka terhadap JCPOA, tampaknya AS akan berjalan sendirian. Oleh karena itu, mantan presiden AS, John Kerry dalam tulisannya yang dimuat di Washington Post menulis, "Jika AS keluar dari JCPOA, maka Washington akan kehilangan mitra Eropa, sekaligus mengirimkan pesan kepada dunia bahwa AS tidak menjalankan komitmennya."
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini juga menegaskan bahwa Iran selama ini senantiasa berkomitmen terhadap JCPOA. Ditegaskannya, "Eropa akan mengambil tindakan yang diperlukan demi menjaga kesepakatan nuklir, bahkan apabila AS keluar dari kesepakatan internasionalnya".
Satu-satunya sumber acuan mengenai komitmen Iran dalam kerangka JCPOA adalah IAEA yang telah mengeluarkan tujuh laporannya mengenai masalah tersebut. Seluruhnya menunjukkan tidak adanya penyimpangan yang dilakukan Iran dalam masalah JCPOA. Dengan demikian, motif pribadi Trump mengenai masalah komitmen Iran terhadap JCPOA hanya akan membuat wajah AS semakin tercoreng di tingkat internasional, dan kian terbukti bahwa pihak AS-lah yang sebenarnya tidak berkomitmen terhadap kesepakatan nuklir yang telah ditandatanganinya itu.