Mimpi AS Membatasi Program Rudal Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i45521-mimpi_as_membatasi_program_rudal_iran
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, menekankan Republik Islam tidak akan pernah menerima pembatasan kemampuan rudal dan pertahanannya oleh negara-negara Barat.
(last modified 2026-04-05T23:44:38+00:00 )
Okt 07, 2017 12:54 Asia/Jakarta

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, menekankan Republik Islam tidak akan pernah menerima pembatasan kemampuan rudal dan pertahanannya oleh negara-negara Barat.

Zarif dalam wawancara dengan majalah Newsweek Amerika, Jumat (6/10/2017), menegaskan perlunya untuk mempertahankan kemampuan rudal dan pertahanan Republik Islam Iran.

"Rudal balistik Iran tidak dirancang untuk membawa senjata nuklir, dan uji coba rudal juga tidak melanggar semangat Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan tes ini murni defensif," ujarnya.

Di hari yang sama, kantor berita Reuters mengklaim bahwa Iran siap untuk merundingkan program misilnya. Menanggapi klaim ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qasemi membantah laporan tendensius Reuters bahwa Tehran akan membahas program rudalnya.

Membatasi program rudal Iran selalu menjadi tujuan Amerika, dan pemerintahan Donald Trump melakukan banyak upaya untuk mencapai tujuan ini lewat berbagai skenario.

Juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders mengatakan pada hari Jumat bahwa Trump akan segera mengumumkan tanggapan baru Amerika terhadap uji coba rudal Iran.

AS mengklaim bahwa uji coba rudal Iran melanggar semangat kesepakatan nuklir. Berdasarkan resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB yang mengesahkan JCPOA, Republik Islam Iran dilarang untuk menguji rudal balistik yang mampu membawa hulu ledak nuklir.

Para pejabat Tehran berulang kali menekankan, rudal balistik Iran tidak dirancang untuk membawa hulu ledak nuklir. Fatwa yang dikeluarkan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah Sayid Ali Khamenei, menegaskan bahwa senjata non-konvensional ini tidak punya tempat dalam doktrin militer-pertahanan Iran.

Dengan mempertimbangkan prinsip penting ini, JCPOA sama sekali tidak membatasi program rudal Iran, dan kesepakatan ini bahkan tidak menyebutkan bahwa Tehran harus merundingkan kemampuan misilnya.

Dalam kondisi seperti ini, upaya Washington untuk menegosiasikan program rudal Tehran dan memberlakukan pembatasan di sektor ini, dapat dianggap sebagai bentuk arogansi dan usaha untuk melucuti Iran dari kekuatan yang meyakinkan ini.

Meningkatkan kemampuan defensif adalah penting bagi setiap negara dengan tujuan untuk menghadapi ancaman, dan dalam konteks ini, tidak terkecuali Iran.

Iran tidak akan pernah membiarkan pihak lain membuat keputusan tentang kemampuan defensifnya dan ancaman Trump untuk menghancurkan JCPOA, juga tidak akan membuat Tehran tunduk pada permainan ini.

Kebijakan Republik Islam di bidang program rudal sepenuhnya rasional dan berprinsip, dan negara yang mencoba untuk membatasi unsur vital dari kekuatan pertahanan Iran, adalah sedang mengambil tindakan destruktif untuk mengakhiri kesepakatan nuklir.

Dalam hal ini, majalah Financial Times menulis, "Pemerintahan Trump sedang mencari cara untuk merevisi JCPOA dengan tujuan mengintensifkan tekanan terhadap Iran."

Terlepas dari bagaimana keputusan Trump tentang nasib JCPOA pada 15 Oktober mendatang, Iran telah mempersiapkan diri untuk menghadapi opsi apapun.

Zarif kepada Newsweek, mengatakan bahwa Iran memiliki banyak opsi berdasarkan hukum internasional dan kesepakatan nuklir, dan mereka bisa diakses kapan saja untuk merespon keluarnya AS dari JCPOA. (RM)