Petinggi Pasdaran Iran Ungkap Hubungan Saudi dengan Amerika-Zionis
https://parstoday.ir/id/news/iran-i47299-petinggi_pasdaran_iran_ungkap_hubungan_saudi_dengan_amerika_zionis
Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran), Brigadir Jenderal Hossein Salami mengatakan, AS mengejar misi untuk mengobarkan perpecahan di dunia Islam, mengalihkan perhatian dunia Islam dari rezim Zionis dan mencegah pengaruh regional Republik Islam.
(last modified 2026-03-11T19:12:53+00:00 )
Nov 26, 2017 13:57 Asia/Jakarta
  • Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran), Brigadir Jenderal Hossein Salami.
    Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran), Brigadir Jenderal Hossein Salami.

Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran), Brigadir Jenderal Hossein Salami mengatakan, AS mengejar misi untuk mengobarkan perpecahan di dunia Islam, mengalihkan perhatian dunia Islam dari rezim Zionis dan mencegah pengaruh regional Republik Islam.

Hadir dalam program Negah-e Yek di TV-1 IRIB, Sabtu (25/11/2017) malam, Brigjend Salami menyinggung kekalahan historis kelompok teroris Daesh di Suriah dan Irak, dan menilai kekalahan Daesh sebagai sebuah kebanggaan bagi sejarah Islam.

"Kelompok-kelompok takfiri dan para pemimpin mereka berniat untuk memberikan pukulan keras kepada umat Islam dan mengesankan Islam sebagai agama kekerasan kepada dunia," tambahnya.

Brigjend Salami menerangkan, AS dan beberapa negara lain dengan mendukung kelompok Daesh, ingin menciptakan perpecahan dan memperlemah negara-negara di kawasan demi kepentingan rezim Zionis Israel. Namun, lanjutnya, kekalahan Daesh telah menggagalkan konspirasi mereka.

"Beberapa negara regional menyediakan dukungan finansial dan melengkapi Daesh dengan berbagai jenis senjata serta memperluas zona konflik di Suriah," jelasnya.

Para pendukung Daesh, kata Brigjend Salami, berpikir bahwa mereka dapat menggulingkan sistem politik Suriah dalam setahun, namun mereka gagal berkat kewaspadaan poros perlawanan.

"Logika Republik Islam Iran adalah bahwa perubahan politik dan pemerintah harus dilakukan oleh masyarakat setempat dan dalam sebuah proses demokrasi. Mempersenjatai kelompok bersenjata dan menciptakan perang sipil di suatu negara, bukanlah solusi bagi perubahan sistem politik," tegasnya.

Menurut Brigjend Salami, semua yang kita lihat sebagai konflik berdarah di dunia Islam, baik di Lebanon, Suriah atau di Bahrain, Irak dan Yaman, adalah hasil dari kejahatan keji, tidak manusiawi, dan kebengisan sebuah rezim, yang ingin memperoleh kredibilitas di dunia Islam dengan uang minyak dan mengandalkan kekuatan politik dan militer AS.

"Bahaya Daesh sangat serius. Jika domino kemenangan Daesh dan kejatuhan kota-kota terus berlanjut, maka bencana besar kemanusiaan akan terjadi tidak hanya di Irak dan Suriah, tapi juga di bagian penting lainnya dari dunia Islam dan wilayah lain," kata wakil komandan Pasdaran ini.

Dia menandaskan bahwa rezim Al Saud dan pemikiran Wahabi diciptakan oleh Inggris. Jadi, para pejabat Saudi memandang AS dan hubungan dengan Israel sebagai tumpuan kelangsungan hidupnya.

Padahal, lanjutnya, rezim Al Saud meminta Israel untuk menindak Hizbullah Lebanon, tapi para pejabat Tel Aviv mengetahui bahwa perang akan menghancurkan mereka, dan menolak permintaan Arab Saudi.

"Hizbullah sekarang sangat kuat dengan ratusan ribu tentara yang berperang di Suriah dan Irak. Jumlah rudal mereka puluhan kali lebih banyak ketimbang saat perang 33 hari, dimana rezim Zionis tidak berpikir untuk menyerang Lebanon, tapi Saudi tidak memahami ini," pungkasnya. (RM)