Konferensi Internasional Persatuan Islam Mendukung Intifada Baru Palestina
Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-31 di Tehran mengeluarkan deklarasi 26 butir dan berulang kali menekankan pengokohan persatuan Islam untuk menghadapi konspirasi musuh, termasuk konspirasi baru anti Baitul Maqdis.
Konferensi Internasional Persatuan Islam yang dimulai sejak hari Selasa (5/12), berakhir pada Kamis (7/12). Pernyataan akhir konferensi tersebut mengutip dua hal penting. Pertama, mengingat kemampuan dunia Islam, kebangkitan peradaban Islam sangat penting bagi keselamatan umat manusia dari penderitaan. Kedua, mengacu pada tindakan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat yang anti al-Quds. Para peserta Konferensi Internasional Persatuan Islam menekankan perlunya untuk menghadapi kebijakan baru AS yang berusaha meyahudisasi al-Quds dan menguasai tempat-tempat suci umat Islam. Oleh karena itu, dunia Islam membutuhkan Intifadah Palestina baru untuk dalam menghadapi plot baru anti-Quds.
Bersamaan dengan hancurnya konspirasi terorisme Takfiri Daesh (ISIS) di Suriah dan Irak, musuh-musuh dunia Islam mulai menggelar konspirasi barunya. Tujuan dari konspirasi ini tidak lain untuk menjamin keamanan rezim Zionis Israel di balik bayang-bayang sejumlah negara Arab yang ingin melakukan normalisasi hubungannya.
Presiden Amerika pada akhirnya hari Rabu (6/12) malam menyebut Baitul Maqdis yang diduduki sebagai ibukota rezim Zionis Israel, sekaligus memerintahkan agar segera dilakukan upaya-upaya awal bagi pemindahan kedutaan besar Amerika dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis.
Sekalipun keputusan Trump soal al-Quds tidak akan mengubah kenyataan sejarah dan identitas kota Baitul Maqdis, tapi langkah yang dilakukannya itu sesuai dengan kebijakan sebagian negara-negara Arab yang sejalan dengan Zionis Israel. Artinya, kebijakan sebagian negara-negara Arab, termasuk Arab Saudi dalam upaya menormalisasikan hubungan dengan Zionis Israel mendorong pemerintah Trump untuk memperkenalkan al-Quds sebagai ibukota rezim Zionis Israel.
Sekaitan hal ini, Wakil Menteri Luar Negeri Suriah, Faisal Mekdad mengatakan, sikap negara-negara Arab Teluk Persia sejalan dengan konspirasi anti-Palestina menjadi faktor utama yang mendorong pemerintah Trump memindahkan Kedubesnya ke al-Quds.
Langkah terbaru pemerintah Amerika anti-Quds tentu saja sangat membutuhkan kecerdasarn dan kewaspadaan dunia Islam. Persatuan umat dan pemerintah Islam sejatinya merupakan kapasitas luar biasa yang bila terwujudkan, tidak akan ada konspirasi yang dapat terwujudkan di negara-negara Islam.
Dukungan para peserta Konferensi Internasional Persatuan Islam di Tehran atas Intifada Palestina baru menghadapi penistaan terhadap al-Quds menunjukkan "persatuan" akan cita-cita bangsa Palestina dan kesadaran akan konspirasi baru yang sedang diterapkan di dunia Islam. Dengan berakhirnya Daesh di Suriah dan Irak, kini masalah al-Quds dan Palestina menjadi problem terbesar dunia Islam.
Negara-negara Islam dengan terus menindaklanjuti transformasi Palestina dan memanfaatkan beragam kapasitas yang dimilikinya dapat memusnahkan konspirasi baru anti-Quds sejak awal. tidak ada negara atau presiden yang dapat memutuskan nasib dan masa depan kota al-Quds. Karena hanya sejarah dan kehendak pendukung cita-cita Palestina yang dapat menentukan nasib kota ini. Dukungan atas Intifada Palestina baru guna melindungi kota bersejarah Baitul Maqdis menjadi harapan pendukung cita-cita Palestina.
Sekaitan dengan hal ini, bangsa Palestina telah menyatakan kesiapannya untuk memulai Intifada baru demi membebaskan al-Quds. Pengalaman membuktikan "Muqawama" satu-satunya jalan yang dapat menyelamatkan Palestina dan menggagalkan segala bentuk konspirasi. Ismail Haniyah, Kepala Biro Politik Hamas menegaskan, "Hanya dengan Intifada baru kita menghadapi politik Israel yang didukung Amerika dan bangsa Palestina akan bergerak dalam kerangka Intifada baru."