Rencana Kunjungan Presiden Perancis ke Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i48721-rencana_kunjungan_presiden_perancis_ke_iran
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qasemi mengatakan Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Yves Le Drian akan melakukan perjalanan ke Iran pada awal tahun 2018.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Des 26, 2017 12:54 Asia/Jakarta

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qasemi mengatakan Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Yves Le Drian akan melakukan perjalanan ke Iran pada awal tahun 2018.

Le Drian mengabarkan pada November lalu bahwa dia akan pergi ke Iran untuk mempersiapkan kunjungan Presiden Emmanuel Macron.

"Saya yakin perjalanan menlu Perancis ke Tehran adalah kesempatan bagus bagi Paris untuk memahami realitas Iran, posisinya di Timur Tengah dan situasi sekarang di wilayah ini. Ini juga merupakan peluang untuk mengatasi kekhawatiran Perancis yang bersumber dari propaganda musuh-musuh Iran, terutama Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel," ujar Qasemi.

Qassemi lebih lanjut menjelaskan selama kunjungan Le Drian, kedua pihak akan membahas berbagai topik seperti isu-isu bilateral di bidang politik, perdagangan, ekonomi dan investasi serta masalah regional, perang kontra-terorisme, dan pembentukan keamanan dan stabilitas.

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara Tehran dan Paris dipengaruhi oleh propaganda pihak lain di kancah internasional dan telah mengalami banyak pasang surut.

Sejak tahun 2013, Iran secara terbuka menyambut baik kesepahaman dengan negara-negara Barat, dan sikap ini turut menciptakan iklim bagi perluasan hubungan antara Tehran dan Paris. Meski demikian, selama putaran pertama negosiasi nuklir dan kesepakatan Jenewa, Perancis telah memainkan peran sebagai polisi buruk (bad cop) di tengah Kelompok 5+1 dan bahkan melangkah lebih maju dari AS dalam menyerang Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qasemi.

Setelah dicapainya kesepakatan nuklir, Perancis baik di industri otomotif atau di investasi minyak, memperoleh banyak keuntungan dari hubungan ekonomi dengan Iran, tapi beberapa faktor telah membuat negara itu berhati-hati dalam mengembangkan hubungan dengan Iran.

Pertama; menyusul kemenangan Donald Trump di Amerika, Perancis ingin berperan sebagai mediator antara Tehran dan Washington. Namun, mereka telah mengambil sikap keras terhadap program rudal Iran.

Kedua; Perancis telah lama berada di bawah hasutan para teroris. Kelompok teroris munafikin (MKO) di Paris secara bebas memobilisasi kekuatan dan sumber daya terhadap Iran, dan Istana Elysee mungkin tanpa menyadari telah termakan propaganda kelompok-kelompok ekstrem semacam itu.

Ketiga; Perancis – yang gagal memainkan peran efektif dalam menumpas Daesh – tidak senang dengan kemenangan Iran atas Daesh, dan juga mengambil posisi yang sejalan dengan Arab Saudi dalam isu-isu regional.

Dan keempat; Paris yang termakan laporan bias terkait isu hak asasi manusia, terkadang mengambil jarak dari kesepakatan nuklir dan ini muncul akibat pendekatan emosional mereka dengan isu-isu global.

Bagaimana pun, perjalanan Le Drian dan Macron ke Tehran adalah kesempatan untuk mengurangi kesalahpahaman dan menetralisir propaganda negatif terhadap kedua negara.

Jelas bahwa rival-rival regional Iran mencoba untuk mempengaruhi rencana kunjungan itu, namun hubungan historis antara Iran dan Perancis tampaknya tidak akan berdampak pada agenda kedua negara. (RM)