Kunjungan Menlu Perancis ke Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i52801-kunjungan_menlu_perancis_ke_iran
Republik Islam Iran hari ini menjadi tuan rumah bagi Menteri Luar Negeri Perancis, Jean-Yves Le Drian. Dia tiba di Tehran pada Senin (5/3/2018) pagi.
(last modified 2026-04-28T13:34:36+00:00 )
Mar 05, 2018 11:41 Asia/Jakarta

Republik Islam Iran hari ini menjadi tuan rumah bagi Menteri Luar Negeri Perancis, Jean-Yves Le Drian. Dia tiba di Tehran pada Senin (5/3/2018) pagi.

Le Drian dijadwalkan akan melakukan pembicaraan mengenai kerjasama politik, ekonomi, serta regional dan internasional, dan persiapan kunjungan Presiden Perancis, Emmanuel Macron ke Tehran.

Namun menjelang perjalanannya ke Tehran, dia mengklaim bahwa program rudal Iran telah menjadi sumber kekhawatiran Perancis dan sekutunya. Komentar ini langsung dijawab tegas oleh menteri luar negeri Iran.

Mohammad Javad Zarif kepada wartawan di Tehran, mengatakan Barat harus mengklarifikasi posisinya mengenai kemampuan rudal Iran. Dia menegaskan, "Jika Eropa mengangkat isu kemampuan pertahanan Iran, apakah mereka juga akan mengambil sikap soal penjualan ratusan miliar dolar senjata ke Timur Tengah dan telah mengubah daerah ini menjadi gudang amunisi?"

Komentar Le Drian bukan sesuatu yang aneh jika memperhatikan posisi para pejabat Paris selama ini.

Abdolreza Farajirad, profesor geopolitik dan pakar hubungan internasional, percaya bahwa Perancis harus menyesuaikan diri dengan negara-negara Teluk Persia, karena salah satu pendapatan utama negara itu adalah penjualan senjata ke Arab Saudi, Qatar, Bahrain dan pihak lain."

Menlu Iran telah memperjelas posisi Tehran dan jika Eropa ingin mengubah pembicaraan di Tehran sebagai upaya untuk mengklarifikasi klaim dan tuntutan Amerika Serikat, ini akan menjadi tidak realistis dan sebuah gerakan ke arah politis.

Perancis mendukung perjanjian nuklir Iran, namun sejalan dengan klaim dan propaganda AS, menganggap kemampuan pertahanan rudal Iran sebagai sumber kekhawatiran dan perusak stabilitas di Timur Tengah. Meski para pejabat Paris mengesankan diri independen, namun jelas sekali mereka berada di bawah dikte Washington.

Jelas bahwa Iran akan meningkatkan kemampuan pertahanannya sesuai dengan jenis ancaman.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pidatonya baru-baru ini, menyebut keikutsertaan Eropa dengan AS untuk menekan Iran dalam kebijakan regional dan program pertahanan rudalnya, tidak dapat diterima.

"Eropa harus menentang tindakan pemerintah AS, termasuk pelanggaran kesepakatan nuklir, dan tidak mengikuti sikap AS dalam isu-isu seperti kekuatan defensif dan kehadiran Iran di kawasan, sebab kami benar-benar tidak dapat menerima keikutsertaan Eropa dengan arogansi AS," tegas Ayatullah Khamenei.

Pengalaman menunjukkan bahwa setiap ancaman atau pemaksaan kehendak atas Iran, hanya akan membawa kegagalan.

Le Drian diharapkan akan memperlihatkan sikap yang rasional dan transparan dalam hubungan negaranya dengan Iran, dan tidak terpengaruh oleh klaim dan propaganda AS serta beberapa negara Teluk Persia terhadap Republik Islam.

Kunjungan ini harus merefleksikan kebijakan Perancis sebagai sebuah kekuatan Eropa, yang bersedia untuk menjalin hubungan yang seimbang dan rasional dengan Republik Islam Iran.

Namun, menurut Gareth Porter, seorang jurnalis investigasi Amerika, kita masih harus melihat apakah para pemimpin Eropa akan tunduk di hadapan Washington atau tidak. (RM)