Analisa Rahbar terkait Manuver Terbaru AS
https://parstoday.ir/id/news/iran-i56588-analisa_rahbar_terkait_manuver_terbaru_as
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Rabu (9/5/2018) bertepatan dengan Hari Guru, hadir di Universitas Farhangian dan bertemu dengan ribuan orang mahasiswa dan guru. Pada kesempatan itu, Rahbar menjelaskan kedudukan tinggi guru dan beberapa isu penting terkait Amerika Serikat dan kesepakatan nuklir Iran, JCPOA.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 10, 2018 13:50 Asia/Jakarta
  • Ayatullah Khamenei
    Ayatullah Khamenei

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Rabu (9/5/2018) bertepatan dengan Hari Guru, hadir di Universitas Farhangian dan bertemu dengan ribuan orang mahasiswa dan guru. Pada kesempatan itu, Rahbar menjelaskan kedudukan tinggi guru dan beberapa isu penting terkait Amerika Serikat dan kesepakatan nuklir Iran, JCPOA.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam pertemuan itu menyinggung statemen hampa Presiden Amerika, Donald Trump dan menuturkan, orang ini selain sudah berbohong lebih dari 10 kali, juga mengancam rakyat Iran dan Republik Islam, maka atas nama rakyat Iran, saya katakan, anda (Trump) salah besar.

Menurut Rahbar, masalah Amerika adalah sebuah masalah penting, serius dan bukan sekedar sensasi. Ia menegaskan, permusuhan Amerika yang terus menerus, mendalam dan subversif, bukan permusuhan terhadap saya pribadi atau pejabat negara, tapi permusuhan terhadap pemerintahan Islam, rakyat yang memilihnya dan yang bergerak di jalan ini.

Rahbar menyebut alasan utama permusuhan sengit ini adalah kemenangan Revolusi Islam Iran dan terbentuknya Republik Islam serta terputusnya tangan Amerika dari Iran. Ia menambahkan, mereka ingin menggulingkan pemerintahan Islam dan kembali menguasai Iran yang memiliki cadangan sumber daya alam melimpah dan posisi strategis. Amerika menggunakan orang-orangnya dengan berbagai cara untuk melawan Republik Islam Iran yang independen sejak 40 tahun lalu.

Dalam rentang waktu itu, Amerika memusatkan strateginya pada JCPOA, hubungan regional dan internasional Iran khususnya dengan Uni Eropa. Donald Trump dengan seluruh langkah yang dilakukannya, menunjukkan bahwa dirinya tidak memiliki pemahaman yang benar tentang kondisi Amerika di masa lalu dan sekarang.

Pasalnya, di masa Barack Obama, meminjam istilah Rahbar, yang menyembunyikan "tangan besi" Amerika di balik sarung tangan beludru dan berbicara soal perubahan, Iran tidak pernah gentar mendengar statemen semacam itu dan tidak takut atas ancaman seperti yang disampaikan Donald Trump saat ini.

Donald Trump

Ayatullah Khamenei menerangkan, bahkan di masa pemerintahan Obama surat-surat yang ditulis dan pernyataan yang disampaikan, semuanya ditujukan untuk menggulingkan pemerintahan Islam Iran, namun mereka berdusta bahwa targetnya bukan menggulingkan Republik Islam Iran.

Kenyataannya adalah, masalah utama dan pemicu konflik Amerika terhadap Iran adalah posisi kuat Tehran di kawasan yang telah menutup jalan imperialisme mereka dan selalu menggagalkan konspirasi segitiga Amerika, rezim Zionis Israel dan Arab Saudi untuk meraih ambisinya. Hal yang pasti adalah, substansi Amerika sebagai negara penjajah, sudah diketahui oleh rakyat Iran.

Keluar dari JCPOA hanyalah satu sisi masalah. Tidak diragukan apa yang disampaikan Ayatullah Khamenei terkait substansi kesepakatan nuklir, JCPOA dan perilaku Eropa, harus dianggap sebagai peringatan serius.

Karena itulah Rahbar menjelaskan, saya tidak mempercayai tiga negara (Eropa) ini. Masalah ini sangat sensitif, jika kalian bisa memberikan jaminan kepastian dan bisa dipercaya, yang hampir tidak mungkin, tidak masalah dan silahkan lanjutkan, tapi jika tidak, maka hal ini tidak bisa dilanjutkan. Karena berbicara saja tidak ada gunanya dan dalam dunia diplomasi mereka sepenuhnya melanggar nilai-nilai moral.

Jelas jika Eropa ingin agar dialog dengan Iran berubah menjadi upaya memenuhi klaim dan tuntutan Amerika, itu artinya mematuhi kehendak dan sikap Amerika. Tapi Uni Eropa berusaha menunjukkan bahwa kebijakannya independen.

Tidak bisa dibuktikan lewat perkataan, dan dalam praktik Eropa harus menunjukkan bahwa pihaknya tidak berada di bawah pengaruh Trump dan beberapa negara kawasan Teluk Persia dalam melawan Iran. Salah seorang analis politik Amerika mengatakan, kita harus menunggu apakah Eropa akan tunduk pada kehendak Washington atau tidak. (HS)