Nasib JCPOA, Eropa dan Keputusan Iran
-
JCPOA tanpa AS
Setelah AS menyatakan keluar dari JCPOA, berbagai pihak meningkatkan lobi untuk mempertahankan kesepakatan nuklir internasional ini dengan syarat kepentingan Iran masih tetap terjaga di dalamnya.
Bersamaan dengan dukungan negara-negara Eropa, Cina dan Rusia terhadap JCPOA, AS menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran.
Setelah AS menarik diri dari JCPOA, pejabat tinggi Iran secara tegas menyatakan akan mengambil keputusan tegas jika tiga negara Eropa yang menandatangani JCPOA tidak menjamin implementasinya, dan kepentingan Iran secara penuh tidak terwujud di dalamnya.
Iran saat ini memberikan waktu selama beberapa pekan kepada pihak Eropa untuk memutuskan sikap mengenai JCPOA. Pejabat ketiga negara Eropa sedang meningkatkan intensitas komunikasinya dengan Tehran untuk membahas masalah JCPOA setelah Trump mengumumkan keputusannya tentang kesepakatan nuklir internasional itu.
Dengan mempertimbangkan eskalasi ketidakpercayaan terhadap tatanan dunia akibat pelanggaran yang dilakukan AS terhadap aturan internasional yang sudah disahkan PBB, kini saatnya Eropa menyampaikan sikapnya secara jelas dalam masalah JCPOA.
Terkait masalah ini, Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani dalam dialog via telpon dengan Kanselir Jerman, Angela Merkel kembali menegaskan sikap Tehran yang meminta negara-negara Eropa mengambil sikap mengenai mekanisme jaminan kepentingan Iran dalam kesepakatan JCPOA setelah AS mengumumkan keluar dari perjanjian internasional itu.
Kini saatnya negara-negara Eropa yang menandatangani JCPOA yaitu: Inggris, Perancis dan Jerman segera menjamin kepentingan Iran dalam kesepakatan tersebut secara jelas, transparan dan implementatif. Sebagaimana arahan Pemimpin besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei yang menegaskan bahwa Tehran tidak bisa melanjutkan keanggotaanya di JCPOA, selama tiga negara Eropa tidak memberikan jaminan pasti dan implementatif mengenai kepentingan Iran.
Pernyataan tegas ini disebabkan pengalaman buruk ulah AS terhadap JCPOA. Meskipun AS menjadi pihak penandatangan JCPOA, tapi tetap menjegal kepentingan Iran dalam implementasi kesepakatan nuklir internasional itu. Ketika masih menjadi anggota JCPOA, AS terus-menerus menekan Iran dari berbagai sisi yang bertentangan dengan perjanjian nuklir internasional yang disahkan PBB tersebut.
Kini, setelah keluar dari JCPOA, AS semakin agresif dan terbuka dalam menyerang Iran. Hanya selang dua hari setelah Trump mengumumkan negaranya keluar dari JCPOA, kementerian keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap tiga perusahaan dan enam individu Iran dengan alasan memiliki hubungan dengan Sepah Pasdaran Iran. Target sanksi tersebut untuk menargetkan kekuatan rudal Iran dan pengaruh regionalnya.
Sebelum mengumumkan keputusan keluarnya AS dari perjanjian nuklir JCPOA, Presiden AS, Donald Trump secara agresif ingin memasukan masalah rudal dan pengaruh regional Iran dalam butir revisi kesepakatan nuklir internasional. Tapi setelah gagal, Trump langsung memutuskan untuk keluar dari JCPOA.
Tiga negara Eropa selama ini tampak mengamini pandangan Trump dalam masalah rudal Iran dan pengaruh regional Tehran. Oleh karena itu, Iran menyampaikan sikapnya mengenai kebijakan jelas Inggris, Perancis dan Jerman tentang JCPOA tanpa AS. Pemerintah Iran menyatakan bahwa pihak lain di JCPOA, terutama tiga negara Eropa berkewajiban untuk menjaga JCPOA dan implementasi komitmennya tanpa syarat dari level janji menjadi aksi nyata.
JCPOA yang ideal menurut Iran saat ini adalah adanya jaminan kepentingan ekonomi Iran secara penuh dari penjualan minyak hingga hubungan perbankan dan kehadiran perusahaan serta investor di Iran. Jangan sampai JCPOA hanya tingal namanya saja, karena Iran masih berada dalam tekanan sanksi Barat dengan dalih kekuatan nuklir dan pengaruh regionalnya. Lebih dari itu, AS berupaya mengembalikan sanksi sepihaknya dahulu terhadap Iran. Dalam kondisi demikian, Iran akan meninjau ulang keanggotaannya di JCPOA jika kepentingan negara ini tidak dijamin dalam perjanjian nuklir internasional itu.(PH)
.