Upaya AS Menghentikan Iran dengan Sanksi
-
AS akan mengembalikan sanksi-sanksi nuklir terhadap Iran mulai 4 November mendatang.
Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Amir Hatami mengatakan, hari ini aliansi rapuh kekuatan arogan dan reaksioner yang dipimpin oleh AS berusaha mengesankan bahwa kondisi sistem Republik Islam Iran sedang sekarat.
"Dengan perang psikologis dan menyulut ketidakpuasan di masyarakat, mereka ingin memisahkan antara negara dan masyarakat dan konspirasi ini juga akan gagal," tegasnya.
Berbicara di sebuah konferensi pada hari Selasa (10/7/2018), Brigjen Hatami menjelaskan, "Peristiwa empat dekade lalu menunjukkan bahwa Iran telah melewati rintangan berat seperti perang dan sanksi. Waktu itu, Iran dengan senjata iman dan dengan sumber daya yang minim, mampu mengalahkan musuh di sebuah front yang benar-benar tidak berimbang."
Pada 8 Mei 2018, Presiden AS Donald Trump mengumumkan penarikan negaranya dari perjanjian nuklir dengan Iran. Dengan mengembalikan sanksi minyak terhadap Tehran mulai 4 Novemver nanti, AS mengira dapat melumpuhkan perekonomian Iran.
Lalu apakah mimpi Trump ini akan menjadi kenyataan? Laporan Badan Informasi Energi AS mencatat bahwa pada tahun 2017, Cina mengimpor 24 persen dari total kebutuhan minyaknya dari Iran, sementara India menduduki posisi kedua dengan angka 18 persen.
Pemerintah Cina mengatakan akan meningkatkan impor minyak mentahnya dari Iran. India juga menyatakan bahwa pihaknya membeli minyak dari Iran berdasarkan kepentingan nasionalnya dan tidak mengikuti sanksi AS.
Menteri Perminyakan India, Dharmendra Pradhan mengatakan, India memandang sanksi AS terhadap Iran sebagai sebuah tantangan, karena New Delhi memiliki hubungan yang erat dengan Tehran.
Selain Cina dan India, Turki – sebagai konsumen terbesar minyak Iran di Eropa – telah mengumumkan bahwa mereka tidak akan mengurangi hubungan dagangnya dengan Iran. Dalam beberapa bulan terakhir, Turki meningkatkan impor minyak mentah dari Iran menjadi 230.000 barel per hari. Menteri ekonomi Turki mengatakan, keluarnya AS dari perjanjian nuklir tidak akan mempengaruhi hubungan ekonomi Tehran-Ankara.
Ahli sanksi AS dalam perundingan nuklir Iran, Richard Nephew mengatakan, "Jika Eropa tidak secara sukarela memutuskan untuk menjatuhkan sanksi minyak terhadap Iran pada periode sebelum perjanjian nuklir, maka akan diperlukan waktu enam tahun bagi AS untuk menghentikan impor minyak Iran ke titik nol di bawah undang-undang sanksi."
Dengan keluarnya AS dari perjanjian nuklir, negara-negara Eropa sekarang memahami bahwa kebijakan mengikuti dikte Trump dan memuaskan presiden AS adalah sebuah pekerjaan yang sia-sia. Sekarang saatnya bagi Eropa untuk menunjukkan independensinya dari Washington.
Penentangan global terhadap unilateralisme AS dan perlawanan terhadap pemerasan telah menjadi sebuah tantangan serius bagi Washington. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada Selasa kemarin mengatakan, Washington akan mempertimbangkan permintaan beberapa negara agar mereka dikecualikan dari larangan membeli minyak dari Iran.
AS sendiri menyadari bahwa Iran memiliki kapasitas yang besar dan sumber daya yang berlimpah. Saat ini, Republik Islam sudah lebih kuat dan rakyat Iran juga semakin kompak serta memiliki sistem pertahanan yang mumpuni.
Komponen-komponen ini mau tidak mau harus diterima oleh AS dan realistis dalam memandang Iran. Menurut Brigjen Hatami, Republik Islam tidak bisa dihentikan dengan sanksi, karena memiliki sumber daya manusia yang hebat dan sumber daya alam yang beragam. (RM)