Iran Aktualita 21 September 2018
Sejumlah tema yang dibahas di Iran Aktualita edisi 21 September 2018; Rahbar Tekankan Peningkatan Kekuatan Pertahanan Iran, Ketegasan IRGC dengan Tujuh Rudal ke Pangkalan Teroris, PBB dan Iran Tekankan Kerjasama untuk Capai Tujuan Pembangunan, Iran, Rusia dan Turki Bahas Pembentukan Komite Konstitusi Suriah, Rouhani: AS Berada dalam Kondisi Terburuk di Dunia dan AS tidak akan Mampu Hentikan Penjualan Minyak Iran.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei dalam acara wisuda mahasiswa Sekolah Tinggi Perwira Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, hari Minggu (9/9) menyinggung sepak terjang kekuatan adidaya arogan dunia untuk menyulut instabilitas di kawasan.
Panglima Angkatan Bersenjata Iran mengatakan, "Negara arogan, terutama AS yang lalim dan penindas memandang kepentingannya akan tercapai dalam bentuk terjadinya perang saudara, peningkatan dan penyebaran aktivitas terorisme dan konflik regional. Amat disayangkan, sebagian negara kawasan justru membantunya,".
File suara:
"Teroris berkembang secara mengerikan di kawasan, ini adalah kebijakan saat ini yang dikejar AS dengan bantuan rezim Zionis Israel serta sejumlah rezim di kawasan. Tujuannya adalah mencegah kekuatan Islam muncul dan kuat di kawasan. Mereka menyadari bahwa pesan yang dibawa Islam adalah membela kaum tertindas. Sementara strategi kubu arogan menciptakan kezaliman untuk berbagai bangsa. Oleh karena itu, mereka takut akan munculnya kekuatan Islam yang solid."
Ayatullah Khamenei menilai tujuan AS dan rezim Zionis untuk menjegal kemajuan sebuah negara Islam. Ditegaskannya, mereka tahu pesan menarik Islam dalam membela orang-orang yang tertindas,akan memicu munculnya kekuatan yang berpijak pada Islam.
"Republik Islam dan bangsa Iran melancarkan perlawanan dengan bahasa yang jelas dan tanpa tedeng aling-aling menghadapi kezaliman. Masalah tersebut menjadi faktor utama permusuhan adidaya global terhadap bangsa besar Iran," ujarnya.
Angkatan laut Iran saat ini menempatkan pasukannya di wilayah penting seperti Makran, laut Oman dan perairan bebas. Tidak hanya itu, angkatan bersenjata Iran juga berperan aktif menjaga keamanan di Teluk Persia, laut Oman dan samudera India, serta segala tempat di perairan internasional yang membutuhkan keamanan.
Menyusul berbagai kejahatan dalam beberapa bulan terakhir oleh kelompok-kelompok teroris di wilayah Kurdistan, Irak, menyerang wilayah perbatasan Iran, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), dalam sebuah pernyataan menyebutkan bahwa pada hari Sabtu 8 September 2018, IRGC melancarkan operasi sukses menarget lokasi pertemuan para pemimpin kelompok teroris, dengan meluncurkan tujuh rudal dari-darat-ke-darat berdaya tempuh pendek.
IRGC dalam pernyataannya menyebutkan, menyusul ketidakpedulian para pemimpin kelompok teroris tersebut pada peringatan serius para pejabat tinggi pemerintah Kurdistan Irak, soal tekad Iran untuk menyerang pangkalan mereka dan pentingnya mengakhiri aksi kejahatan dan terorisme mereka anti-Iran, unit rudal dan juga unit drone IRGC, menghancurkan pangkalan penyusunan makar anti-Iran. Dalam serangan tersebut, puluhan pemimpin dan anasir penting operasional kelompok teroris tersebut tewas.
Anasir dan teroris yang berafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel, dengan uang dan janji-janji sejumlah rezim regional, mengupayakan berbagai aksi destruktif di Iran dan dengan bersandarkan pada analisa keliru mereka beranggapan dapat mengubah perimbangan regional dengan menyerang wilayah perbatasan Iran.
Berbagai peristiwa terbaru termasuk di Basrah dan serangan terhadap gedung konsulat Iran di Irak, peningkatan serangan teroris di perbatasan Iran, semuanya merupakan lingkaran makar musuh yang jika tidak disikapi secara waspada berpotensi semakin meluas.
Banyak pengamat berpendapat bahwa putaran baru persiapan untuk menyulut krisis dengan tujuan mempengaruhi hubungan Iran dan Irak telah dimulai. Sementara itu, pasukan Iran, memiliki kekuatan untuk mengambil segala langkah di kawasan sekitar di mana ketika semua peringatan dan garis merah telah diabaikan oleh para teroris di kawasan, maka mereka akan menunjukkan balasan dan langkah tegas yang destruktif.
Menteri luar negeri Iran pada hari Senin (10/9/2018) menerima koordinator baru PBB dan perwakilan tetap UNDP untuk Iran. Seperti dikutip media ISNA, selama pertemuan Mohammad Javad Zarif dan Ugochi Daniels berdiskusi tentang isu-isu yang menjadi kepentingan bersama.
Kedua pihak membahas masalah perluasan kemitraan strategis antara pemerintah Iran dan PBB. Nyonya Daniels juga menekankan kerja sama dengan Iran dalam mencapai tujuan pembangunan yang dicanangkan PBB.
Pejabat PBB ini telah menyerahkan surat kepercayaannya kepada menlu Iran dan secara resmi memulai tugasnya di Republik Islam. "PBB dapat menjadi sebuah jembatan yang akan menghubungkan Republik Islam Iran dan masyarakat internasional," ujar Daniels.
Perkembangan lainnya dari Iran menyebutkan, Perwakilan Iran, Rusia dan Turki pada hari Selasa (11/9/2018) telah menyelesaikan putaran kedua diskusi mengenai proses perdamaian Suriah dengan Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura di Jenewa, Swiss. Wakil Menteri Luar Neger Iran untuk Urusan Politik, Hossein Jaberi Ansari bersama dengan Alexander Lavrentiev dan Sedat Onal, para juru runding senior dari Rusia dan Turki, bertemu dengan de Mistura di Jenewa untuk berdiskusi tentang pembentukan Komite Konstitusi Suriah.
De Mistura diberi tugas untuk membentuk komite yang akan menyusun konstitusi baru bagi Suriah. Pertemuan itu, seperti dilaporkan IRNA, membahas perkembangan terbaru tentang kemajuan penyelesaian politik krisis Suriah dengan fokus pada pembentukan Komite Konstitusi.
Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani seraya menjelaskan bahwa hanya sejumlah kecil negara dan rezim terbatas di kawasan, tidak ada negara yang berdiri di samping Amerika mengatakan, saat ini AS berada dalam kondisi terburuk. Rouhani Rabu (12/9) di sidang kabinet menambahkan, dewasa ini sekutu Amerika tidak lagi berada di samping Washington dan bahkan sekutu tradisionalnya mulai mengambil jarak dan bangga dengan sikapnya tersebut.
Rouhani menjelaskan, bahwan organisasi internasional seperti PBB, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) tidak sepakat dengan pendekatan Amerika Serikat.
Presiden Iran juga mengisyaratkan bahwa kondisi dalam negeri Amerika untuk saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Saat ini Amerika menurut Rouhani berada dalam kondisi paling buruk sepanjang sejarahnya. "Saat ini di Amerika sangat sedikit ilmuwan dan cendikiawan yang mendukung pejabat Gedung Putih. Bahkan sejumlah dari mereka dengan transparan menyebut petinggi Gedung Putih tolol dan hal ini jarang terjadi dalam sejarah Amerika," papar Rouhani.
Berita lainnya menyebutkan, Duta Besar Iran untuk OPEC, Hossein Kazempour Ardebili mengatakan Amerika Serikat tidak akan mampu memangkas ekspor minyak Iran ke titik nol. "Para produsen tidak mampu memenuhi kekurangan pasokan. Jadi, AS tidak akan mencapai targetnya untuk menghentikan ekspor minyak Iran ke angka nol," ujarnya dalam wawancara dengan Reuters, Jumat (14/9/2018).
Menurutnya, "Negara mana pun tidak memiliki kapasitas produksi dan cadangan yang cukup." AS, lanjutnya, akan menghadapi kesulitan, sebab pasar minyak dan negara-negara produsen rival Iran, tidak mampu menutupi kekurangan pasokan akibat penghentian ekspor minyak Tehran. "Sebagai salah satu pendiri OPEC, Iran selalu memainkan peran penting dalam menciptakan kemufakatan di antara anggota untuk membantu organisasi ini mencapai tujuan utamanya," jelasnya.