Kawasan yang Aman dalam Perspektif Republik Islam Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i66583-kawasan_yang_aman_dalam_perspektif_republik_islam_iran
Mohammad Javad Zarif, Menteri luar negeri Iran yang sedang melakukan perjalanan ke Irak dalam sebuah pidato di konferensi bersama para pelaku ekonomi Iran dan Irak di Baghdad mengatakan, "Kawasan yang aman dan kuat akan terjadi ketika sebuah negara menilai kemajuan dan perkembangan di negara tetangganya sebagai kemajuan dan perkembangan dirinya."
(last modified 2026-04-05T23:44:38+00:00 )
Jan 15, 2019 11:04 Asia/Jakarta
  • Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran
    Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran

Mohammad Javad Zarif, Menteri luar negeri Iran yang sedang melakukan perjalanan ke Irak dalam sebuah pidato di konferensi bersama para pelaku ekonomi Iran dan Irak di Baghdad mengatakan, "Kawasan yang aman dan kuat akan terjadi ketika sebuah negara menilai kemajuan dan perkembangan di negara tetangganya sebagai kemajuan dan perkembangan dirinya."

Menteri Luar Negeri Iran dalam uraiannya tentang karakteristik kawasan yang aman dari sudut pandang Republik Islam Iran menambahkan, "Di kawasan yang aman ini, dialog menggantikan perang dan kerjasama menggantikan perlombaan senjata dan hubungan persaudaraan menggantikan kepercayaan terhadap orang asing."

Zarif menekankan bahwa Republik Islam Iran dalam mengejar tujuan seperti itu, menyambut perluasan kerjasama dengan negara-negara di kawasan dan tidak mempertimbangkan pagu apa pun untuk memperluas hubungannya dengan Irak.

Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran

Pernyataan Menteri Luar Negeri Iran ini mengungkapkan pendekatan Iran untuk interaksi regional. Pengalaman menunjukkan bahwa Asia Barat selalu menjadi target ketamakan dan intervensi asing dan untuk meraih tujuannya, mereka menyeret kawaan dalam krisis, perang dan perpecahan. Dalam proses ini, Amerika Serikat, sebagai salah satu aktor dalam krisis di kawasan, telah mencegah pembentukan kerjasama antara negara-negara di kawasan untuk menjaga keamanan dan dengan klaim palsu memaksa negara-negara di kawasan seirama dengan kebijakan "Iranphobia".

Tidak ada keraguan bahwa keamanan kawasan adalah milik negara-negara di kawasan itu dan yang lain tidak boleh mengintervensi. Dalam ungkapan Menlu Zarif, dari biaya tujuh triliun dolar yang dialokasikan AS di kawasan bukan untuk keamanan dan stabilitas kawasan tetapi untuk kepentingan sepihak mereka.

Pengalaman menunjukkan bahwa hasil dari kebijakan AS adalah menciptakan ketegangan dalam hubungan antara negara-negara di kawasan. Sementara Republik Islam Iran mampu mengamankan keamanan untuk kepentingan nasional dan regional dengan peran yang efektif.

Seyyed Bagher Zaki Oskoui, seorang analis hubungan internasional tentang hal ini mengatakan:

"Iran telah terbukti mampu memainkan peran yang efektif dalam situasi saat ini di kawasan dalam menangani ancaman keamanan dan meningkatkan keamanan relatif dalam kerangka model keamanan regional negara dan bangsa yang independen. Memerangi terorisme, mencegah penyebaran senjata pemusnah massal di kawasan, membantu menyelesaikan krisis regional di Irak dan Afghanistan dan pencegahan keruntuhan dan disintegrasi di Suriah dan lain-lain yang kesemuanya telah memberi Iran peran yang tidak tergantikan, sehingga menurut analisis dan kepercayaan banyak pemikir Barat, termasuk Gary Sick dan Henry Kissinger bahwa Iran kini telah menjadi kekuatan regional."

Republik Islam Iran menilai keamanannya sendiri sama pentingnya dengan keamanan kawasan. Iran, bagaimanapun juga tidak menganggap Amerika Serikat dapat menjamin keamanan ke kawasan itu dan ini adalah fakta bahwa Trump telah membuat marah pengusaha Gedung Putih.

Peter Joachim Katzenstein, profesor studi internasional di Universitas Cornell percaya bahwa "Amerika Serikat sedang mencoba mengoordinasikan wilayah inti dunia dalam bentuk model terpusat demi mempertahankan dominasinya atas kawasan."

Peta Republik Islam Iran

Bagaimanapun juga, Republik Islam Iran memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri melawan terorisme tanpa mengklaim sebagai polisi di wilayah tersebut atau tidak berpartisipasi dalam koalisi Amerika yang penuh warna. Itulah sebabnya peran strategis dan kebijakan regional Republik Islam Iran adalah yang paling mengkhawatirkan. Amerika Serikat.

Seperti yang ditekankan oleh Menteri Luar Negeri Iran, kawasan yang kuat dan aman dapat dibangun dengan saling percaya. Berdasarkan hal ini, Zarif menekankan kelanjutan dukungan Republik Islam Iran untuk negara dan pemerintah Irak di fase mendatang dan memperkuat sistem politik dan demokrasi di negara tersebut.