Kunjungan Presiden Iran ke Irak; Pertemuan dengan Tujuan Strategis
-
Hassan Rouhani dan Barham Salih
Hassan Rouhani, Presiden Republik Islam Iran pada hari Senin (11/03) melakukan perjalanan ke Baghdad untuk melakukan pertemuan tiga hari atas undangan resmi Presiden dan Perdana Menteri Irak.
Kunjungan ini menurut kalangan politik adalah sebuah pertemuan strategis dan kesempatan yang tepat untuk mencapai pemahaman dan kesepakatan baru antara Tehran dan Baghdad.
Menggali cara-cara untuk memperkuat hubungan dua negara di bidang politik, ekonomi, dan budaya serta kerja sama regional adalah salah satu tujuan paling penting dari kunjungan resmi Presiden Republik Islam Iran ke Irak. Kunjungan Presiden Iran ke Baghdad melibatkan penandatanganan beberapa nota kesepakatan antara dua negara Iran dan Irak. Kesepakatan tentang kereta api antara Khorramshahr dan Basrah, penciptaan dan pengembangan kota-kota industri, visa perjalanan antara kedua negara, masalah bea cukai dan kerja sama kesehatan dan medis.
Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran pada pertemuan antara delegasi Iran dan Irak di Baghdad yang dihadiri oleh Mohammed Ali al-Hakim, Menteri Luar Negeri Irak menekankan bahwa hubungan kedua negara strategis dan tidak ada yang dapat melemahkannya.
Kehadiran Iran yang efektif dan menentukan dalam perang melawan Daesh (ISIS) dan kelompok-kelompok teroris di Irak dan Suriah telah membuktikan peran strategis Iran dalam menjaga keamanan di kawasan.
Tidak diragukan lagi, penggunaan yang tepat akan keragaman yang ada dalam hubungan antara kedua negara membutuhkan stabilitas dan keamanan di Irak. Saat ini, kerja sama dalam masalah sensitif ini berada pada tingkat strategis dan telah memberikan landasan bagi kerja sama dalam bidang pertahanan dan keamanan.
Hassan Kazemi Qomi, mantan Duta Besar Iran untuk Irak, dalam sebuah catatan menulis, "Hari ini, hubungan antara Republik Islam Iran dan Republik Irak telah ditarik ke tingkat kerja sama strategis yang secara alami tingkat kerja sama strategis ini dapat mengarahkan kedua negara ke hubungan strategis."
Oleh karena itu, sejumlah kelompok intervensif berusaha keras menunjukkan hubungan strategis ini dengan niat bias dan bertujuan buruk bahwa hubungan ini bertujuan menyusup dan melakukan intervensi non-konstruktif Iran di Irak. Namun terlepas dari gerakan-gerakan ini, saling mengunjungi para pejabat Iran dan Irak di tingkat tertinggi menunjukkan pengabaian terhadap langkah-langkah ini.
Sekarang, dengan dimulainya era baru pemerintah Irak, pengembangan kerja sama dalam bidang ekonomi diprioritaskan. Di sektor ini, Iran adalah rute yang paling cocok untuk transit dan ekspor barang ke Irak. Iran juga dapat memasok sebagian besar kebutuhan listrik dan bahan bakar Irak. Selain itu, dalam masalah pemberian layanan teknis, Iran siap untuk mentransfer pengalamannya ke Irak. Selain di bidang yang telah disebutkan, keberadaan jaluar penyeberangan perbatasan, tempat-tempat suci keagamaan di kedua negara dan peluang untuk berpartisipasi dalam pembangunan Irak termasuk bidang-bidang lain yang memiliki posisi dan peran penting dalam kerja sama kedua negara.
Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam pertemuan dengan Barham Salih, Presiden Irak dan rombongan di Tehran menekankan, "Irak bermartabat, kuat, independen dan maju sangat berguna bagi Iran dan kami akan tetap bersama dengan saudara-saudara Irak kami."
Rahbar menjelaskan, "Para pejabat Republik Islam sangat bertekad dan kokoh untuk memperluas kerja sama dengan Irak."
Dengan latar belakang seperti itu, harus dikatakan bahwa kunjungan presiden Republik Islam Iran ke Baghdad menekankan kemauan dan kesiapan untuk tetap bersama pemerintah dan bangsa Irak.