JCPOA Eropa, Upaya Cari Muka Eropa Kepada Trump
-
Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran
Menteri Luar Negeri Iran telah menyatakan klaim ketiga negara Eropa yang anti program rudal Iran sebagai aksi sabotase dan cari muka kepada Amerika Serikat.
Pada Rabu sore (03/04), Mohammad Javad Zarif menulis di Twitter, "Satu tahun setelah Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), Eropa tidak dapat mewujudkan kemauan politiknya untuk menggagalkan terorisme ekonomi AS dan bahkan tidak dapat membentuk saluran bank untuk bantuan kemanusiaan."
Menteri Luar Negeri Iran menjelaskan, "Dalam keadaan seperti ini, ketiga negara Eropa sedang berjuang menekan Perserikatan Bangsa-Bangsa terkait kemampuan pertahanan Iran demi menarik perhatian Donald Trump, Presiden Amerika Serikat."
Perwakilan dari Inggris, Perancis dan Jerman di PBB pada hari Selasa (02/04) dalam sepucuk surat kepada sekretaris jenderal organisasi tersebut mengklaim bahwa pengembangan teknologi rudal, upaya Iran untuk meluncurkan rudal pembawa satelit dan peluncuran dua rudal balistik bertentangan dengan resolusi nomor 2231 Dewan Keamanan.
Klaim berulang dari tiga negara Eropa tentang kekuatan rudal Iran telah bertujuan untuk melepaskan diri dari tanggung jawab Eropa untuk memenuhi komitmen mereka dalam kerangka JCPOA dan menjamin kerja sama ekonomi dengan Iran.
Menyusul penarikan diri Amerika Serikat dari JCPOA, Eropa yang telah menekankan mendukung perjanjian ini dan akan berusaha untuk membuat Iran mendapat manfaat ekonomi JCPOA dan sekarang bukan saja tidak bersedia melakukan ini, mereka bahkan melakukan sabotase.
Alasan tiga negara Eropa dan pengulangan klaim yang tidak terkait dengan resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB menunjukkan bahwa Eropa tidak dapat diandalkan untuk bermain di luar kehendak Amerika Serikat.
Kegagalan untuk menerapkan mekanisme keuangan Eropa untuk mempertahankan hubungan keuangan dan ekonomi dengan Iran sementara secara bersamaan membela klaim pelanggaran resolusi 2231 oleh Iran adalah langkah Eropa di jalur yang memastikan penarikan Donald Trump dari JCPOA.
Presiden Amerika Serikat telah menarik diri dari perjanjian internasional ini dengan dalih mengklaim bahwa kesepakatan itu tidak komprehensif, karena tidak memasukkan rogram rudal dan pengaruh regional Iran.
Sekarang posisi tiga negara Eropa dan tekanan mereka pada Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memeriksa program rudal Iran adalah tanda lain dari permainan Eropa dalam kerangka Trump, untuk sekali lagi jelas bagi publik bahwa Eropa tidak memiliki keinginan untuk memainkan peran independen.
Klaim oleh tiga negara Eropa bahwa program rudal, antariksa dan uji coba rudal Iran bertentangan dengan resolusi 2231 menunjukkan standar ganda mereka dan bertujuan untuk menutupi ketidakmampuan mereka menghadapi Amerika Serikat.
Sekaitan dengan hal ini, Wakil Tetap Iran di PBB, dalam menanggapi klaim Inggris, Perancis dan Jerman yang menyebut Iran melanggar resolusi 2231, mendesak negara-negara Eropa untuk mengabaikan standar ganda mereka dan menghadapi masalah nyata seperti penarikan Amerika dari JCPOA, perilaku destruktif dan kepemilikan senjata pemusnah massal oleh Zionis Israel.
Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran telah berulang kali berargumen bahwa resolusi 2231 Dewan Keamanan hanya ingin Iran tidak membuat rudal yang dapat membawa hulu ledak nukli dengan mengatakan, Iran tidak memiliki program nuklir militer.
Memperkuat kemampuan pertahanan dan rudal serta pengaruh regional yang efektif dalam kerangka kepentingan nasional Republik Islam Iran dan tidak ada negara yang akan membuat keputusan tentang dua komponen utama kekuatan dan otoritas ini.
Dalam situasi seperti itu, sikap cari muka Eropa kepada Trump dengan menekan PBB tidak menempatkan Iran di jalur, dimana Eropa sekarang terjebak karena ketidakmampuan mereka dan kurangnya kemauan independen.
Iran akan mengejar penguatan komponen kekuatannya, terlepas dari keributan dan tekanan politik Barat dan tidak akan berbicara dengan siapapun di jalan ini. Seperti Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran berulang kali mengatakan, "Kemampuan pertahanan Iran, termasuk kekuatan rudal, tidak pernah dinegosiasikan."