Ketika Zarif Sebut Eropa Tak Layak Kritik Iran
https://parstoday.ir/id/news/iran-i70908-ketika_zarif_sebut_eropa_tak_layak_kritik_iran
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif kepada negara-negara Eropa mengatakan, Eropa harus memberi jawaban terkait Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), apa pengaruh langkah mereka bagi normalisasi pertukaran ekonomi Iran.
(last modified 2026-05-04T10:04:58+00:00 )
Jun 10, 2019 06:48 Asia/Jakarta

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif kepada negara-negara Eropa mengatakan, Eropa harus memberi jawaban terkait Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), apa pengaruh langkah mereka bagi normalisasi pertukaran ekonomi Iran.

Zarif Ahad (09/06) kepada wartawan di Tehran dan menjelang kunjungan menlu Jerman ke Iran serta terkait kritik terbaru Eropa terhadap Iran soal keluar dari JCPOA mengungkapkan, Eropa pada dasarnya tidak dalam posisi yang layak untuk mengkritik Iran.

 

Seraya menjelaskan bahwa kebijakan Eropa di kawasan Asia Barat banyak merugikan, menlu Iran mengungkapkan, secara keseluruhan, Barat mengijinkan rezim otoriter di kawasan untuk melakukan kejahatan.

 

Eropa saat ini menunjukkan sikap selaras dengan Amerika dan berbicara mengenai perundingan baru terkait penambahan poin di JCPOA. Hal ini tak berbeda dengan statemen Presiden AS Donald Trump saat keluar dari JCPOA pada 8 Mei 2018. Saat itu, Trump menyebut kesepakatan nuklir dengan Iran cacat.

Iran dan kelompok 4+1 di JCPOA

Isu kemampuan rudal dan pertahanan serta kehadiran dan pengaruh regional Republik Islam Iran adalah poin di luar JCPOA. Eropa ketika menyebut kemampuan rudal Iran membahayakan kawasan, mereka setiap hari malah mengirim senjata kepada rezim otoriter Arab dan senjata tersebut digunakan untuk membantai ribuan warga tak berdosa Yaman.

 

Kebijakan Barat saat ini di kawasan strategis Asia Barat berujung pada kejahatan anti kemanusiaan di Yaman dan di kondisi seperti ini Eropa terlibat dalam kejahatan tersebut karena menjual senjata kepada Arab Saudi.

 

Mengingat bahwa pendekatan destruktif negara-negara Eropa yang terlibat dalam perjanjian JCPOA termasuk Inggris, Jerman dan Perancis, maka mereka bukan dalam posisi yang layak untuk mengambil sikap terkait kemampuan rudal dan militer Tehran. Iran sebagai negara independen memperkuat kemampuan pertahanan dan militernya sesuai dengan level ancaman yang ada dan masalah ini tidak dapat diintervensi oleh negara lain.

 

Eropa yang cenderung menggulirkan isu-isu di luar JCPOA ketimbang menjalankan komitmennya di perjanjian nuklir ini hanya menunjukkan kelemahannya dihadapan Amerika dan berlanjutnya pendekatan ini akan membuat Iran semakin tidak percaya kepada mereka.

 

Terkait hal ini, Juru bicara Kemenlu Iran, Sayid Abbas Mousavi Jumat lalu saat merespon sikap Presiden Perancis, Emmanule Macron yang selaras dengan sejawatnya dari AS Donald Trump mengatakan, pengguliran isu di luar JCPOA bukan saja tidak membantu JCPOA, bahkan membuka peluang ketidakpercayaan lebih besar di antara kedua pihak.

 

Pendekatan Eropa saat ini terhadap JCPOA menunjukkan bahwa Eropa masih memainkan peran di bawah bayang-bayang Amerika. Sementara penghormatan Eropa terhadap hak Iran di JCPOA dan upaya mereka untuk menghapus rintangan yang menghadang perjanjian ini sekedar jalan untuk memberi ruang bernafas bagi kesepakatan nuklir tersebut.

 

Urgensitas mempertahankan JCPOA bagi Eropa tidak terbatas pada pengambilan sikap politik dan pengambilan langkah praktis yang efektif serta implementasi komitmen JCPOA yang ditunggu Iran.

 

Memperhatikan poin praktis ini akan membuat kunjungan hari Senin Heiko Maas, menlu Jerman ke Tehran menemukan urgensitasnya. Namun memasukkan isu-isu di luar JCPOA akan mendorong Iran untuk menolak terlibat permainan kolektif Eropa-Amerika serta hanya memperlebar jurang antara Iran dan Eropa. (MF)