Agenda Kunjungan Menlu Iran ke Bangladesh
-
Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif
Republik Islam Iran memiliki banyak pilihan untuk menghadapi perang ekonomi AS, salah satunya dengan menggunakan kapasitas domestik untuk pembangunan ekonomi sambil mendiversifikasi hubungan ekonomi yang seimbang, serta memanfaatkan peluang dan kerja sama regional.
Dalam hal ini, berbagai pendekatan telah dipertimbangkan Iran termasuk mengusung diplomasi ekonomi menghadapi sanksi AS.
Dari perspektif ekonomi-politik, tampaknya Iran perlu mengaktifkan kapasitas domestik untuk pembangunan ekonomi, memanfaatkan peluang dan kapasitas regional seperti kawasan Eurasia, ASEAN, Organisasi Kerjasama Ekonomi ECO dan Asosiasi Negara-Negara Samudera Hindia (IORA).
Kunjungan delegasi politik dan ekonomi Iran selama beberapa pekan terakhir, termasuk kunjungan terbaru Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif ke Bangladesh.
Selain menghadiri pertemuan puncak IORA, Menlu Iran juga menemui pejabat tinggi Bangladesh, dan menyampaikan pidato dihadapan para pemimpin perusahaan besar negara asia selatan ini.
Dijadwalkan, Zarif akan melenajutkan perjalanannya dari Bangladesh ke Indonesia untuk berdiskusi dengan para pejabat senior dan cendikiawan negara ini tentang isu-isu bilateral dan perkembangan dunia Islam.
Kehadiran Zarif di KTT IORA yang dilanjutkan dengan mengunjungi Indonesia dipandang penting setidaknya dari dua hal. Aspek pertama dari lawatan ini mengenai dialog dalam kerangka hubungan bilateral antara Iran dengan kedua negara Muslim ini dalam kerangka hubungan zona Asia. Oleh karena itu, lawatan Zarif tersebut merupakan peluang untuk mengejar tujuan ekonomi dan komersial bersama antara Tehran dengan Dhaka dan Jakarta.
Aspek penting kedua dari perjalanan Zarif ini adalah kehadiran Menteri Luar Negeri Iran pada pertemuan IORA. KTT IORA yang akan digelar Kamis 5 September, dihadiri para pejabat senior dari negara-negara di wilayah geografis yang luas ini hadir. IORA dengan 19 negara anggota dari tiga benua Asia, Afrika, dan Pasifik terdiri lebih dari 2 miliar orang di seluruh dunia.
Profesor Hubungan Internasional Universitas Tehran, Ali Sabaghian menegaskan urgensi IORA.
"Asosiasi ini, pada dasarnya dikenal sebagai Prakarsa Perbatasan Samudra Hindia yang berfokus untuk mempromosikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan pembangunan yang seimbang di kawasan ini dan antar sesama anggotanya.Oleh karena itu, IORA memperluas liberalisasi perdagangan dan menghilangkan hambatan terhadap arus perdagangan. Modal dan teknologi memainkan peran penting di kawasan Samudra Hindia," ujar Sabaghian.
Kini, Republik Islam Iran sedang berada dalam situasi kritis, rumit dan menentukan. Sanksi dan tekanan lalim internasional yang diciptakan untuk menjegal kemajuan Republik Islam Iran dalam meraih tujuan-tujuannya yang sah, telah menghambat proses pembangunan ekonomi negara itu.
Penggunaan alat sanksi, intensifikasi tekanan internasional, dan upaya luas untuk mengisolasi Iran menjadi tiga strategi utama AS yang dilancarkan terhadap Tehran. Tentu saja tidak mudah untuk melewati kondisi sulit saat ini. Namun tetap saja ada beberapa alternatif bagi Iran untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut. Pengembangan hubungan luar negeri dan ekonomi yang seimbang sekarang menjadi agenda kebijakan luar negeri Iran.
Tujuan strategis diplomasi ekonomi Iran dengan menggunakan kapasitas domestiknya yang dilakukan bersamaan dengan langkah peningkatan posisi ekonomi Iran di tingkat regional dan internasional. Kini, Republik Islam Iran, dengan mengadopsi kebijakan luar negerinya yang proaktif, tetap bisa mempertahankan hak-haknya di arena internasional, dan pada saat yang sama berdiri tegar melawan kekuatan dominasi global.(PH)