Mencermati Dua Tantangan Rezim Zionis Setelah Perang 12 Hari terhadap Iran
-
Kerusakan apartemen akibat rudal Iran di Palestina Pendudukan
Pars Today - Situs Middle East Eye dalam sebuah laporan bertanggal 27 November menyoroti tantangan yang dihadapi Tel Aviv setelah Perang 12 Hari rezim Zionis terhadap Iran.
Menurut laporan Pars Today, Middle East Eye menggambarkan dua krisis yang terjadi secara bersamaan di Palestina yang diduduki:
- Proses rekonstruksi yang lambat dan penuh tantangan setelah perang yang dipaksakan terhadap Iran
- Gelombang besar migrasi kaum cendekia dan tenaga muda profesional
Tantangan Rekonstruksi
Menurut laporan harian TheMarker, lima bulan setelah berakhirnya perang 12 hari dengan Iran, Israel masih bergulat dengan dampak luasnya. Sekitar 700 orang kehilangan rumah akibat serangan rudal Iran, dan pejabat pemerintah masih berusaha menemukan cara untuk membangun kembali properti yang hancur.
Kabinet rezim Zionis baru-baru ini mengajukan rencana untuk merobohkan dan membangun kembali rumah-rumah yang rusak. Sebuah rencana yang memungkinkan warga untuk tinggal di apartemen baru atau menjualnya dengan nilai baru. Namun, perbedaan politik dengan partai-partai religius, yang sebelumnya keluar dari koalisi karena isu wajib militer bagi pemuda Haredi, membuat pengesahan rencana ini diragukan.
Warga di beberapa daerah, termasuk Haifa, mengatakan proses rekonstruksi terhenti dan bahkan terjadi kasus penjarahan. Seorang warga menyatakan, “Kerusakan tidak berakhir pada hari rudal jatuh. Itu masih berlanjut.”
Menurut data, sejauh ini sekitar 50 ribu klaim kerugian telah diajukan ke kantor pajak properti, 39 ribu di antaranya terkait rumah. Media Israel memperkirakan total kerugian mencapai sekitar 5 miliar shekel (1,53 miliar dolar AS).
Migrasi Kaum Cendekia
Media rezim Zionis melaporkan bahwa sejak dimulainya perang Gaza pada Oktober 2023, hampir 200 ribu orang meninggalkan Palestina yang diduduki.
Penelitian terbaru dari Universitas Tel Aviv menunjukkan sebagian besar migran adalah kaum muda dari kelas ekonomi atas. Dalam satu tahun terakhir, sekitar 900 dokter, lebih dari 19 ribu lulusan universitas, dan lebih dari 3.000 insinyur meninggalkan Palestina yang diduduki. Menurut laporan tersebut, 75 persen migran berusia di bawah 40 tahun.
Tren ini menimbulkan kekhawatiran bagi sistem kesehatan rezim Zionis, karena sebelumnya mereka sudah menghadapi kekurangan dokter yang parah.
Perkiraan menunjukkan bahwa hanya dalam setahun terakhir, pemerintah kehilangan sekitar 1,5 miliar shekel (459 juta dolar AS) dari pendapatan pajak individu akibat migrasi.
Jika tren ini berlanjut, rezim Zionis mungkin menghadapi “konsekuensi ekonomi makro yang serius akibat hilangnya modal manusia yang penting”.
Di sektor teknologi juga terlihat gelombang migrasi serupa. Hanya dalam setahun terakhir, lebih dari 8.000 tenaga ahli teknologi pindah ke Amerika Serikat, Kanada, dan Jerman.(sl)