Krisis Air; Cadangan Benua Eropa Mengering
-
Krisis air
Pars Today - Penilaian satelit menunjukkan bahwa sebagian besar cadangan air Eropa, khususnya di bagian selatan benua ini sedang mengering. Sebuah peristiwa yang menurut para ilmuwan akan membawa dampak luas.
Menurut laporan IRNA pada hari Minggu (30/11/2025), harian The Guardian menulis, "Sebuah analisis baru dengan menggunakan dua dekade data satelit menunjukkan bahwa cadangan air di sebagian besar wilayah Eropa sedang mengering, dan cadangan air tawar di seluruh Eropa selatan dan tengah, dari Spanyol dan Italia hingga Polandia dan sebagian Inggris, sedang menurun.
Para ilmuwan yang bekerja sama dengan kelompok Watershed Investigations dan harian The Guardian, menganalisis data satelit dalam rentang waktu 2002 hingga 2024 yang meneliti perubahan pada medan gravitasi bumi.
Karena air memiliki massa berat, perubahan pada air tanah, sungai, danau, kelembaban tanah, serta gletser tercermin dalam sinyal, sehingga memungkinkan satelit untuk secara efektif “menimbang” jumlah air yang tersimpan.
Hasil penelitian menunjukkan ketidakseimbangan mencolok. Bagian utara dan barat Eropa, khususnya negara-negara Skandinavia serta sebagian Inggris dan Portugal, menjadi lebih basah. Sementara wilayah luas di selatan dan barat daya benua, terutama di Spanyol, Italia, Inggris, Prancis, Swiss, Jerman, Rumania, dan Ukraina, menjadi lebih kering.
Para ilmuwan menyatakan bahwa analisis iklim dapat terlihat dalam data.
Mohammad Shamsudduha, profesor krisis air dan pengurangan risiko di University College London mengatakan, “Ketika kita membandingkan seluruh data cadangan air tanah dengan kumpulan data iklim, tren secara umum saling berkaitan.”
Ia menegaskan bahwa hal ini harus menjadi “alarm peringatan” bagi para politisi yang masih ragu untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Menurutnya, “Kita tidak lagi berbicara tentang membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat Celsius; kemungkinan besar kita bergerak menuju 2 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri, dan kini kita menyaksikan konsekuensinya.”
Dokumen University College London menambahkan, "Tren di Inggris bersifat kontradiktif. Bagian barat negara ini menjadi lebih basah, sementara bagian timurnya lebih kering.
Air tanah tampak lebih tahan terhadap perubahan iklim dibandingkan air permukaan, tetapi hujan deras di musim panas sering kali menyebabkan lebih banyak kehilangan air akibat limpasan dan banjir mendadak, sementara musim pengisian air tanah di musim dingin bisa menjadi lebih singkat.
Profesor ini memperingatkan bahwa di wilayah selatan dan timur Inggris, di mana sumber air tanah menyumbang sekitar 70% dari pasokan air publik, pola curah hujan yang berubah dapat menimbulkan tantangan baru.
Data Badan Lingkungan Eropa menunjukkan bahwa total pengambilan air dari sumber permukaan dan bawah tanah di seluruh Uni Eropa antara tahun 2000 hingga 2022 menurun, tetapi pengambilan dari sumber bawah tanah meningkat 6% karena kebutuhan air publik (18%) dan pertanian (17%).
Secara keseluruhan, sumber air bawah tanah menyumbang 62% pasokan air publik dan 33% kebutuhan air pertanian di negara-negara anggota Uni Eropa pada tahun 2022.
Juru bicara Komisi Eropa tentang strategi ketahanan air mengatakan bahwa strategi ini “bertujuan membantu negara anggota menyesuaikan pengelolaan sumber daya air mereka dengan perubahan iklim dan menghadapi tekanan akibat aktivitas manusia”.
Menurutnya, strategi ini disusun untuk menciptakan “ekonomi cerdas di bidang air” dan disertai dengan rekomendasi Komisi tentang efisiensi air yang menuntut peningkatan efisiensi “setidaknya 10% hingga tahun 2030”.
Mengingat tingkat kebocoran air di seluruh Uni Eropa berkisar antara 8 hingga 57%, Komisi menekankan bahwa pengurangan kehilangan air melalui pipa dan modernisasi infrastruktur akan sangat penting.
Hannah Clock, profesor hidrologi di Universitas Reading Inggris mengatakan, “Merupakan hal yang menyedihkan melihat tren ini dalam jangka panjang karena baru-baru ini kita telah menyaksikan kekeringan yang sangat besar, dan selalu terdengar bahwa musim dingin tahun ini mungkin curah hujannya lebih sedikit, sementara kita saat ini sudah berada dalam kondisi kekeringan.”
Clock menambahkan, “Musim semi dan musim panas mendatang, jika curah hujan tidak mencukupi, akan membawa dampak serius bagi Inggris. Kita akan menghadapi pembatasan air yang parah dan hal ini akan membuat kehidupan semakin sulit.”
Badan Lingkungan Eropa memperingatkan bahwa Inggris harus bersiap menghadapi kelanjutan kekeringan hingga tahun 2026 kecuali terjadi hujan signifikan pada musim gugur dan musim dingin.
Kekeringan di Eropa dan krisis keamanan pangan
Mohammad Shamsudduha, profesor krisis air dan pengurangan risiko di University College London memperingatkan bahwa tren kekeringan di Eropa akan membawa dampak “luas” terhadap keamanan pangan, pertanian, dan ekosistem yang bergantung pada air, khususnya habitat yang bergantung pada air tanah.
Ia mengatakan bahwa berkurangnya cadangan air di Spanyol dapat secara langsung memengaruhi Inggris, karena negara ini bergantung pada Spanyol dan negara-negara Eropa lainnya untuk memenuhi kebutuhan buah dan produk pertanian.
Profesor ini menegaskan bahwa berbagai dampak iklim yang selama ini terlihat di belahan selatan dunia, dari Asia Selatan hingga Afrika dan Timur Tengah, kini “sangat dekat dengan kita” dan perubahan iklim “jelas akan memengaruhi Eropa sendiri”.
Ia menekankan perlunya menerima kenyataan bahwa perubahan iklim itu nyata, sedang terjadi, dan berdampak langsung pada kita. Ia menyerukan pengelolaan air yang lebih baik serta penerimaan terhadap pandangan baru, bahkan yang tidak konvensional.
Kondisi global
Koran The Guardian menulis bahwa secara global, cadangan air di Timur Tengah, Asia, Amerika Selatan, pantai barat Amerika Serikat, dan sebagian besar Kanada sedang mengalami penurunan, sementara di Greenland, Islandia, dan Svalbard terlihat tren kekeringan yang signifikan.
Media Inggris ini menutup laporannya dengan menyinggung kondisi kekeringan di Iran, menyatakan bahwa cadangan air di ibu kota, Tehran, “mendekati nol” dan rencana untuk melakukan pembatasan sedang dipersiapkan.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan bahwa jika pembatasan gagal, kemungkinan Tehran harus dikosongkan.(sl)