Takluk? Tidak untuk Iran! Jawaban untuk "Rasa Ingin Tahu" Trump
https://parstoday.ir/id/news/iran-i185982-takluk_tidak_untuk_iran!_jawaban_untuk_rasa_ingin_tahu_trump
Pars Today - Rasa penasaran Donald Trump, presiden Amerika Serikat, terjawab sudah. "Karena kami 'orang Iran'," tulis Menteri Luar Negeri Iran, Sayid Abbas Araghchi, di akun X-nya. Pernyataan singkat ini bukan sekadar respons diplomatik, melainkan simpulan dari logika sejarah, budaya, dan strategi yang membentuk sikap Iran terhadap tekanan asing.
(last modified 2026-02-26T09:21:17+00:00 )
Feb 23, 2026 14:41 Asia/Jakarta
  • Menteri Luar Negeri Iran, Sayid Abbas Araghchi
    Menteri Luar Negeri Iran, Sayid Abbas Araghchi

Pars Today - Rasa penasaran Donald Trump, presiden Amerika Serikat, terjawab sudah. "Karena kami 'orang Iran'," tulis Menteri Luar Negeri Iran, Sayid Abbas Araghchi, di akun X-nya. Pernyataan singkat ini bukan sekadar respons diplomatik, melainkan simpulan dari logika sejarah, budaya, dan strategi yang membentuk sikap Iran terhadap tekanan asing.

Pertanyaan Trump, yang diungkapkan utusannya Steve Witkoff di Fox News, sebenarnya sederhana: mengapa Iran tidak menyerah di tengah tekanan maksimum? Witkoff sendiri mengakui, "Saya tidak ingin menggunakan kata 'putus asa'," karena Trump tahu ia punya banyak opsi, tetapi tetap penasaran. Witkoff menambahkan bahwa AS terus mengirim kekuatan militer ke kawasan, meski prosesnya "sulit".

Akar Sejarah dan Budaya: Ketika "Menyerah" Berarti Menghianati Identitas

Sikap Iran tidak bisa dilepaskan dari ingatan historisnya. Negeri ini berkali-kali menjadi sasaran agresi asing, tetapi tak pernah runtuh. Dari invasi kekaisaran kuno hingga era kolonialisme modern, pengalaman kolektif bangsa Iran membentuk mentalitas bahwa perlawanan terhadap dominasi asing adalah bagian dari harga diri nasional.

Bagi rakyat Iran, "resistensi" bukan sekadar strategi, melainkan nilai budaya yang terpatri. Dengan memori yang masih segar tentang intervensi asing, baik melalui kudeta, tekanan ekonomi, maupun ancaman militer, setiap bentuk konsesi di bawah tekanan asing dipandang sebagai pengkhianatan terhadap sejarah.

Geopolitik dan Peran Regional: Iran sebagai Aktor Struktural

Di kawasan Asia Barat yang dilanda ketidakpastian, Iran memainkan peran sebagai aktor pembangun struktur. Posisi geografisnya yang strategis, mulai dari penguasaan atas Teluk Persia dan Selat Hormuz, hingga kedekatan dengan Asia Tengah dan Kaukasus, menempatkan Iran di pusat jalur energi, perdagangan, dan keamanan.

Lebih dari itu, Iran telah membangun pendekatan kebijakan luar negeri yang menekankan persatuan, kemandirian, dan penolakan terhadap kehadiran asing. Pendekatan ini tidak hanya menjadi ciri khas diplomasi Tehran, tetapi juga menjadi model bagi sejumlah negara kawasan yang menginginkan kemandirian dan kerja sama regional tanpa campur tangan asing.

Konsistensi Iran dalam membela bangsa-bangsa tertindas, terutama Palestina, Yaman, dan Lebanon, telah memperkuat posisinya sebagai poros perlawanan terhadap apa yang disebutnya sebagai poros Amerika-Zionis.

Doktrin Pertahanan dan Kemandirian Strategis

Sejak revolusi 1979, Iran secara konsisten membangun kapabilitasnya di atas prinsip kemandirian. Investasi besar-besaran dalam teknologi pertahanan, mulai dari rudal balistik, drone, teknologi nuklir, hingga kemampuan siber, telah menciptakan daya tangkal yang efektif.

Pengembangan ini bukan aksesori, melainkan fondasi dari doktrin pertahanan yang menolak ketergantungan pada kekuatan asing. Dalam logika ini, menyerah pada tekanan bukan sekadar kehilangan muka, tetapi juga meruntuhkan sistem pertahanan yang dibangun selama puluhan tahun.

Kesimpulan: Sebuah "Tidak" yang Kokoh

"Kami 'orang Iran'" bukan sekadar jawaban diplomatik. Ia merangkum:

1. Memori historis tentang kegagalan intervensi asing di Iran.

2. Budaya perlawanan yang terpatri dalam identitas nasional.

3. Posisi geopolitik yang memungkinkan Iran bertindak sebagai pemain kunci.

4. Doktrin pertahanan yang dibangun di atas kemandirian dan penangkalan.

Tekanan ekonomi dan militer AS, alih-alih melemahkan, justru kerap memperkuat tekad nasional. Di Iran, pemerintahan mana pun, apapun kecenderungan politiknya, tidak akan berani mengorbankan prinsip ini. Sebab, bagi bangsa yang telah berabad-abad berdiri tegak, "takluk" adalah satu-satunya kata yang tak ada dalam kamusnya.(sl)