Di Antara Stadion dan Kebijakan: Mengapa Trump dan Sepak Bola Tak Pernah Akur?
-
Sepak bola dan identitas AS
Pars Today - Majalah Foreign Policy dalam sebuah artikel yang terbit bersamaan dengan pelaksanaan Piala Dunia menulis bahwa sepak bola di Amerika Serikat tidak pernah sekadar olahraga.
Sejak para imigran Eropa membawa permainan ini ke Amerika hingga kini, ketika sepak bola telah menjadi salah satu simbol perpecahan politik dan budaya, olahraga ini selalu menjadi cermin dari pertarungan tentang identitas nasional, imigrasi, dan definisi "ke-Amerika-an", sebuah pertarungan yang kembali menjadi sorotan di era kepemimpinan Donald Trump.
Melansir IRNA, Selasa, 16 Juni 2026, majalah Foreign Policy dalam analisisnya yang bertepatan dengan penyelenggaraan Piala Dunia 2026, mengkaji posisi sepak bola di masyarakat Amerika dan berargumen bahwa selama lebih dari satu abad, olahraga ini telah menjadi salah satu arena utama perselisihan tentang identitas nasional, imigrasi, dan rasa memiliki di Amerika Serikat
Laporan ini mengingatkan bahwa Amerika menjadi tuan rumah Piala Dunia bersama Kanada dan Meksiko di saat yang bersamaan dengan peringatan 250 tahun kemerdekaan negara tersebut. Namun, penulis meyakini bahwa kebijakan imigrasi pemerintah Trump, yang mempersulit masuknya warga dari sejumlah negara, menciptakan kontradiksi yang jelas: sebuah negara yang menjadi tuan rumah perayaan sepak bola terbesar di dunia, di saat yang sama menciptakan hambatan baru bagi sebagian penggemar dari acara yang sama.
Foreign Policy menulis bahwa akar kontradiksi ini harus dicari dalam sejarah sepak bola Amerika. Berbeda dengan bisbol dan sepak bola Amerika yang diperkenalkan sebagai olahraga asli dan bagian dari identitas nasional Amerika, sepak bola sejak awal terkait erat dengan para imigran. Buruh dan imigran dari Inggris, Irlandia, Skotlandia, Jerman, dan Hongaria pada akhir abad ke-19 membawa olahraga ini ke kota-kota industri di timur laut Amerika dan membentuk basis sosial pertamanya.
Menurut majalah ini, liga sepak bola Amerika yang didirikan pada tahun 1921 mencapai kesuksesan yang signifikan pada dekade 1920-an dan bahkan bersaing dalam hal jumlah penonton dengan liga sepak bola Amerika. Namun, seiring dengan meningkatnya sentimen antiimigran dan dibatasinya masuknya imigran ke Amerika, posisi sosial penggemar sepak bola pun dipertanyakan. Depresi Besar dan keruntuhan liga ini menyebabkan sepak bola terpinggirkan selama beberapa dekade dan sebagian besar tetap berada di komunitas imigran.
Foreign Policy selanjutnya merujuk pada salah satu momen terpenting dalam sejarah sepak bola Amerika; ketika tim nasional negara ini menciptakan kejutan besar di Piala Dunia 1950 dengan mengalahkan Inggris. Meskipun kemenangan ini penting, media Amerika tidak terlalu memperhatikannya dan sepak bola tetap mempertahankan posisi pinggirannya dalam budaya olahraga Amerika.
Pada dekade-dekade berikutnya, sementara sepak bola menjadi bahasa bersama bagi banyak negara yang baru merdeka dan menjadi alat diplomasi budaya selama Perang Dingin, Amerika lebih memilih untuk fokus pada olahraga seperti bisbol. Menurut penulis, pendekatan ini menyebabkan sepak bola tidak dapat menjadi bagian dari identitas nasional Amerika seperti halnya di banyak belahan dunia lain.
Laporan ini juga merujuk pada upaya-upaya dekade 1970-an untuk mempopulerkan sepak bola di Amerika. Liga Sepak Bola Amerika Utara dengan mendatangkan bintang-bintang seperti Pele berusaha membawa olahraga ini ke arus utama budaya Amerika. Namun, perubahan beberapa aturan permainan untuk menyesuaikannya dengan selera penonton Amerika menunjukkan bahwa sepak bola masih dianggap sebagai olahraga asing.
Menurut Foreign Policy, titik balik berikutnya terjadi dengan penyelenggaraan Piala Dunia 1994 dan pendirian liga profesional sepak bola Amerika. Perluasan televisi satelit dan internet juga menyebabkan jutaan orang Amerika mulai menyaksikan kompetisi klub Eropa. Akibatnya, sepak bola secara bertahap terkait dengan globalisasi, perjalanan internasional, dan budaya kelas menengah terpelajar di Amerika.
Penulis menekankan bahwa karakteristik inilah yang membawa sepak bola ke dalam perang budaya Amerika. Bagi banyak kalangan konservatif, ketertarikan pada sepak bola dianggap sebagai tanda kedekatan dengan nilai-nilai globalis dan menjauh dari tradisi Amerika. Di sisi lain, para penggemar sepak bola menganggap olahraga ini sebagai simbol keragaman budaya dan hubungan dengan dunia luar.
Foreign Policy juga menyoroti peran imigran Amerika Latin dalam pertumbuhan sepak bola dan menulis bahwa jutaan orang di Amerika mendukung tim nasional Meksiko dan kompetisi klub negara tersebut. Sementara itu, komunitas imigran yang sama dalam beberapa tahun terakhir lebih banyak terkena dampak kebijakan imigrasi keras pemerintah Trump dibandingkan yang lain.
Analisis ini menyimpulkan bahwa Piala Dunia 2026 bukan sekadar ajang olahraga, tetapi akan kembali mengajukan pertanyaan lama di hadapan masyarakat Amerika; siapa yang dianggap sebagai orang Amerika dan bagaimana identitas nasional negara ini didefinisikan. Menurut penulis, selama 150 tahun terakhir, sepak bola selalu menjadi panggung untuk mengajukan pertanyaan ini, dan kini di tengah perpecahan politik dan budaya Amerika, ia kembali memainkan peran yang sama.
Analisis Foreign Policy ini bukan sekadar narasi sejarah olahraga, tetapi cermin dari pertarungan identitas yang terus berlangsung di Amerika. Ada tiga lapis ironi yang mengiringi Piala Dunia 2026:
Pertama, Amerika merayakan 250 tahun kemerdekaannya dengan menjadi tuan rumah "pesta sepak bola dunia", sebuah olahraga yang selama ini dicap "asing" dan "tidak Amerika". Ironi ini semakin tajam ketika kebijakan migrasi Trump justru menyulitkan masuknya penggemar dan bahkan ofisial dari negara-negara peserta, seperti kasus wasit asal Somalia yang dideportasi di Miami.
Kedua, sepak bola yang dulu adalah "olahraga imigran kelas bawah" kini menjadi simbol status kelas menengah terpelajar yang "globalis". Di era Trump, ini menjadikannya sasaran empuk dalam "perang budaya" (culture war), di mana ketertarikan pada sepak bola dianggap sebagai pengkhianatan terhadap nilai-nilai "asli" Amerika. Ini bukan sekadar tentang olahraga; ini tentang siapa yang berhak mendefinisikan "ke-Amerika-an".
Ketiga, pertandingan antara Iran dan AS yang berpotensi terjadi di fase grup menjadi simbol paling pekat dari politik yang menembus lapangan hijau. Ini adalah pengulangan dari 1998, ketika pertemuan kedua negara di Piala Dunia Prancis menjadi arena "perang tiruan" (mimic warfare). Kini, dengan latar belakang perang yang sedang berlangsung, pertandingan tersebut akan menjadi lebih dari sekadar 90 menit sepak bola. Ini adalah panggung di mana politik, identitas, dan kebencian yang terpendam dapat meledak di depan mata dunia.
Seperti yang ditulis oleh seorang analis, "Sepak bola adalah kelanjutan dari politik dengan cara lain." Dan di Piala Dunia 2026, cara itu terasa lebih kasar dari sebelumnya.(Sail)