Basij dalam Perspektif Rahbar
-
Rahbar Ayatullah Khamenei
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei Rabu (27/11) pagi saat bertemu dengan ribuan anggota Basij seraya menjelaskan prinsip pembentukan Basij sebagai sebuah lembaga pengubah ancaman menjadi peluang, menekankan pentingnya peran Basij di berbagai sektor perang lunak dan keras.
Ayatullah Khamenei lebih lanjut mengisyaratkan peristiwa terbaru dan instabilitas yang dirancang di sejumlah kota Iran dan menambahkan, musuh dalam konspirasinya yang terbaru mengeluarkan dana yang sangat besar, dan berusaha mencari kesempatan untuk melakukan aksi destruktif, pembunuhan dan kejahatan. Mereka mengira kenaikan harga bensin peluang bagi mereka, dan mengerahkan pasukannya ke medan tempur, namun rakyat Iran dengan kehadiran luasnya, berhasil mematahkan gerakan musuh.
Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa Amerika Serikat melalui pengobaran perpecahan dan friksi internal, ingin melemahkan pemerintah dan menghancurkan persatuan bangsa Iran. Washington berusaha membuat Republik Islam Iran mengalami friksi politik dan kerusuhan sosial dari dalam. Hal ini sangat kentara di fitnah dan kerusuhan jalanan baru-baru ini.
Abdollah Motevalian, pakar politik dan dosen mengatakan, "Berdasarkan hasil riset lapangan, sebuah tim elit berdasarkan analisis dan penelitian di pusat-pusat penelitian dan pengembangan telah menyiapkan doktrin baru AS untuk menggulingkan Republik Islam Iran melalui "perang lunak" sebagai bagian dari Proyek "2020". Proyek ini menekankan untuk fokus pada bidang politik keamanan, ekonomi, budaya dan sosial."
Di fitnah dan peristiwa beberapa tahun lalu, serta aksi kerusuhan terbaru di sejumlah kota Iran akibat penerapan kebijakan kouta bensin, anasir yang membentuk proyek ini dapat disaksikan dengan jelas. Namun salah satu alasan penting kegagalan proyek ini adalah tidak adanya pemahaman yang benar akan poin-poin kekuatan bangsa Iran.
Menurut ungkapan Rahbar, kubu imperialis dan Amerika selama empat puluh tahun mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan Republik Islam, namun negara ini malah semakin kuat. Arahan Rahbar terkait masalah ini mengisyaratkan poin penting bahwa peran rakyat dalam melawan konspirasi musuh.
Beliau dalam kasus ini, dalam pandangan makronya, membahas ancaman yang ada dan mengapa pemerintah Islam Iran senantiasa menghadapi ancaman ini. Beliau mengingatkan, pemerintah Republik Islam Iran dibentuk berdasarkan prinsip dan nilai-nilai Islam dan Islam juga pelopor keadilan dan kebebasan. Sementara dari sisi lain, kubu imperialis pada dasarnya menentang kebebasan dan keadilan. Oleh karena itu, pemerintah Islam dengan sendirinya menjadi target ancaman imperialis dan kubu imperialis dunia.
Rahbar seraya menjelaskan contoh dari permusuhan kubu imperialis terhadap kebebasan dan keadilan di Amerika, Eropa dan negara lain menambahkan, pemerintah imperialis senantiasa melawan independensi berbagai bangsa dan melecehkannya. Di kasus ini, mereka tidak malu-malu menunjukkan niatnya, seperti yang dikatakan Amerika secara transparan bahwa mereka memasuki timur Eufrat untuk minyak Suriah atau tanpa ijin memasuki pangkalan militernya di Irak serta mengabaikan pemerintah Baghdad.
Realita saat ini menunjukkan bahwa pemerintah Islam dan bangsa Iran bersatu dan tidak terpisahkan dalam melawan konspirasi musuh serta mereka waspada akan makar musuh. Meski ada kesulitan ekonomi, mereka menekankan penindaklanjutan tuntutan mereka melalui jalur hukum dan parlemen. Mereka tidak pernah memberi kesempatan kepada musuh untuk menyalahgunakan tuntutan mereka.
Seperti yang diingatkan Rahbar, gerakan bermakna bangsa Iran sebuah tamparan kepada imperialis dan zionisme global serta memaksa mereka mundur. (MF)