Salah Kostum? Mengapa Pejabat AS Kini Menepi dari Haus Perang Netanyahu
https://parstoday.ir/id/news/world-i191222-salah_kostum_mengapa_pejabat_as_kini_menepi_dari_haus_perang_netanyahu
Pars Today - Dukungan pemerintahan Trump terhadap tindakan kriminal dan agresif Israel dalam dua tahun terakhir telah meninggalkan dampak buruk bagi posisi pemerintahan AS saat ini di mata publik domestik maupun internasional.
(last modified 2026-06-10T05:28:34+00:00 )
Jun 10, 2026 12:27 Asia/Jakarta
  • PM Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump
    PM Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump

Pars Today - Dukungan pemerintahan Trump terhadap tindakan kriminal dan agresif Israel dalam dua tahun terakhir telah meninggalkan dampak buruk bagi posisi pemerintahan AS saat ini di mata publik domestik maupun internasional.

Dilansir Pars Today, 9 Juni 2026, seiring dengan meningkatnya ketidakpuasan terhadap perang AS dan Israel melawan Iran di Amerika Serikat, para pejabat tinggi negara itu berusaha membuat jarak antara mereka dan Israel. Dalam sikap terbaru terkait hal ini, JD Vance, Wakil Presiden AS, mengklaim bahwa dalam beberapa hal, tujuan AS berbeda dengan tujuan Israel terhadap Iran, dan Washington hanya berupaya agar Iran tidak memperoleh senjata nuklir.

Donald Trump, Presiden AS, sebelumnya juga menegaskan bahwa dalam perang terhadap Iran, dirinyalah yang memutuskan, dan Benjamin Netanyahu harus mengikuti keputusan presiden AS. Padahal secara tradisional, pejabat tinggi AS, terutama dari Partai Republik, selalu mengklaim mendukung penuh kebijakan Israel dan tidak ada perbedaan antara Washington dan Tel Aviv.

Sebagai contoh, Donald Trump berulang kali mengatakan bahwa tidak ada presiden AS yang lebih pro-Israel darinya, dan selama masa kepresidenannya, kerja sama tertinggi antara AS dan Israel terjalin. Netanyahu pun berkali-kali menegaskan bahwa Israel tidak pernah memiliki sahabat sebaik Trump di Gedung Putih.

Namun, dukungan pemerintahan Trump terhadap tindakan kriminal dan agresif Israel dalam dua tahun terakhir telah meninggalkan dampak buruk bagi posisi pemerintahan AS saat ini di mata publik domestik maupun internasional. Saat ini, konsekuensi serangan AS terhadap Iran, termasuk pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, telah memberikan tekanan berat pada ekonomi rakyat Amerika. Perang ini menyebabkan lonjakan harga energi, termasuk bensin di AS, dan memperburuk inflasi di negara tersebut.

Selain itu, puluhan tentara AS tewas dalam perang ini, dan puluhan miliar dolar kerugian ditanggung ekonomi AS akibat biaya perang serta serangan Iran terhadap aset militer Amerika di kawasan Asia Barat. Hal-hal ini membuat Trump dituduh goblok dan ceroboh karena memulai perang yang tidak perlu terhadap Iran, perang yang pada urutan pertama menguntungkan kepentingan Israel, bukan AS.

Saat ini, banyak warga Amerika yang meyakini bahwa Netanyahu-lah yang telah menyeret Trump ke dalam perang yang sia-sia dan mahal melawan Iran, dan bahwa presiden AS telah menginjak-injak slogan "Amerika Pertama" demi menyenangkan kalangan Zionis. Dalam suasana seperti ini, Trump dan Vance berusaha mengubah citra tersebut di mata publik dalam dan luar negeri, serta menunjukkan Washington independen dari perilaku para Zionis.

Tidak diragukan lagi, jika posisi Israel baik di mata publik global, termasuk publik Amerika, para pejabat tinggi pemerintahan AS tidak akan mengambil pendekatan seperti ini.

Mereka berharap melalui "terapi bicara" (talk therapy), dapat membersihkan diri dari aib mengikuti jejak kejahatan dan 'napak perang' Zionis. Namun, klaim semacam itu, mengingat sejarah panjang dukungan tanpa syarat Washington terhadap Tel Aviv, terutama sikap Trump dan pemerintahannya yang mendukung penuh Netanyahu, sangat sulit dipercaya. Karena itulah Trump dan Vance terus-menerus harus berbicara di media mengenai hal ini.(Sail)