Baidinejad: Pergerakan Pengobaran Tensi Tony Blair Memalukan
https://parstoday.ir/id/news/iran-i78275-baidinejad_pergerakan_pengobaran_tensi_tony_blair_memalukan
Duta besar Iran di London, Hamid Baeidinejad menjelang penyelenggaraan sidang anti Iran Dewan Hubungan Luar Negeri AS dengan partisipasi mantan perdana menteri Inggris mengatakan, pergerakan Tony Blair untuk mengobarkan tensi sangat memalukan.
(last modified 2026-05-03T10:25:24+00:00 )
Feb 04, 2020 11:44 Asia/Jakarta
  • Hamid Baeidinejad
    Hamid Baeidinejad

Duta besar Iran di London, Hamid Baeidinejad menjelang penyelenggaraan sidang anti Iran Dewan Hubungan Luar Negeri AS dengan partisipasi mantan perdana menteri Inggris mengatakan, pergerakan Tony Blair untuk mengobarkan tensi sangat memalukan.

Dewan hubungan luar negeri AS menyatakan, Blair dijadwalkan menyampaikan orasi di pertemuan anti Iran pada Selasa (04/02).

Hamid Baeidinejad Senin (03/02) sore di akun Twitternya menulis, Tony Blair sekutu utama AS di agresi ke Irak yang dilancarkan dengan dalih palsu senjata pemusnah massal dan saat ini ia masih termasuk pendukung utama kebijakan intervensif militer di negara lain.

"Blair tidak segan-segan berusaha mengobarkan tensi baru dan menciptakan konfrontasi yang akan merenggut nyawa jutaan manusia tak berdosa," ungkap Baeidinejad.

Seraya mengisyaratkan ketergantungan finansial yayasan Tony Blair kepada sejumalh pemerintah Arab di Teluk Persia, Baeidinejad menambahkan, Blair memberi bantuan konsultasi kepada sejumlah negara Arab untuk membeli beragam senjata dari produsen khususnya Amerika Serikat.

Tony Blair menjabat perdana menteri Inggris tahun 1997-2007.

Opini publik Inggris mengenal Blair sebagai penjahat perang di agresi ke Afghanistan dan Irak tahun 2001 dan 2003.

Koran The Daily Telegraph beberapa waktu lalu melaporkan, "Tony Blair dalam koridor sebuah kesepakatan senilai 9 juta Pound memberi jasa konsultasi kepada pemerintah Riyadh. Kesepakatan ini disepakati yayasan Blair Pusat Perubahan Global dan Arab Saudi untuk mendukung rencana reformasi Mohammad bin Salman, pangeran mahkota Arab Saudi." (MF)