Iran Aktualita, 18 April 2020
-
Parade pengabdian tentara nasional Iran
Dinamika Iran selama beberapa terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai parade pengabdian yang digelar bertepatan dengan Hari tentara Nasional Iran.
Isu lainnya mengenai reaksi menlu Iran atas aksi enam kapal perang AS yang berusaha memasuki zona perarairan Iran di Teluk Persia, Iran ditunjuk menjadi wakil ketua G24 working group IMF, Presiden Iran meresmikan empat proyek penting di Tehran, Iran mengecam keputusan Trump menghentikan pendanaan WHO dan produk Iran bisa mendeteksi virus dari jarak 100 meter tanpa sampel darah.
Rahbar Sampaikan Selamat HUT Tentara Nasional Iran
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar menyampaikan selamat dan apresiasi tinggi terhadap seluruh jajaran tentara Iran.
Situs pusat penerangan militer Iran (17/4/2020) melaporkan, Brigjen Mohammad Shirazi, Jumat (17/4) dalam kontak telepon dengan Komandan Militer Iran, Mayjen Abdolrahim Mousavi, menyampaikan salam dan simpati Ayatullah Sayid Ali Khamenei kepada setiap komandan, prajurit dan keluarga militer Iran.
Brigjen Mohammad Shirazi meminta agar salam dan simpati Rahbar disampaikan kepada para komandan, prajurit dan keluarga militer di Hari Tentara Iran ini.
Tanggal 17 April atau 29 Farvardin dalam kalender Iran atas perintah Imam Khomeini ditetapkan sebagai Hari Tentara Nasional Iran.
Reuters: Rayakan HUT, Militer Iran tak Pamer Senjata tapi Alat Medis
Kantor berita Reuters mengabarkan, perayaan hari ulang tahun militer Iran tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena wabah Virus Corona.
Fars News (17/4/2020) melaporkan, kantor berita Reuters, Jumat (17/4) menulis, perayaan HUT militer Iran tahun ini menyuguhkan parade pelayanan militer dalam memerangi penyebaran Covid-19.
Reuters menambahkan, perayaan HUT militer Iran biasanya memamerkan rudal, kapal selam, kendaraan lapis baja, namun tahun ini terlihat jajaran komandan dengan mengenakan masker, meninjau barisan kendaraan penyemprot disinfektan, rumah sakit darurat dan peralatan medis lainnya.
Dalam laporan Reuters disebutkan, Komandan militer Iran, Mayjen Abdolrahim Mousavi mengapresiasi kerja lebih dari 1.100 personel kesehatan militer Iran yang tengah memerangi Corona.
"Presiden Iran Hassan Rouhani dalam pesan resminya mengatakan, disebabkan protokol kesehatan dan sosial, maka penyelenggaraan parade militer tidak mungkin dilakukan. Saat ini musuh kita tidak terlihat, dan dokter bersama para perawat berada di garda depan dalam memerangi musuh ini," pungkas Reuters.
Zarif: Nama Teluk Persia Ada Jauh Sebelum AS Berdiri !
Menteri luar negeri Iran mereaksi statemen Pusat Komando AS di Asia Barat, CENTCOM dengan memperingatkan AS mengenai cuitannya dua tahun lalu.
"Angkatan Laut AS tidak dapat menemukan jalannya di perairan Iran," tulis Zarif dua tahun lalu di akun Twitternya yang kembali diposting sebagai peringatan keras kepada CENTCOM.
Pusat Komando Angkatan Bersenjata AS di Asia Barat, CENTCOM, dalam sebuah pernyataan Kamis pagi menyatakan sebelas kapal perang Iran mendekati 6 kapal tempur Amerika Serikat.
"Nama Teluk Persia telah ada 2.000 tahun lalu jauh sebelum Amerika Serikat berdiri," cuit Zarif hari Kamis (16/4/2020).
"Mereka mungkin tidak tahu nama Teluk Persia atau tidak tahu apa yang mereka lakukan sekitar 7.000 mil dari rumah mereka di daerah Iran," tegas Menlu Iran.
Iran Ditunjuk Jadi Wakil Ketua G24 Working Group IMF
Iran ditunjuk sebagai wakil ketua pertama G24 Working Group, Dana Moneter Internasional, IMF.
Di antara tugas terpenting G24 Working Group IMF adalah meningkatkan partisipasi negara-negara berkembang dalam pengambilan keputusan IMF dan Bank Dunia.
Deputi bidang ekonomi, Bank Sentral Iran, Peyman Ghorbani dalam rapat virtual G24 Working Group IMF mengatakan, dalam tiga bulan terakhir, wabah Virus Corona telah menyebabkan sejumlah banyak nyawa manusia hilang, dan selain sangat merugikan manusia, juga menimbulkan gangguan besar terhadap perekonomian global.
Ia menambahkan, Iran dengan sekitar 77.000 kasus tertular Covid-19, dan hampir 5.000 angka kematian akibat virus ini, menerima pukulan paling berat dibandingkan negara Asia Barat lainnya, dan negara anggota G24.
Menurut Ghorbani, akibat sanksi keuangan dan bisnis menindas, dan sepihak yang dijatuhkan terhadap Iran, impor dan pasokan alat medis yang sangat dibutuhkan, tidak bisa dilakukan.
Ia menegaskan, sebagaimana yang disampaikan dalam laporan G24, bantuan finansial dan teknis maksimum dari organisasi-organisasi internasional dan regional harus diberikan kepada negara-negara anggota G24 dengan cara yang adil, dan non-diskriminatif.
Presiden Iran Resmikan Empat Proyek Penting di Tehran
Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani meresmikan empat proyek pengembangan sumber daya air dan sumber daya listrik di Tehran, ibukota Republik Islam Iran melalui konferensi video.
Unit pembangkit listrik tenaga uap Parand dan tiga fasilitas pengolahan air limbah di kota-kota Eslamshahr, Malard, dan Safadasht, di sekitar Tehran diremikan Rouhani pada hari Kamis (16/4/2020).
Keempat proyek ini telah beroperasi dengan 2,800 miliar toman investasi di Provinsi Teheran dalam kerangka program yang disebut sebagai 'A-B-Iran'. Program ini dimulai pada tahun 2019 meskipun Iran berada di bawah tekanan sanksi keji Amerika Serikat.
Kementerian Energi Iran memiliki program dan inisiatif nasional yang diluncurkan pada September 2019 untuk mengimplementasikan 227 proyek energi senilai 33.000 miliar toman di 31 provinsi di negara ini.
Dalam pembukan peresmian proyek-proyek tersebut, Presiden Iran berterima kasih kepada Menteri Energi dan semua yang bekerja di pabrik pengolahan air limbah dan pembangkit listrik Parand untuk menjalankan proyek-proyek ini.
Iran Kecam Keputusan Trump Hentikan Pendanaan WHO
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, menyampaikan keprihatinan atas keputusan presiden AS yang menangguhkan pendanaan untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di tengah pandemi Corona.
"Ini adalah contoh dari tindakan yang tidak bertanggung jawab Amerika dan kejahatan terhadap kemanusiaan," kata Sayid Abbas Mousavi, Rabu (15/4/2020).
Presiden Donald Trump pada Selasa lalu, mengatakan pemerintah AS akan menangguhkan pendanaan untuk WHO.
Mousavi mengecam keputusan tersebut dan menilainya sebagai langkah lain untuk memperlemah multilateralisme dan lembaga-lembaga internasional oleh pemerintah AS.
"Kesehatan dan keselamatan jiwa masyarakat dunia secara langsung terancam akibat wabah virus Corona. Di tengah situasi kritis ini dan perang melawan sebuah pandemi, AS secara tiba-tiba menghukum satu-satunya koordinator kesehatan dunia," ujarnya.
Menurut Mousavi, tujuan utama Trump menangguhkan pendanaan WHO adalah untuk menyalahkan pihak lain dan menutupi kelemahan pemerintah AS dalam mengendalikan wabah Corona.
Dia meminta masyarakat internasional untuk mendukung WHO demi mencegah dampak dari tindakan sepihak AS dan tetap menjaga persatuan global.
"Para politisi Amerika perlu memahami bahwa tindakan itu melanggar komitmen mereka kepada masyarakat internasional. AS tidak bisa menyandera aksi kemanusiaan global dengan menghentikan bantuan dan tekanan sepihak serta memperoleh keuntungan lewat aksi yang tidak bermoral," pungkasnya.
Saat ini jumlah orang yang terinfeksi virus Corona di seluruh dunia telah mencapai dua juta lebih. Di Amerika saja, lebih dari 644 ribu orang terpapar Corona dengan 28,529 kasus kematian.
Tanpa Sampel Darah, Produk Iran Ini Deteksi Virus dari Jarak 100 Meter
Sistem pendeteksi seketika Virus Corona yang termasuk pertama di dunia buatan pakar relawan rakyat Iran, Basij dipamerkan.
Fars News (15/4/2020) melaporkan, sistem pintar pendeteksi virus buatan Iran yang dinamai "Mostaan" diluncurkan untuk pertama kali dengan dihadiri oleh Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC Mayjen Hosssein Salami, dan Ketua Organisasi Basij Iran, Brigjen Gholamreza Soleimani.
Sistem pendeteksi virus ini dengan sedikit modifikasi, dapat diupgrade ke tingkat lebih tinggi, dan sekarang sedang dalam proses mendapatkan izin dari kementerian kesehatan Iran.
Mayjen Hossein Salami menuturkan, sistem ini dapat mendeteksi virus Corona dari jarak sekitar 100 meter.
Ia menambahkan, sistem ini tidak membutuhkan sampel darah, dan bisa mendeteksi permukaan atau tubuh manusia yang terinfeksi virus. Sistem ini sudah diuji coba di beberapa rumah sakit, dan 80 persen kinerjanya dinilai positif.
Menurut Salami, sistem ini menciptakan medan magnet, dan dengan menggunakan dua "virus dwikutub" yang ada di dalam mesin, antena alat ini mampu mendeteksi setiap lokasi yang tercemar virus sampai radius 100 meter, dalam waktu lima menit.
"Sistem ini bekerja secara pintar, selain bisa digunakan untuk screening massal, ia juga bisa mendeteksi lokasi tercemar virus di permukaan, pada saat yang sama bisa dipakai untuk sterilisasi cerdas sehingga penyemprotan disinfektan pada tempat yang tidak perlu, dapat dihindari," imbuhnya.
Brigjen Salami menegaskan, alat ini bisa menjadi metode yang sangat baik untuk mendeteksi setiap jenis virus baik Corona maupun yang lainnya. (PH)