Krisis Corona dan Harapan Timbal Balik Iran-Jepang
-
Rouhani dan Abe (Dok)
Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Tokyo karena bantuan bersahabat kepada Iran dalam melawan penyebaran wabah Corona.
Presiden Iran Selasa (05/05/2020) di kontak telepon dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe saat merespon klaim Amerika terkait kesiapan negara ini membantu Iran melawan COVID-19 mengatakan, jika Amerika jujur, maka solusi tunggal adalah mengakhiri sanksi ilegal Iran.
Agenda lain kontak telepon Rouhani dan Abe adalah kekahwatiran atas pengobaran tensi oleh Amerika di kawasan. Perdana menteri Jepang seraya menekankan bahwa di kondisi saat ini, peningkatan tensi di kawasan Asia Barat sangat mengkhawatirkan dan ia menyebut Iran sebagai salah satu negara penting dan berpengaruh dalam menerapkan perdamaian dan stabilitas di kawasan. "Tokyo akan melanjutkan kerja samanya dengan Tehran di bidang ini," tegas Abe.
Kini lebih dari dua bulan dari peyebaran wabah Corona di Iran telah berlalu. Upaya melawan dan memberantas wabah ini memiliki kesulitan besar di banding dengan negara lain di dunia seiring dengan eskalasi sanksi Amerika Serikat terhadap Tehran.
Presiden Iran sebelumnya hari Senin sore di KTT Non Blok yang digelar melalui konferensi video seraya menjelaskan dampak sanksi anti HAM AS juga menyebut sebuah kesalahan strategis lain pemerintah Gedung Putih melalui langkah tergesa-gesa, tak bertanggung jawab dan yang tidak dapat dibenarkan dalam mencegah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendapat dana yang dibutuhkan.
Petinggi Iran selama dua bulan lalu di kontak telepon serta tweet dan surat menjelaskan kepada dunia sebagian realita pahit sanksi Amerika terhadap Tehran. Jepang juga termasuk pihak yang senantiasa menjadi tujuan kontak Iran tersebut.
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif beberapa waktu sebelumnya dalam sebuah surat yang dikirim kepada Sekjen PBB, Antonio Guterres menulis, " Di saat COVID-19 menimbulkan banyak kerugian kepada Iran, kita harus memperhatikan bahwa virus tidak membedakan di antara kita. Kita sebagai manusia juga tidak harus bersikap diskriminatif dalam memerangi Corona."
Sanksi Amerika telah merusak setiap transaksi perbankan untuk membeli kebutuhan penting dan alat-alat kesehatan serta membuat partisipasi perusahaan farmasi dan makanan di kampanye anti Corona di Iran tidak mungkin. Mayoritas negara dan organisasi internasional mengumumkan berlanjutnya sanksi di kondisi pandemi Corona sebagai pelanggaran HAM.
Kecaman global ini untuk waktu singkat mungkin tidak membuat Iran mampu berbuat banyak, tapi untuk jangka panjang, akan membuat citra Amerika rusak serta pastinya dunia pasca Corona tidak akan melupakan kejahatan senyap Amerika terhadap bangsa Iran.
Sikap dan tanggung jawab berbagai negara dalam menentang aksi-aksi yang dapat merusak upaya perlawanan terhadap wabah Corona di kondisi sensitif ini sangat terpuji. Statemen presiden Iran di dialog dengan perdana menteri Jepang juga dapat dicermati di koridor ini. (MF)