Menelisik Wacana Imam Khomeini Soal Kebijakan Luar Negeri Republik Islam Iran
-
Imam Khomeini, Pendiri Republik Islam Iran
Selain menekankan perlawanan dan muqawama terhadap kekuatan arogan, Imam Khomeini juga memiliki prinsip-prinsip dan landasan intelektual yang jelas dalam hubungan dengan negara-negara lain.
Prinsip pertama dan paling penting dalam wacana Imam Khomeini tentang hubungan dengan negara lain terkait dengan negara-negara Islam adalah menempatkan "umat" menggantikan prinsip "nasionalisme". Imam Khomeini tidak memiliki pandangan murni nasionalis atau etnosentris tentang hubungan dengan negara-negara Islam, tetapi ia menganggap umat Islam sebagai "bangsa yang satu".
Dalam hal ini, Imam Khomeini menyatakan, "Islam adalah satu bangsa dan negara-negara Islam, seperti lingkungan sebuah kota, dekat satu sama lain dan semuanya diwajibkan oleh aturan Islam untuk bersatu dan semua di bawah panji tauhid dan bersatu menghadapi mereka yang menentang Islam."
Profesor Ruhollah Ramezani, profesor Iran di universitas Amerika mengatakan, "Imam Khomeini menentang nasionalisme esktrem dan murni menentang. Karena akan menyebabkan kekalahan dunia Islam, dan hal ini harus dicatat bahwa kepentingan dan kejayaan Islam harus menjadi kebijakan negara-negara Islam, bukan hanya kepentingan nasional."
Salah satu prinsip dasar terpenting dalam wacana Imam Khomeini tentang hubungan dengan negara lain adalah saling menghormati. Pendiri Revolusi Islam Iran percaya pada interaksi dengan negara-negara lain dalam kebijakan luar negeri, tetapi ia menganggap kondisi dasar interaksi ini sebagai saling menghormati.
Dalam hal ini, Imam Khomeini menyatakan, "Hubungan kita dengan semua negara asing akan didasarkan pada prinsip saling menghormati. Dalam hal ini, kita tidak akan menyerah pada penindasan dan kita tidak akan menindas siapa pun."
Atas dasar inilah, Imam Khomeini menolak kapitulasi di era Pahlavi dalam hubungannya dengan Amerika Serikat, dan juga menekankan kebangkitan bangsa-bangsa selama Revolusi Islam dan membela kebangkitan Islam.
Prinsip fundamental lain dalam wacana Imam Khomeini tentang hubungan dengan negara adalah perdamaian. Imam Khomeini telah menyerukan perdamaian berdasarkan prinsip dan kedudukan agamanya sebagai pemimpin agama, dan percaya penuh pada prinsip strategis ini. Dalam hal ini, Imam Khomeini mengatakan, "Bangsa dan negara Republik Islam Iran tunduk pada aturan suci al-Quran dan Islam. Menurut hukum al-Quran, mereka menganggap dirinya sebagai saudara orang beriman di semua bangsa Islam dan berbagai negara dalam hal budaya dan geografi, dan mencari perdamaian dan hidup berdampingan secara damai dengan semua negara dan bangsa. Selama sebuah negara tidak mengagresi teritorial mereka dan komitmen dengan hukum Islam, mereka adalah saudara kami."
Prinsip penting lainnya dalam wacana Imam Khomeini tentang hubungan dengan negara-negara lain adalah tidak campur tangan dalam urusan internal. Prinsip ini adalah salah satu fondasi intelektual terpenting Imam dalam kebijakan luar negeri. Bahkan, dari sudut pandang Imam Khomeini, perdamaian diciptakan dalam bayangan negara-negara yang tidak ikut campur dalam urusan internal masing-masing.
Imam Khomeini dalam hal ini mengatakan, "Kami berharap perdamaian dunia akan didasarkan pada kemerdekaan negara-negara dan tidak ada campur tangan dalam urusan masing-masing, dan kepatuhan terhadap prinsip integritas teritorial dari negara-negara di kawasan, dan setiap serangan terhadap dunia ketiga dan negara-negara Islam, terutama di wilayah ini bertentangan dengan norma-norma."
Prinsip-prinsip ini dalam wacana Imam Khomeini di bidang kebijakan luar negeri adalah penolakan atas semua klaim yang dibuat oleh kekuatan Barat dan beberapa pemerintah yang berafiliasi di wilayah tersebut mengenai campur tangan Republik Islam Iran dalam urusan dalam negeri negara-negara di kawasan itu atau ketegangan di kawasan Asia Barat.