Iran Aktualita, 4 Oktober 2020
-
Konflik antara Azerbaijan dan Armenia di Karabakh
Dinamika Iran sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai seruan Presiden Iran terhadap pemimpin Armenia dan Azerbaijan untuk meredakan konflik di Karabakh.
Selain itu, Menlu Iran bertolak ke Kuwait menemui Emir baru, Komandan IRGC menyatakan bahwa kebijakan Rahbar mengubur harapan musuh, kedirgantaraan militer Iran masuk 10 besar dunia, kapal tanker bermuatan bensin Iran tiba di Venezuela dan Ilmuwan Iran menolak tawaran menjadi mata-mata AS.
Presiden Iran Serukan Konflik di Karabakh Diakhiri
Presiden Iran Hassan Rouhani, menyampaikan kekhawatiran atas pertempuran yang terjadi antara Armenia dan Republik Azerbaijan, dan mengatakan segala bentuk intervensi asing dalam konflik ini akan memperburuk situasi.
Hal itu disampaikan Rouhani dalam sambungan telepon dengan Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan pada hari Rabu (30/9/2020).
Presiden Iran menekankan pentingnya perdamaian, stabilitas, dan keamanan di kawasan. Menurutnya, wilayah Asia Barat tidak mampu lagi menerima beban instabilitas dan perang baru.
Mengacu pada konflik panjang Armenia dan Republik Azerbaijan terkait wilayah Karabakh, Rouhani menuturkan sengketa ini harus diselesaikan dalam kerangka hukum internasional dan integritas teritorial.
“Menghentikan pertempuran ini penting bagi Iran, dan Tehran berharap agar Yerevan dan Baku sama-sama memilih menahan diri,” imbuhnya.
Munurut Rouhani, perang bukan solusi untuk mengatasi konflik dan perselisihan. Campur tangan asing dalam konflik ini bukan hanya tidak membantu memecahkan masalah, tetapi justru memperpanjang pertempuran dan memperburuk situasi.
Berbicara tentang pentingnya hubungan Iran dengan Republik Azerbaijan dan Armenia, Rouhani mengumumkan kesiapan Tehran untuk memainkan peran konstruktif yang diterima oleh kedua negara sahabat dan tetangga ini.
Sementara itu, Nikol Pashinyan mengakui bahwa konflik dan pertempuran akan merugikan negara-negara di kawasan, dan ia menyambut segala bentuk inisiatif praktis untuk menghentikan kekerasan.
Dia juga menyampaikan kekhawatiran atas segala bentuk intervensi asing dalam konflik Armenia dengan Republik Azerbaijan.
Menlu Iran Bertolak ke Kuwait Temui Emir Baru
Menteri Luar Negeri Iran, Minggu (4/10/2020) bertolak ke Kuwait, dan bertemu dengan Emir baru negara itu.
Kemenlu Iran (4/10) mengumumkan, Mohammad Javad Zarif mewakili Presiden Iran Hassan Rouhani berkunjung ke Kuwait untuk menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Sheikh Sabah Al Ahmad Al Jaber Al Sabah, Emir Kuwait terdahulu, kepada rakyat dan pemerintah negara itu.
Dalam lawatan tersebut, Zarif juga bertemu dengan Emir baru Kuwait, Sheikh Nawaf Al Ahmad Al Sabah.
Menlu Iran kepada Emir Kuwait yang baru menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Sheikh Sabah, dan mengucapkan selamat atas pengangkatan Sheikh Nawaf. Zarif juga menegaskan dukungan Iran terhadap Kuwait.
Komandan IRGC: Kebijakan Rahbar Kubur Harapan Musuh
Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, IRGC mengatakan, ancaman musuh dalam bentuk yang lebih berbahaya, dan semakin rumit terus berlanjut, namun kebijakan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, telah memupus harapan musuh.
Mayjend Hossein Salami, Senin (28/9/2020) menuturkan, dalam perang, pemenang adalah yang terkuat, namun yang mengejutkan, di perang Pertahanan Suci, sebuah bangsa yang tidak siap, berhasil memenangkan peperangan luas.
Ia menambahkan, Imam Khomeini mengetahui dan menyaksikan akhir perang ini, dan memahami apa yang dipikirkan musuh, beliau tahu apa yang akan terjadi dengan perang, dan wilayah geografisnya.
Komandan IRGC menegaskan, Rahbar, Ayatullah Khamenei telah menggagalkan rencana musuh untuk memanfaatkan fitnah ekonomi, dan sekarang negara-negara dunia mengenal Pemimpin Iran sebagai orang yang independen, berani, dan mulia, dan mereka tahu bangsa Iran menginginkan perdamaian yang bermartabat.
Hajizadeh: Kedirgantaraan Militer Iran Masuk 10 Besar Dunia
Komandan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran, Brigjen Hajizadeh menyatakan bahwa Iran bertengger di posisi tinggi dunia dalam bidang swasembada teknologi pertahanan, khususnya di bidang kedirgantaraan.
Brigjen Hajizadeh dalam pembukaan pameran prestasi pasukan dirgantara Sepah Pasdaran hari Minggu (27/9/2020) di Tehran mengatakan bahwa saat ini, Iran termasuk di antara 10 negara teratas di bidang rudal permukaan-ke-permukaan, pertahanan udara dan radar, UAV, peperangan elektronik, dan satelit.
"Kelemahan di bidang pertahanan akan menyebabkan kehancuran negara," ujarnya.
Pameran yang dibuka oleh ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf ini juga dihadiri Mayor Jenderal Hossein Salami selaku komandan IRGC dan sejumlah komandan serta pejabat tinggi Iran.
Pameran militer ini menampilkan sejumlah prestasi dan kemampuan strategis angkatan udara IRGC di bidang rudal, UAV, satelit dan sistem pertahanan, dan peperangan elektronik, serta capaian pusat penelitiannya.
Kapal Tanker Bermuatan Bensin Iran Tiba di Venezuela
Di tengah ancaman sabotase Amerika Serikat, kapal tanker berbendera Iran, Forest, berhasil memasuki zona ekonomi eksklusif Venezuela pada hari Senin (28/9/2020).
Reuters (29/9/2020) melaporkan, Forest yang merupakan satu dari tiga kapal Iran yang mengangkut bahan bakar bensin untuk Venezuela, tiba di negara itu hari Senin (28/9) pukul 12:05 waktu setempat.
Menurut keterangan Refinitiv Eikon, kapal berbendera Iran ini melewati Samudra Atlantik, dan Laut Karibia tanpa gangguan apapun.
Dua kapal tanker Iran lainnya bernama Faxon, dan Fortune akan menempuh rute yang sama, dan diperkirakan tiba di Venezuela awal Oktober 2020 mendatang.
Kapal tanker Forest diketahui membawa sekitar 270.000 barel bahan bakar untuk Venezuela.
Ilmuwan Iran Tolak Tawaran Jadi Mata-mata AS
Sebuah majalah mingguan Amerika Serikat pada pertengahan September 2020 memuat laporan tentang kegagalan Dinas Intelijen Amerika merekrut salah seorang ilmuwan Iran untuk menjadi mata-mata negara ini.
Dalam laporan yang dimuat pada 14 September 2020, The New Yorker menulis, ilmuwan Iran, Siroush Asgari pada 21 Juni 2017 berangkat ke New York untuk mengunjungi putranya, namun saat Asgari turun dari pesawat, dua pejabat Amerika mendekatinya, dan membawanya ke sebuah ruangan yang di dalamnya sudah ada beberapa pejabat FBI.
Petugas FBI kemudian membawa Asgari ke sebuah hotel, dan menyerahkan surat dakwaan sebanyak 12 lembar kepadanya. Dalam surat itu Asgari dituduh melakukan pencurian rahasia dagang, melanggar surat pengajuan visa, dan pelanggaran-pelanggaran lainnya.
Menurut The New Yorker, sebelum penangkapan ini, pada bulan April 2013, Asgari pernah menemukan kartu nama terjatuh di luar pintu apartemennya. Kartu nama itu milik seorang agen spesial FBI bernama Matthew Olson, dan di baliknya terdapat catatan untuk Asgari agar menghubunginya.
Akhirnya karena takut ditangkap, Sirous Asgari menghubungi Olson dan bertemu di satu tempat. Di sana agen FBI kepada Asgari berkata, jika Anda mau menandatangani surat yang dipegang seseorang di kafe ini, Anda akan menerima uang sebesar 5000 dolar. Asgari sadar bahwa Olson tidak datang untuk menangkapnya tapi untuk mengajaknya bekerja sama menjadi mata-mata.
Kemudian Asgari mengalihkan pandangan kepada orang yang dimaksud Oslon, dan berkata, saya tidak akan menandatangani surat itu, dan tidak akan menerima satu sen pun dari FBI.(PH)