Brasil dan Jerman Desak Diplomasi Intensif Akhiri Perang terhadap Iran
-
Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva
Pars Today - Brasil dan Jerman menyerukan peningkatan upaya diplomatik untuk mengakhiri perang agresif AS dan rezim Zionis terhadap Iran.
Melaporkan dari Anadolu, IRNA pada Selasa, 21 April 2026, Kanselir Jerman Friedrich Merz dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva di kota Hannover, Senin (20/4/2026), menyatakan bahwa pemerintah mereka telah mengerahkan seluruh kemampuan dan mendukung upaya untuk mencapai kesepakatan diplomatik cepat antara AS dan Iran.
Lula da Silva juga menyatakan keprihatinannya atas perang terhadap Iran dan Lebanon. "Kami sangat khawatir dengan bahaya perang di Iran dan eskalasi konflik di Lebanon. Kelangsungan hidup negara Palestina dan rakyatnya juga terus terancam," ujarnya.
Perang 40 Hari dan Gencatan Senjata
Perang Ramadan, serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran, dimulai pada 28 Februari 2026. Setelah 40 hari, Presiden AS Donald Trump, Selasa malam (7 April 2026), dalam pernyataannya di Truth Social, mengumumkan untuk mengambil sikap mundur dan siap untuk gencatan senjata.
Pada dini hari 8 April 2026, kedua pihak menyepakati gencatan senjata dua minggu dengan mediasi Pakistan untuk mengadakan negosiasi guna mengakhiri perang. Namun, pengingkaran janji dan ketamakan AS dalam negosiasi Islamabad menghalangi tercapainya kerangka kerja bersama dan kesepakatan.
Pernyataan Dewan Tinggi Keamanan Nasional
Dewan Tnggi Keamanan Nasional, dalam pernyataannya pada 18 April 2026, menegaskan bahwa delegasi negosiator Iran tidak akan berkompromi, mundur, atau lalai sedikit pun.
"Tim Iran akan membela kepentingan dan kemaslahatan bangsa Iran dengan segenap kemampuannya, serta menjaga darah para syuhada mulia yang telah tertumpah dalam perang ini demi mempertahankan kemerdekaan, martabat, dan kehormatan Iran, terutama darah suci Pemimpin yang lebih kami cintai dari jiwa kami sendiri," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Dua negara besar, Brasil dari Amerika Selatan dan Jerman dari jantung Eropa, bersuara: cukup perang, saatnya diplomasi. Ini bukan sekadar pernyataan simpati. Ini tekanan moral pada Washington untuk menghentikan petualangan militernya.
Lula, yang dikenal vokal melawan imperialisme, dan Merz, yang mewakili suara Eropa yang mulai lelah dengan perang, sama-sama mengkhawatirkan eskalasi. Mereka tahu bahwa perang ini tidak hanya merusak Iran dan Lebanon, tetapi juga stabilitas global.
Pertanyaannya: apakah Trump akan mendengar seruan ini? Atau ia akan terus mengandalkan ancaman dan blokade, sementara dunia mulai berbalik arah?
Satu hal yang pasti: tekanan diplomatik terhadap AS semakin menguat. Dan jika Washington terus bersikeras pada jalur konfrontasi, mereka mungkin akan mendapati diri mereka semakin terisolasi.(sl)