Korban Luka Tentara AS Bertambah Jadi 415
https://parstoday.ir/id/news/world-i188752-korban_luka_tentara_as_bertambah_jadi_415
Pars Today - Pentagon, dalam pembaruan terbaru, mengumumkan bahwa jumlah tentara Amerika yang terluka dalam perang agresif terhadap Iran meningkat menjadi 415 orang.
(last modified 2026-04-21T04:14:07+00:00 )
Apr 21, 2026 11:10 Asia/Jakarta
  • Tentara AS tewas (dok)
    Tentara AS tewas (dok)

Pars Today - Pentagon, dalam pembaruan terbaru, mengumumkan bahwa jumlah tentara Amerika yang terluka dalam perang agresif terhadap Iran meningkat menjadi 415 orang.

Melaporkan dari USA Today, IRNA pada Selasa, 21 April 2026, sementara sebelumnya diumumkan bahwa jumlah korban luka mencapai 399 orang, pembaruan Pentagon pada hari Senin (20/4) menunjukkan angka tersebut kini naik menjadi 415 personel.

Berdasarkan data ini, rincian korban luka menurut cabang militer adalah sebagai berikut:

Angkatan Darat: 271 personel

Angkatan Laut: 63 personel

Angkatan Udara: 62 personel

Marinir: 19 personel

Menurut data yang dilaporkan sebelumnya, 13 personel militer AS juga tewas.

Perang 40 Hari dan Gencatan Senjata

Perang Ramadan, serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran, dimulai pada 28 Februari 2026. Setelah 40 hari, Presiden AS Donald Trump, Selasa malam (7 April 2026), dalam pernyataannya di Truth Social, mengumumkan untuk mengambil sikap mundur.

Pada dini hari 8 April 2026, kedua pihak menyepakati gencatan senjata dua minggu dengan mediasi Pakistan untuk mengadakan negosiasi guna mengakhiri perang. Namun, pengingkaran janji dan ketamakan AS dalam negosiasi Islamabad menghalangi tercapainya kerangka kerja bersama dan kesepakatan.

Angka tidak berbohong. 415 tentara AS terluka, 13 tewas. Ini bukan "perang terbatas" yang dulu dijanjikan Trump. Ini adalah gencatan senjata tanpa kemenangan, di mana nyawa dan luka terus bertambah bahkan setelah pertempuran resmi berhenti.

Militer AS terluka parah di medan yang tidak pernah mereka kuasai. Dan sementara para pejabat di Washington masih berbicara tentang "kesiapan berdialog", di lapangan, keluarga-keluarga Amerika sedang berduka.

Pertanyaannya: sampai kapan Trump akan terus bermain api dengan retorika, sementara tentaranya membayar harga dengan darah dan luka?

Satu hal yang pasti: setiap eskalasi baru hanya akan menambah angka di kolom "korban", tanpa pernah mengubah kenyataan bahwa Iran tidak akan menyerah.(sl)