Iran Aktualita 10 Oktober 2020
https://parstoday.ir/id/news/iran-i86117-iran_aktualita_10_oktober_2020
Dinamika Iran selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai reaksi Iran terhadap sanksi baru AS.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Okt 10, 2020 19:04 Asia/Jakarta
  • Bank Sentral Iran
    Bank Sentral Iran

Dinamika Iran selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai reaksi Iran terhadap sanksi baru AS.

Selain itu, Iran mengirim surat protes ke Azerbaijan dan Armenia dalam masalah konflik di Nagorno-Karabakh, Iran meresmikan radar baru Qadir, warga Iran Peringati Arbain dan Tehran menerapkan wajib pakai masker mulai 10 Oktober 2020.

 

Presiden Iran, Hassan Rouhani

 

Rouhani: Sanksi AS tidak Mampu Mematahkan Perlawanan Iran

Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan langkah AS menciptakan hambatan di jalur pasokan obat-obatan, tidak akan mampu mematahkan perlawanan bangsa Iran.

Hal itu disampaikan Rouhani dalam pembicaraan dengan Gubernur Bank Sentra Iran Abdolnaser Hemmati di Tehran, Jumat (9/10/2020).

"Tindakan pemerintah AS merupakan upaya propaganda-politik untuk kepentingan internalnya," ujar Rouhani.

Menurutnya, tindakan dan perilaku sia-sia Amerika adalah kelanjutan dari kesalahan strategis Donald Trump yang meninggalkan perjanjian nuklir JCPOA.

"Pemerintah AS lewat analisa yang keliru, percaya bahwa sanksi akan mematahkan perlawanan rakyat dan membuat bangsa Iran dalam masalah, tetapi perjalanan waktu membuktikan bahwa analisa itu benar-benar jauh dari kenyataan dan tidak afektif," tambahnya.

Departemen Keuangan AS pada Kamis kemarin, menjatuhkan sanksi terhadap 18 bank dan lembaga keuangan Iran.

AS, lanjut Rouhani, selalu menghadapi kegagalan setiap kali mengulangi kesalahan strategis tersebut dan contoh terbaru adalah ketika mereka mengaktifkan mekanisme Snapback.

Dia menuturkan semua negara memandang bahwa tindakan AS ini benar-benar bertentangan dengan hukum dan aturan internasional, dan tindakan yang diambil di tengah pandemi Corona ini sepenuhnya melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Orang-orang yang mengaku membela HAM di dunia harus mengecam langkah ini.

Sementara itu, Gubernur Bank Sentral Iran mengatakan pemerintah AS dengan bermacam alasan, menciptakan hambatan serius dalam transfer valuta asing untuk membeli makanan dan obat-otaban, tapi tidak ada kekurangan berkat upaya Bank Sentral, bank-bank lain, dan para pebisnis Iran melalui cara-cara khusus.

 

Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif

 

Tehran Tanggapi Sanksi Baru Trump terhadap 18 Bank Iran

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, mengecam sanksi baru Amerika Serikat terhadap sejumlah bank di Iran.

"Ini adalah upaya untuk menghancurkan saluran terakhir untuk membayar makanan dan obat-obatan di tengah pandemi virus Corona," tulis menlu Iran via akun Twitter-nya seperti dikutip Farsnews, Kamis (8/10/2020).

Zarif menambahkan rezim AS di tengah pandemi global Corona, berniat menghancurkan saluran keuangan kami yang tersisa untuk membayar makanan dan obat-obatan.

"Rakyat Iran sanggup menanggung penindasan baru ini, tetapi konspirasi untuk membuat sebuah masyarakat kelaparan adalah kejahatan terhadap kemanusiaan," tegasnya.

Zarif memperingatkan bahwa para pelaku dan pelaksana tindakan kejam ini akan menghadapi keadilan.

Departemen Keuangan AS pada Kamis kemarin, menjatuhkan sanksi terhadap 18 bank Iran.

Presiden Donald Trump menjalankan kebijakan tekanan maksimum terhadap Iran setelah AS meninggalkan perjanjian nuklir secara ilegal pada Mei 2018.

 

Saeed Khatibzadeh

 

Iran Kirim Surat Protes ke Azerbaijan dan Armenia

Kementerian Luar Negeri Iran mengirimkan surat protes kepada Azerbaijan dan Armenia atas pelanggaran integritas teritorial Iran dan ancaman terhadap keamanannya setelah mortir yang ditembakkan oleh kedua pihak jatuh di wilayah Iran.

Juru bicara Kemenlu Iran, Saeed Khatibzadeh dalam konferensi pers hari Rabu (7/10/2020) mengatakan selain langkah tersebut, satuan penjaga perbatasan Iran telah menindaklanjuti kasus ini dalam pertemuan dengan penjaga perbatasan Azerbaijan dan Armenia.

"Mereka melayangkan surat protes resmi atas pelanggaran wilayah perbatasan Iran oleh kedua negara tetangga itu," jelasnya.

Khatibzadeh menambahkan, Kemenlu mengirimkan surat resmi kepada Azerbaijan dan Armenia serta menyuarakan protes keras pemerintah Iran atas pelanggaran integritas wilayahnya, gangguan keamanan, dan kerugian materi yang diderita oleh warganya setelah mortir dan roket dari pertempuran di Karabakh menghantam wilayah Iran.

"Republik Islam sama sekali tidak mengenal kata kompromi ketika menyangkut keamanan warga negara Iran," tegasnya.

"Kami meminta kedua pihak untuk menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Iran sejalan dengan hubungan persahabatan dan prinsip-prinsip bertetangga yang baik. Kami juga meminta mereka untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan guna mencegah terulangnya insiden yang tidak dapat diterima tersebut," pungkas Khatibzadeh.

 

Radar Qadir

 

Iran Resmikan Radar Baru Qadir

Komandan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran menyebut sistem radar Qadir sebagai prestasi besar yang berperan penting dalam pertahanan Iran.

Mayor Jenderal Seyyed Abdol Rahim Mousavi hari Selasa (6/10/2020)  mengatakan, "Dengan peluncuran radar Qadir, kekuatan deteksi dan kendali pertahanan udara terhadap semua bagian wilayah udara Iran telah meningkat dari sebelumnya,".

Mayjen Mousavi mengungkapkan sekitar 20 tahun yang lalu, banyak sistem radar Iran yang gagal, karena kurangnya beberapa komponen, tapi kini  pemuda Iran memiliki kemampuan untuk membangun radar canggih.

Pada peresmian bergabungnya radar Qadir dalam sistem pertahanan udara Iran, Komandan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran, Brigjen Hajizadeh menyatakan bahwa negaranya bertengger di posisi tinggi dunia dalam bidang swasembada teknologi pertahanan, khususnya di bidang kedirgantaraan.

"Sebanyak 20 negara dunia memiliki kemampuan membuat radar sendiri, dan Iran termasuk di antara 10 negara teratas di bidang tersebut," tegasnya.

 

Warga Iran Peringati Arbain

Pada hari Kamis, 8 Oktober 2020 20 yang bertepatan dengan Safar 1442 H adalah hari memperingati Arbain Huseini. Warga di Republik Islam Iran mengikuti peringatan peristiwa penting ini dengan tetap mentaati protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Virus Corona, COVID-19.

Arbain adalah peringatan mengenang 40 hari Kesyahidan Imam Husein as, Cucu Baginda Nabi Muhammad Saw yang dibantai bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya oleh pasukan Yazid di padang Karbala pada tanggal 10 Muharram 61 H.

Imam Hussein, keluarga dan para sahabatnya gugur syahid pada 10 Muharam 61 Hijriah di Karbala atau yang dikenal dengan Tragedi Asyura. Meski telah berlalu berabad-abad, namun peristiwa heorik itu tidak pernah berkurang urgensi dan kedudukannya, bahkan semakin berlalu, pesan Asyura justru semakin tersebar luas.

 

 

Tehran Terapkan Wajib Pakai Masker Mulai 10 Oktober

Deputi Menteri Kesehatan Iran, Iraj Harirchi mengatakan Tehran akan menerapkan peraturan wajib menggunakan masker mulai Sabtu depan, 10 Oktober 2020.

“Mengenai besaran denda terhadap orang yang tidak menggunakan masker dan cara-cara penegakan aturan ini sedang dibahas,” ujarnya dalam sebuah pernyataan, Selasa (6/10/2020).

Harirchi menambahkan sebuah aturan juga telah disusun untuk menghukum individu yang tahu dirinya terinfeksi Covid-19, tetapi ia tetap berinteraksi dengan masyarakat.

Salah satu cara penularan virus Corona yang paling umum adalah melalui droplet ketika berbicara, batuk dan bersin. Oleh sebab itu, penggunaan masker yang benar menjadi sangat penting untuk mencegah penularan virus.

Kasus infeksi virus Corona di Iran telah mencapai 495.253 kasus per 10 Oktober 2020. Jumlah kematian meningkat menjadi 28.293 kasus dan sebanyak 403.950 orang juga dinyatakan sembuh.(PH)