Iran Aktualita 18 Oktober 2020
https://parstoday.ir/id/news/iran-i86343-iran_aktualita_18_oktober_2020
Dinamika di Republik Islam Iran selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya, 18 Oktober hari pencabutan sanksi senjata Iran dan Tehran mulai hari ini dapat mengekspor dan mengimpor senjata.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 18, 2020 10:35 Asia/Jakarta
  • Sanksi anti Iran
    Sanksi anti Iran

Dinamika di Republik Islam Iran selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya, 18 Oktober hari pencabutan sanksi senjata Iran dan Tehran mulai hari ini dapat mengekspor dan mengimpor senjata.

Selain itu, masih ada isu lainnya seperti acara duka wafatnya Rasul, Imam Hasan Mujtaba dan Imam Ridha as bersama Rahbar, Rahbar: AS Tidak akan Bisa Patahkan Kekuatan Iran, Iran tanggapi peluru nyasar ke wilayahnya akibat konflik di Karabakh, Upaya Iran kejar asetnya di luar negeri, RS IRGC siap layani pasien Corona dan berbagai isu lainnya.

Mulai Hari Ini, 18 Oktober, Iran Bisa Ekspor-Impor Senjata Lagi

Embargo senjata Republik Islam Iran, akhirnya setelah 10 tahun, hari ini, Minggu (18/10/2020) secara otomatis berakhir berdasarkan resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB.

Senjata Iran

Fars News (18/10) melaporkan, Minggu (18/10) dinihari pembatasan senjata Iran, di tahun kelima kesepakatan nuklir JCPOA, secara otomatis berakhir, dan mulai sekarang pembatasan ekspor dan impor persenjataan dari dan ke Iran, dicabut, begitu juga larangan bepergian 23 pejabat negara ini, berdasarkan resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB.

Pencabutan pembatasan senjata Iran terjadi di tengah upaya Amerika Serikat yang dalam beberapa bulan terakhir berusaha memperpanjang embargo senjata Iran. Akan tetapi draf resolusi yang diajukan Washington di DK PBB hanya mendapat 2 suara setuju, 2 menentang, dan 11 abstain, sehingga gagal untuk disahkan.

Berdasarkan resolusi 1747 DK PBB yang dirilis Maret 2007, sanksi terhadap pengembangan program rudal balistik Iran diterapkan, dan segala bentuk ekspor maupun impor senjata berat oleh negara ini dilarang.

Setelah itu resolusi 1979 DK PBB yang disahkan pada 9 Juni 2010 melarang semua negara mengirim tank, kendaraan lapis baja, jet tempur, helikopter serbu, artileri kaliber besar, kapal militer, rudal dan sistem serta suku cadang terkait, ke Iran.

Namun hari ini, 18 Oktober 2020 berdasarkan resolusi 2231 DK PBB semua pembatasan itu habis masa berlakunya.

Iran Rilis Pernyataan Resmi Soal Pencabutan Embargo Senjata

Kementerian Luar Negeri Iran merilis pernyataan resmi terkait berakhirnya pembatasan senjata Iran dan mengumumkan, hari ini Iran dapat kembali memasok segala jenis persenjataan, dan peralatan militer yang dibutuhkan dari semua sumber tanpa pembatasan hukum, dan hanya berdasarkan keperluan pertahanannya. Iran sesuai dengan kebijakannya, mulai sekarang juga bisa mengekspor senjata.

IRNA (18/10/2020) melaporkan, Kemenlu Iran mengatakan, hari ini adalah hari yang sangat penting bagi masyarakat dunia, dan berbeda dengan upaya rezim Amerika, mereka telah menjaga resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB, dan Rencana Aksi Bersama Komprehensif, JCPOA.

Ditambahkannya, salah satu inovasi JCPOA adalah bahwa pencabutan pembatasan senjata Iran yang dilakukan secara pasti dan tanpa syarat, serta pencabutan aturan pelarangan bepergian, tidak membutuhkan pengesahan resolusi baru, atau pernyataan dan langkah lain DK PBB.

Kemenlu Iran menekankan berlanjutnya kebijakan luar negeri Tehran yang menolak dominasi, dan tekanan dalam bentuk apapun.

"Pemaksaan segala bentuk pembatasan, sampai kapanpun tidak akan pernah diakui secara resmi oleh Iran," imbuhnya.

Menurut Kemenlu Iran, Republik Islam Iran dengan bersandar pada kemampuan, dan kapasitas dalam negeri, telah memenuhi kebutuhan pertahanannya. Doktrin ini tetap merupakan poros utama, dan asasi dari seluruh langkah Republik Islam Iran dalam menjaga kekuatan defensifnya.

Di akhir statemennya Kemenlu Iran menjelaskan, Amerika yang dengan segala konspirasi buruknya berusaha sekuat tenaga melanggar resolusi DK PBB, dan dalam tiga bulan terakhir, beberapa kali ditolak secara tegas oleh DK PBB, harus berhenti merusak resolusi 2231, dan patuh sepenuhnya pada komitmen Piagam PBB, serta berhenti melakukan langkah yang melanggar hukum internasional, mengakhiri sikap abai terhadap aturan internasional, dan menghindari tindakan yang bisa mengacaukan kawasan Asia Barat.

Majelis Duka Mengenang Wafat Rasulullah Saw Bersama Rahbar

Majelis duka mengenang waftanya Nabi Muhammad Saw, dan gugurnya Imam Hassan Mujtaba as, hari ini Jumat (16/10/2020) digelar di Husseiniyah Imam Khomeini, Tehran, dan dihadiri Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei.

Rahbar Ayatullah Khamenei

Dalam acara duka yang hanya dihadiri sedikit orang karena mematuhi protokol kesehatan itu, Hujatulislam Hamed Kashani dalam ceramahnya menjelaskan sejumlah poin tentang teladan hidup Nabi Muhammad Saw, dan Ahlul Bait.

Hamed Kashani menjelaskan, memperhatikan bantuan Ilahi dalam setiap kalkulasi, dan tidak lelah dalam berjuang di jalan Tuhan, merupakan dua bagian dari rasionalitas.

Ia menambahkan, di hadapan musuh kita harus mengerahkan semua kekuatan, dan potensi, namun sejarah Islam menunjukkan setiap kali umat Islam hanya bersandar dan bangga dengan sebab-sebab materi, mereka selalu menemui kegagalan.

Pada peringatan duka mengenang wafatnya Rasulullah Saw ini, pelantun syair Ahlul Bait juga melantunkan kidung dukanya.

Hari ini, Jumat (16/10/2020) bertepatan dengan 28 Shafar 1442 Hijriah Qamariyah, adalah hari wafatnya Rasulullah Saw, dan gugurnya Imam Hassan Mujtaba as, Imam Ketiga Syiah.

Rahbar Hadiri Acara Duka Kesyahidan Imam Ridha as

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menghadiri acara duka memperingati kesyahidan Imam Ali bin Musa ar-Ridha as.

Acara yang berlangsung sebelum Dzuhur tersebut diselenggarakan di Huseiniyah Imam Khomeini ra di Tehran, ibu kota Republik Islam Iran, Sabtu (17/10/2020).

Tanggal 30 Safar 203 H, Imam Ridha as gugur syahid. Beliau adalah cicit Rasulullah Saw. Beliau dimakamkan di Mashhad, timur laut Republik Islam Iran.

Imam Ridha as lahir pada tahun 148 Hijriah di kota Madinah. Beliau menjadi imam setelah ayahnya Imam Musa Kazhim as gugur syahid.

Imam Ali bin Musa as dipanggil Ridha karena sikap rela dan gembira menerima apa yang dikaruniakan kepadanya.

Makmun, Khalifah Bani Abbas pada tahun 200 Hijriah memerintahkan Imam Ridha as untuk pergi ke Marv, yang terletak di tenggara Turkmenistan sekarang yang dulunya merupakan bagian dari Khorasan Besar.

Meskipun Makmun melantik Imam Ridha as menjadi penggantinya, tetapi sebenarnya hal itu dengan berniat untuk memperkokohkan pemerintahannya. Dalam kondisi ini, Imam terpaksa menerimanya.

Kedudukan tinggi ilmu dan spiritual Imam Ridha as dan pengaruhnya yang semakin berkembang dalam opini umum secara berangsur-angsur menyebabkan Makmun menjadi takut. Akhirnya Makmun meracuni Imam Ridha as.

Di antara kata-kata hikmah yang dapat dipetik dari kata-kata beliau adalah "Hamba Allah terbaik adalah mereka yang merasa senang setiap kali berbuat baik dan segera meminta ampunan setiap kali berbuat salah. Mereka akan bersyukur atas setiap nikmat yang dianugerahkan kepadanya, dan ketika dililit masalah, mereka tetap bersabar dan tidak murka."

Rahbar: AS Tidak akan Bisa Patahkan Kekuatan Iran !

Panglima Besar Angkatan Bersenjata Iran mengatakan sepak terjang premanisme Amerika Serikat tidak akan bisa melemahkan kekuatan pertahanan, rudal, dan kemampuan regional Iran.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam acara wisuda perwira angkatan bersenjata Iran yang berlangsung di Universitas Imam Ali, yang disampaikan melalui video konferensi hari Senin (12/10/2020) mengatakan, "Omong besar pejabat Amerika dipicu ketakutan dan keterbelakangan mereka sendiri. Sebab, dengan agitasi yang berkembang saat ini, Iran masih bisa menjaga institusi kalkulasi rasionalnya, dan Republik Islam akan terus maju di berbagai bidang,".

Ayatullah Khamenei

Di bagian lain pidatonya, Rahbar menyinggung ekspresi kepuasan Presiden AS atas gangguan ekonomi dan berbagai kejahatan lainnya terhadap bangsa Iran, dengan menambahkan bahwa sikap bangga mereka terhadap kejahatan semacam itu hanya datang dari orang-orang keji.

"Tapi lihatlah situasi Amerika Serikat sendiri saat ini dengan ribuan miliar dolar defisit anggaran serta puluhan juta kelaparan dan orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan yang menunjukkan kondisi sulit. Sementara itu, bangsa Iran akan mengatasi kesulitan dengan kekuatan iman dan tekad nasional menghadapi pejabat AS yang keji, pengkhianat dan kriminal, dengan menggunakan sanksi sebagai sarana untuk benar-benar memperkuat perekonomian nasionalnya," ujar Rahbar.

Mengenai kondisi dalam negeri, Ayatullah Khamenei menekankan pentingnya mengatasi masalah yang menimpa saat ini.

"Masalah ekonomi dan mata pencaharian rakyat bisa diselesaikan dengan syarat pejabat bekerja keras sepanjang waktu bersama manajemen yang kuat, komprehensif dan tak kenal lelah serta fokus terhadap produksi dalam negeri dan tidak mengandalkan luar negeri," papar Ayatullah Khamenei.

"Kebisingan yang dibuat preman global semacam Amerika tidak boleh menggangu kita untuk terus berkarya," tegas panglima besar angkatan bersenjata Iran.

Ayatullah Khamenei juga menyinggung dinamika dan ancaman yang menghadang, dengan mengatakan bahwa penanganannnya membutuhkan program baru dan menekankan urgensi penelitian di universitas Angkatan Bersenjata Iran untuk mengantisipasi ancaman baru dan mengidentifikasi cara dalam menghadapinya.

Iran Terus Kejar Pemulangan Aset yang Diblokir di Luar Negeri

Presiden Iran Hassan Rouhani menekankan perlunya upaya serius agar bisa mengakses sumber-sumber valuta asing milik Iran yang diblokir.

Presiden Hassan Rouhani

"Meski sanksi AS telah menciptakan kondisi yang sulit bagi transaksi ekonomi Iran, namun upaya untuk bisa memanfaatkan aset tersebut telah membuahkan hasil," ujarnya dalam rapat terbatas bidang ekonomi kabinet di Tehran, Selasa (13/10/2020).

"Alokasi dana untuk membeli kebutuhan pokok dan kebutuhan untuk produksi dalam negeri akan terus dilakukan," tambahnya.

Pada kesempatan itu, Rouhani menerima laporan dari Menlu Mohammad Javad Zarif tentang hasil-hasil kunjungannya ke Cina, dan menekankan bahwa Iran memberikan prioritas untuk memperkuat hubungan dengan Cina, para tetangga, dan negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU) di semua bidang termasuk energi dan teknologi.

"Pemerintah Iran ingin agar pelaksanaan perjanjian dengan negara-negara kawasan dipercepat. Dalam hal ini, komisi ekonomi bersama perlu melakukan pertemuan, namun kebijakan ekspor harus tetap menjadi prioritas dalam berbisnis dengan Timur dan para tetangga," imbuhnya.

Di akhir pertemuan, Rouhani menyoroti kerja sama dengan negara-negara anggota EAEU dan mengatakan kerja sama tersebut sangat penting dalam masalah ekonomi.

"Iran karena posisi geografisnya yang baik dapat menjadi jalur yang tepat untuk transit produk dari negara-negara EAEU," pungkasnya.

Iran dan Malaysia Bertekad Perluas Hubungan Perdagangan

Duta Besar Iran untuk Malaysia, Ali Asghar Mohammadi mengatakan, Tehran dan Kuala Lumpur sedang mengkaji cara-cara untuk mengembangkan hubungan perdagangan dan ekonomi kedua negara.

Mohammadi pada Selasa (13/10/2020) malam, bertemu dengan Menteri Industri dan Perdagangan Internasional Malaysia, Azmin Ali di Kuala Lumpur untuk membahas masalah itu.

Kedua pihak berbicara tentang kemajuan yang dicapai dalam pembicaraan bilateral mengenai kesepakatan tarif preferensial, perkembangan bisnis di tengah situasi saat ini, dan pentingnya menggelar pertemuan komisi bersama ekonomi.

Mohammadi lebih lanjut menjelaskan langkah-langkah yang diambil pemerintah Iran dalam penanganan wabah Corona dan kendala dalam memperoleh barang-barang penting seperti, obat-obatan dan peralatan medis karena sanksi kejam AS.

Dia menyebut kematian yang ditimbulkan oleh kebijakan tidak manusiawi AS sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dubes Iran juga menyampaikan minat Tehran untuk mengembangkan hubungan dengan Kuala Lumpur di bidang kesehatan dan keamanan pangan.

Sementara itu, Azmin Ali menyuarakan solidaritas dengan rakyat Iran dalam melawan sanksi kejam AS, dan menekankan tekad pemerintah Malaysia untuk memperkuat hubungan dengan Iran.

"Mempertahankan dan memperluas hubungan dengan Tehran merupakan bagian dari kebijakan permanen Kuala Lumpur," ujarnya.

Dia berharap pertemuan komisi bersama ekonomi dapat segera digelar setelah pembatasan yang terkait penanganan virus Corona dicabut.

Seluruh RS IRGC Iran Disiagakan untuk Layani Pasien Corona

Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), mengatakan seluruh kapasitas IRGC di semua bidang termasuk angkatan darat, angkatan laut, dan Basij dikerahkan untuk melayani pasien Corona.

Komandan IRGC Hossein Salami

Hal itu disampaikan oleh Brigjen Hossein Salami dalam pertemuan dengan menteri dan para deputi Kementerian Kesehatan Iran pada Selasa (13/10/2020) sore.

"Medan perlawanan terhadap wabah Corona merupakan sebuah ujian yang sangat besar di mana komunitas medis telah memperlihatkan konsep-konsep indah seperti, kemuliaan, pengorbanan, kesetiaan, dan dedikasi," kata Brigjen Salami.

Dia memuji upaya para pegawai kementerian kesehatan dan menambahkan bahwa pasti pengorbanan komunitas medis akan dikenang oleh rakyat Iran dan peran mereka akan diingat selamanya.

"IRGC berada pada formasi tempur, berperang melawan virus Corona. Hari ini kapasitas IRGC di seluruh negeri dikerahkan untuk melayani kementerian kesehatan dan rakyat Iran," tegas Brigjen Salami.

Dalam pertemuan itu, Komandan Angkatan Laut IRGC, Laksanama Muda Ali Reza Tangsiri mengatakan sejumlah rumah sakit lapangan di Iran sudah dioperasikan untuk melayani pasien Corona.

"Sejak mewabahnya virus Corona di Iran, pasukan angkatan laut IRGC sudah menyalurkan 39 ribu paket bantuan ke daerah-daerah yang sangat membutuhkan," jelasnya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Iran Saeed Namaki menuturkan sanksi kejam Amerika Serikat telah menghambat pasokan obat-obatan dan peralatan medis.

Namaki lebih lanjut menambahkan uji coba vaksin Corona buatan Iran pada hewan menunjukkan hasil yang baik dan vaksin ini akan segera dilakukan uji coba pada manusia.