Mewaspadai Perilaku Nakal Trump di Teluk Persia
https://parstoday.ir/id/news/iran-i88805-mewaspadai_perilaku_nakal_trump_di_teluk_persia
Kebijakan Republik Islam Iran mengenai keamanan regional berpijak pada partisipasi kolektif. Demikian juga dengan keamanan di Teluk Persia.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Des 30, 2020 15:04 Asia/Jakarta
  • Presiden Donald Trump.
    Presiden Donald Trump.

Kebijakan Republik Islam Iran mengenai keamanan regional berpijak pada partisipasi kolektif. Demikian juga dengan keamanan di Teluk Persia.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, menekankan perlunya partisipasi semua negara di kawasan untuk memastikan stabilitas dan keamanan yang komprehensif. Hal ini disampaikan dalam pembicaraan telepon dengan Menlu Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani pada Selasa (29/12/2020) malam.

Zarif juga memperingatkan gerak-gerik mencurigakan Amerika Serikat di kawasan, dan menegaskan Washington bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap petualangannya.

Pernyataan menlu Iran tentang menjaga stabilitas dan keamanan regional memiliki dua aspek kepentingan strategis. Pertama, menitikberatkan pada prinsip “keamanan untuk semua” yang dibangun atas dasar persatuan regional dan pemahaman bersama tentang konsep keamanan kolektif, tanpa intervensi dan kebutuhan akan kehadiran militer asing.

Pendekatan ini merupakan prasyarat untuk membangun keamanan dalam konteks kepentingan kolektif, yang tidak hanya penting untuk keamanan di Teluk Persia, tetapi juga untuk perdamaian dan keamanan dunia.

Kedua, pernyataan Menlu Zarif menjelaskan pandangan Iran mengenai perkembangan regional dan petualangan AS di hari-hari terakhir masa jabatan Presiden Donald Trump.

Amerika Vs Iran.

Iran tidak pernah memulai perang di kawasan atau di luar kawasan, tetapi siap mempertahankan keamanannya dengan kekuatan jika diancam atau diserang. Kebijakan dan tindakan Republik Islam dalam menghadapi ancaman termasuk perang, terorisme, dan gangguan maritim, didefinisikan sesuai dengan doktrin militer tentang pencegahan dan netralisir ancaman.

Tehran menyerukan kerja sama dan partisipasi negara-negara di kawasan dalam prakarsa keamanan bersama. Presiden Hassan Rouhani dalam pidatonya pada Sidang Majelis Umum PBB 2019, mengusulkan proposal Perdamaian Hormuz yang didasarkan pada keamanan kolektif.

Pengalaman menunjukkan bahwa kehadiran militer AS di kawasan telah memicu meningkatnya ancaman dan ketidakamanan. Afghanistan dan Irak adalah dua contoh penting dalam hal ini. Kehadiran militer AS di Teluk Persia juga membawa dampak yang sama.

Menlu Iran sebelum ini juga menanggapi klaim-klaim tak berdasar para pejabat AS terhadap Republik Islam.

“Angkatan Laut AS sepertinya tidak dapat menemukan jalannya di perairan kita, mungkin karena mereka belum tahu namanya. Teluk Persia memiliki nama yang sama 2.000 tahun sebelum AS lahir. Atau mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan di sekitar rumah kita yang jaraknya 7.000 mil dari rumah mereka,” ujar Zarif dalam sebuah twit.

Kebijakan regional AS yang berbiaya mahal di wilayah Asia Barat dan Teluk Persia telah gagal. Opsi meningkatkan ketegangan dan memicu konflik dengan perilaku nakal sepertinya akan menjadi warisan terakhir Trump di kawasan ini. (RM)