Peringatan Zarif kepada Pemerintah Donald Trump
https://parstoday.ir/id/news/iran-i88893-peringatan_zarif_kepada_pemerintah_donald_trump
Menyusul pergerakan terbaru Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia dan Irak, menteri luar negeri Republik Islam Iran mengungkapkan, ada data dari Irak yang menunjukkan konspirasi untuk mencari-cari alasan guna mengobarkan perang.
(last modified 2026-02-16T14:31:37+00:00 )
Jan 01, 2021 18:45 Asia/Jakarta
  • Menlu Iran Mohammad Javad Zarif
    Menlu Iran Mohammad Javad Zarif

Menyusul pergerakan terbaru Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia dan Irak, menteri luar negeri Republik Islam Iran mengungkapkan, ada data dari Irak yang menunjukkan konspirasi untuk mencari-cari alasan guna mengobarkan perang.

Mohammad Javad Zarif Kamis (31/12/2020) di cuitan Twitternya menulis, Presiden AS Donald Trump menghambur-hamburkan miliaran dolar untuk mengirim pesawat pembom B-52 dan armada perang ke kawasan ketimbang melawan pandemi Corona di Amerika Serikat.

Baru-baru ini berbagai media melaporkan, kapal selam nuklir Amerika memasuki kawasan Teluk Persia dan dua pesawat pembom B-52 Amerika juga dilaporkan mendarat di pangkalan udara al-Udeid Qatar serta terbang di zona udara Teluk Persia.

Pesawat Pembom B52

Menyimak berbagai pergerakan Amerika dalam beberapa hari terakhid di kawasan Teluk Persia, sebagian menilainya sekedar manuver politik dan pertahanan, bukan barisan perang. Sementara berbagai media Amerika seperti Televisi CNN memperingatkan keputusan yang diambil pemerintah negara ini di hari-hari terakhir kekuasaan Donald Trump di Gedung Putih.

Sejarah kontemporer menunjukkan Iran bukan pemicu perang, namun dengan tegas akan membela rakyat, keamanan dan kepentingan nasionalnya dari setiap serangan. Pengalaman perang delapan tahun yang dipaksakan rezim Saddam Husein di Irak kepada Iran, merupakan contoh penuh pelajaran berharga bagi pihak lain terkait ketegasan Iran dalam menghadapi setiap agresi di berbagai level.

Meski demikian sejumlah pihak meyakini bahwa pergerakan Amerika di kawasan Teluk Persia dan Irak menjelang peringatan haul Syahid Qasem Soleimani, komandan pasukan Quds IRGC sekedar defensif dan Amerika khawatir atas balasan tegas Iran atas teror ini. Petinggi Republik Islam Iran berulang kali menekankan, akan mengambil balasan keras atas syahidnya Letjen Qasem Soleimani dari Amerika di tempat dan waktu yang tepat.

Sejumlah pakar meyakini bahwa pergerakan militer Amerika di kawasan Teluk Persia bersifat politik dan dampak dari kegagalan politik, pemikiran dan prestise Donald Trump di masyarakat Amerika serta upaya menciptakan kondisi sulit bagi presiden mendatang negara ini.

Penanganan keliru dalam melawan pandemi Corona, kesulitan ekonomi warga Amerika yang rentan serta penentangan pendekatan sepihak pemerintah Donald Trump di tingkat nasional dan internasional berujung pada kekalahan presiden Amerika ini di pemilu 3 November 2020 lalu dan Trump sepertinya memilih petualangan di luar perbatasan negaranya demi membebaskan diri dari atmosfer ini.

Shahriar Heydari, wakil ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran Kamis (31/12/2020) kepada Iranpress ketika merespon pergerakan AS di kawasan Teluk Persia mengatakan, isu utama adalah transformasi politik Amerika di mana pejabat tinggi negara ini dari sisi psikologis sangat marah dan bahwa Trump tidak bersedia menyerahkan kekuasaan kepada Joe Biden dan berusaha membuat proses transisi ini di kondisi perang; kondisi ini sebuah langkah berbahaya bagi Amerika.

Ini bukan pertama kalinya Amerika mengirim pesawat pembom B-52 atau armada perang ke Teluk Persia, dan tentunya struktur politik di Amerika dan pendekatan masyarakat internasional tidak akan memberi kondisi yang mudah bagi Trump yang suka berpetualang.

Meski demikian Republik Islam Iran dari sisi militer tercatat sebagai kekuatan unggul di kawasan dan tidak takut atas langkah militer potensial Amerika di kawasan Teluk Persia. (MF)