Zarif Tolak Seruan Menlu AS soal Perjanjian Nuklir
https://parstoday.ir/id/news/iran-i90320-zarif_tolak_seruan_menlu_as_soal_perjanjian_nuklir
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, mengatakan saat ini Amerika Serikat harus kembali ke dalam perjanjian nuklir JCPOA dan mematuhi semua kewajibannya.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jan 30, 2021 11:27 Asia/Jakarta
  • Mevlut Cavusoglu (kiri), Recep Tayyip Erdogan (tengah) dan Mohammad Javad Zarif.
    Mevlut Cavusoglu (kiri), Recep Tayyip Erdogan (tengah) dan Mohammad Javad Zarif.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, mengatakan saat ini Amerika Serikat harus kembali ke dalam perjanjian nuklir JCPOA dan mematuhi semua kewajibannya.

Hal itu disampaikan Zarif dalam konferensi pers dengan mitranya dari Turki, Mevlut Cavusoglu di Ankara, Jumat (29/1/2021).

Zarif menganggap seruan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken agar Iran lebih dulu kembali ke JCPOA sebagai tidak rasional dan mustahil terjadi. "Logika mengatakan, AS yang keluar dari perjanjian tersebut, jadi mereka yang harus kembali lebih dulu," tegasnya.

Dia menjelaskan bahwa JCPOA disusun di tengah iklim ketidakpercayaan sehingga ada mekanisme bahwa jika salah satu pihak tidak mematuhi perjanjian, maka pihak lain juga dapat menangguhkan pemenuhan kewajibannya.

Amerika, lanjut Zarif, tidak hanya menarik diri dari perjanjian, tetapi juga menekan dan menjatuhkan sanksi terhadap negara-negara yang mematuhi JCPOA, dan ini merupakan contoh nyata dari pelanggaran hukum.

Menlu Iran menegaskan bahwa setelah AS kembali ke dalam perjanjian nuklir dan kami pun merasakan manfaatnya, Iran akan segera memenuhi kewajibannya secara penuh, seperti yang diumumkan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam.

Di bagian lain, Zarif mengatakan Republik Islam Iran dan Turki memiliki hubungan yang sangat baik dalam kondisi apapun.

"Iran dan Turki memiliki kerja sama di berbagai masalah regional. Hari ini, kami memiliki kesempatan khusus untuk bekerjasama tidak hanya di Suriah, tetapi juga di wilayah Kaukasus," ujarnya.

"Ada peluang kerja sama enam negara di wilayah Kaukasus di bidang konstruksi, transportasi darat, energi, dan kereta api," ungkap Zarif. (RM)