Iran Umumkan Syarat Jika AS Ingin Hidupkan JCPOA
-
Sayid Abbas Araqchi (tengah) di Wina.
Kepala delegasi Iran dalam pertemuan Komisi Bersama JCPOA, mengatakan Tehran tidak tertarik untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir secara bertahap.
Sayid Abbas Araqchi dalam wawancara dengan Press TV di Wina, Austria, Selasa (6/4/2021) malam, menuturkan pembicaraan teknis tentang pencabutan sanksi dan langkah-langkah Iran dalam JCPOA akan dilanjutkan.
“Para negosiator akan berada di Wina untuk mengadakan pertemuan lain pada hari Jumat,” tambahnya.
Araqchi menegaskan Amerika Serikat harus mencabut sanksi Iran sekaligus jika benar-benar ingin bergabung kembali dengan perjanjian nuklir, yang ditinggalkannya sekitar tiga tahun lalu.
“Pencabutan sanksi AS merupakan langkah pertama dan terpenting untuk menghidupkan kembali JCPOA,” tegasnya.
Araqchi menggarisbawahi bahwa Iran siap menghentikan langkah-langkah kompensasi di sektor nuklir segera setelah sanksi dicabut dan setelah diverifikasi, dan kembali menerapkan JCPOA secara penuh.
Dia menjelaskan pertemuan Wina tidak menghadirkan perwakilan AS, dan itu hanya melibatkan Iran dengan negara-negara anggota JCPOA yang tersisa; Rusia, Cina, Prancis, Inggris, dan Jerman.
Komisi Bersama JCPOA mengadakan pembicaraan putaran pertama selama satu jam di kota Wina, dengan dihadiri perwakilan dari Iran dan Kelompok 4+1.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh mengatakan jika AS ingin menyelamatkan perjanjian nuklir JCPOA, mereka harus mencabut semua sanksi.
Khatibzadeh kepada Press TV, Selasa (6/4/2021) malam, menuturkan Tehran sama sekali tidak menerima rencana bertahap untuk menghidupkan perjanjian nuklir 2015 ini. (RM)