Mencermati Pesan Rahbar atas Kemenangan Muqawama Palestina
-
Pertemuan Rahbar dan Ismail Haniyah (dok)
Serangan keji dan agresi Israel ke Jalur Gaza dan Tepi Barat serta pada akhirnya sikap rezim ini yang menerima kekalahan memalukan, telah berakhir.
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei Jumat (21/5/2021) sore seraya merilis statemen menjelaskan bahwa ujian beberapa hari ini membuat bangsa Palestina semakin bermartabat. Rahbar menambahkan, "Berlanjutnya kejahatan dan permintaan gencatan senjata, keduanya adalah kekalahan Israel. Rezim Zionis terpaksa menerima kekalahan ini."
Isyarat Rahbar atas dua kekalahan bagi Israel mengindikasikan sejumlah poin penting dalam menganalisa dampak dari perang 12 hari Jalur Gaza.
Poin pertama berkaitan dengan muqawama. Berdasarkan indeks di medan perang, kubu muqawama meski militer Israel memiliki kemampuan besar, tapi dengan baik mampu menunjukkan perbedaan kualitas dan kuantitas cukup besar di perang ini. Kemampuan rudal muqawama salah satu elemen penting dan vital di perang menentukan ini, di mana konstelasi perang pada akhirnya menguntungkan kubu muqawama.
Poin kedua, pembentukan mata rantai baru di proses muqawama Palestina. Resistensi kubu muqawama Palestina hingga sebelum perang 12 hari didasarkan pada pusat-pusat perlawanan terpisah di Quds atau di beberapa bagian Jalur Gaza atau Tepi Barat. Teladan ini mulai berubah di perang "Pedang Quds" dan memberi efek penting. Urgensitas perubahan ini yang berubah menjadi persatuan kubu muqawama, sangat menentukan bagi nasib dan masa depan Palestina.
Di pesan Rahbar disebutkan bahwa perubahan ini sebuah ujian bagi solusi masa depan Palestina. Rahbar menjelaskan, "Ujian kerja sama Quds dan Tepi Barat dengan Gaza serta bumi pendudukan 48 serta berbagai kamp pengungsi, menunjukkan solusi bagi masa depan rakyat Palestina."
Berbeda dengan perang 22 hari, 51 hari dan 8 hari kubu muqawama di Gaza dengan Israel, kali ini seluruh faksi muqawama bersatu melawan agresi Zionis. Seperti yang dikatakan Sekjen Jihad Islam Palestina, Ziyad al-Nakhalah,"Itu adalah pertempuran penting dalam sejarah konflik dengan musuh Zionis yang menyebabkan penyatuan kelompok-kelompok Palestina yang belum pernah terjadi sebelumnya."
Ghassan Jawad, penulis dan pakar politik Lebanon di analisanya saat membahas prestasi besar ini mengatakan, "Saat ini muqawama Palestina di Gaza menciptakan konstelasi baru di intifada, dan tengah memulihkan kekuatan defensif serta menyesuaikan keseimbangan kekuatan demi kepentingan faksi muqawama."
Poin ketiga adalah kian terkuaknya kelemahan rezim Zionis dalam menghadapi muqawama bangsa Palestina. Di perang Gaza, untuk pertama kalinya sejak tahun 2006, unit udara Israel mulai kehilangan peran menentukannya dan pasukan darat juga tidak memiliki kesiapan untuk menghadapi pejuang Palestina. Ini adalah fakta yang diakui Mantan menteri peperangan Israel, Avigdor Lieberman. Ia mengatakan, "Jika kondisi kita seperti saat menghadapi Hamas, lantas bagaimana kondisi kita nantinya dalam menghadapi muqawama Lebanon dan Iran ?"
Kini mayoritas Zionis mengakui bahwa Israel tidak memiliki masa depan di kawasan ini. Ketidakmampuan di bidang pertahanan, kian rentannya kondisi dalam negeri, kegagalan menyatukan warga Palestina di bumi pendudukan 1948 dengan komunitas Zionis serta munculnya perpecahan di kepercayaan Zionis atas masa depan hasil kekalahan terbaru.
Poin terakhir adalah tanggung jawab internasional Dunia Islam menindaklanjuti kejahatan Israel.
Dari perspektif ini, negara-negara Islam berada di posisi terbaik untuk membela hak bangsa Palestina, di mana mereka diharapkan untuk mengambil tindakan dengan benar atas tanggung jawabnya tersebut. Rahbar di pesannya seraya menjelaskan bahwa Dunia Islam memiliki tanggung jawab dan kewajiban agama di isu Palestina, mengatakan, "Seluruh pejabat penting rezim Israel dan pribadi Benjamin Netanyahu penjahat, harus diseret ke pengadilan internasional yang independen, dan dihukum, hal ini akan terwujud berkat bantuan Ilahi, 'Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya'."