Di Balik Kemenangan Mahathir (1)
-
PM Malaysia, Mahathir Mohamad
Kemenangan koalisi oposisi anti pemerintah Pakatan Harapan (PH) menyingkirkan koalisi partai berkuasa Barisan Nasional (BN) dalam pemilu raya ke-14 Malaysia memberi warna baru terhadap sejarah negara Asia tenggara ini.
Kemenangan koalisi pimpinan Mahathir Mohamad ini menimbulkan banyak pertanyaan, terutama tentang faktor apa yang menyebabkan kemenangan Pakatan Harapan dalam pemilu tersebut. Apakah kehadiran politisi kawasan berusia lanjut seperti Mahathir Mohamad menjadi faktor kemenangan tersebut ataukah ada faktor lain yang signifikan memberikan kontribusi penting.
Banyak faktor memberikan sumbangan penting terhadap kemenangan Pakatan Harapan yang secara umum terdiri dari tidak faktor utama yaitu: faktor struktur politik domestik, korupsi dan kebijakan luar negeri, serta faktor lain seperti media sosial.
Dari aspek struktur politik domestik, kemenangan Pakatan Harapan tidak bisa dilepaskan dari figur Mahathir sendiri. Pengalamannya sebagai perdana menteri terlama di Malaysia dari 1981 hingga 2003 memberikan pengaruh besar terhadap pembangunan Malaysia dengan berbagai capaian keberhasilannya.
Mahathir membuka ruang kepada para kader yang lebih muda di koalisi Barisan Nasional untuk memimpin, sehingga generasi baru Malaysia bisa muncul. Anwar Ibrahim dan Najib Razak adalah salah satu kaderan Mahathir yang berhasil mencapai posisi wakil perdana menteri dan perdana menteri.
Meskipun sudah lengser, Mahathir juga dikenal sebagai kritikus yang lantang berteriak terhadap penerusnya Abdullah Badawi, dan Najib Razak yang terpilih sebagai perdana menteri di tahun 2015.
Pada 29 Februari 2016, Mahathir resmi berhenti dari UMNO seiring menguatnya dukungan UMNO untuk Perdana Menteri Najib Razak yang terbelit kasus korupsi. Tak lama kemudiaan, pada 9 September 2016, Mahathir Mohamad mendaftarkan Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) yang dipimpinnya sebagai partai resmi yang baru, dan dirinya menjadi ketua partai. Ia kemudian dikenal sebagai kritikus terkuat dan kubu oposisi pemerintahan Najib Tun Razak.
Pada 8 Januari 2018, Mahathir diumumkan sebagai kandidat perdana menteri dari koalisi tersebut. Pencalonan ini tak lepas dari rencana koalisi untuk memintakan pengampunan bagi Anwar Ibrahim jika Mahathir menang, dan menyerahkan peran perdana Menteri kepadanya. Setelah pemilu menang dan Mahathir menjabat sebagai perdana menteri, langkah pertama yang dilakukan adalah memintakan pengampunan bagi pembebasan Anwar Ibrahim.
Pada Rabu 16 Mei 2018, Anwar dinyatakan bebas dari penjara setelah mendapat pengampunan atas kasus sodomi yang dituduhkan Mahathir hingga mengirimnya ke penjara selama tiga tahun terakhir. Bersatunya kembali Anwar dan Mahathir dalam satu kubu membuat Pakatan Harapan memiliki dukungan kuat di tengah masyarakat Malaysia.
Malaysia memakai sistem first-past-the-post seperti yang diterapkan di Inggris dalam pemilu. Di bawah sistem ini, setiap distrik menetapkan anggota parlemen dengan suara terbanyak. Pemenang akan langsung menggugurkan kandidat lainnya, tidak peduli jumlah selisih suara mereka, atau yang dikenal sebagai winner takes all.
Pilihan raya Malaysia yang berlangsung 9 Mei diikuti oleh 14,940,624 orang dengan tingkat partisipasi 82,23 persen sebesar 12,299,514 orang. Berdasarkan pengumuman Komisi Pemilihan Umum Malaysia, koalisi Pakatan Harapan (PH) pimpinan Mahathir Mohamad meraih 113 kursi dari total 222 kursi parlemen. Sementara koalisi partai berkuasa Barisan Nasional (BN) pimpinan Najib Tun Razak meraih 79 kursi, Partai PAS pimpinan Abdul Hadi Awang mendapat 18 kursi serta seluruh partai lainnya 12 kursi.
Mahathir bin Mohamad yang lahir pada 10 Juli 1925 adalah seorang politikus kawakan Malaysia yang tahu benar watak politik masyarakat Malaysia. Keputusannya untuk bergabung dengan Pakatan Harapan yang dipimpin oleh mantan rivalnya dilakukan dengan kalkukasi matang.
Mahathir bergabung dengan koalisi oposisi Pakatan Harapan yang dipimpin Anwar Ibrahim. Tapi karena Anwar dipenjara disebabkan kasus yang dibantahnya sendiri, maka kendali koalisi dipimpin oleh istrinya. Presiden Pakatan Harapan, Wan Azizah Wan Ismail, telah menjadi Pemimpin Oposisi Malaysia sejak 18 Mei 2015.
Koalisi Pakatan Harapan melakukan berbagai aksi protes dalam untuk menggalang dukungan massa, terutama dari kalangan muda Malaysia. Bergabungnya berbagai elemen dalam koalisi ini menunjukkan kekuatan yang bisa diperhitungkan, sehingga Mahathir bergabung dengan kaolisi tersebut.
Selain kejelian dan kecerdasan Mahathir membaca peta dinamika politik dalam negerinya, kehadiran Wan Azizah wan Ismail bersama suaminya Anwar Ibrahim yang dipenjara ketika itu sebagai kekuatan bagi Pakatan Harapan yang sebelumnya bernama Pakatan Rakyat.
Anwar pernah menjadi wakil Mahathir saat menjabat perdana menteri sebelum dipecat pada 1998, dan dipenjarakan dengan tuduhan sodomi dan korupsi. Ketika itu, Mahathir mengatakan, dia harus menyingkirkan Anwar karena "tidak cocok menjadi perdana menteri". Tapi Anwar membantah tuduhan yang diarahkan kepadanya rekayasa karena Mahathir terancam dengan popularitasnya yang terus naik.
Pada saat dibebaskan tahun 2004, Anwar membentuk gerakan "reformasi" menentang koalisi Barisan Nasional yang saat itu masih dipimpin Mahathir Mohamad. Gerakan itu terbukti cukup ampuh dan menjadikan oposisi sebagai kekuatan baru yang harus diperhitungkan. Pendahulu Pakatan Harapan, yaitu koalisi Pakatan Rakyat, sukses memberikan pukulan telak untuk Barisan Nasional pada pemilu 2008 dan 2013.
Sikap Mahathir yang bersekutu dengan mantan rivalnya ini dilakukan karena Anwar yang berjuang bersama istri dan puterinya masih memiliki pengaruh yang besar di Malaysia. Salah satu hasil dari kesepakatan politik antara mereka adalah Mahathir Mohamad setelah kemenangannya dalam pemilu, langsung mengajukan permohonan pengampunan dan pembebasan Anwar Ibrahim dari penjara.
Korupsi yang merebak di tubuh petahana yang didukung koalisi Barisan Nasional menimbulkan kebencian masyarakat terhadap kekuatan politik Malaysia yang tidak pernah terkalahkan sejak Malaysia berdiri tahun 1957. Slogan besar Barisan Nasional "Membuat Malaysia Hebat" hanya mampu meraih dukungan 4,080,797 suara atau 33.80 persen dalam pilihan raya dikalahkan Pakatan Harapan dengan 48,31 persen suara.
Faktor lain dari struktur politik Malaysia yang menyebabkan kemenangan Pakatan Harapan dalam pemilu Mei lalu adalah kekuatan solid koalisi ini yang merangkut minoritas dan kelompok etnis lain seperti Cina dan India, serta perhatian terhadap kaum muda.
Salah satu tuntutan yang kemudian dipenuhi Mahathir setelah terpilih sebagai perdana menteri adalah komposisi kaum muda untuk memimpin di kabinetnya. Nama Ketua Pemuda Parti Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) Syed Saddiq Abdul Rahman yang kini menjabat sebagai menteri pemuda dan olahraga dan Yeo Bee Yin sebagai Menteri Energi, Teknologi, Sains, Perubahan Iklim, dan Lingkungan Hidup Malaysia yang dilantik pada Senin, 3 Juli 2018 lalu sebagai bukti Mahathir mewujudkan janji politiknya.
Tokoh lain seperti Mohammad Sabu yang keluar dari PAS dan mendirikan Partai Amanah Negara bergabung dengan koalisi Pakatan Harapan memperkuat posisi koalisi hingga berhasil mengalahkan incumbent dalam pilihan raya kali ini. (PH)