Iran Aktualita 3 November 2018
-
Pawai akbar 13 Aban, Hari Nasional Melawan Arogansi Global.
Dinamika Iran pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya jutaan orang Iran mengikuti peringatan Arbain di Karbala, rakyat Iran pada Ahad (4/11/2018) besok akan memperingati Hari Nasional Melawan Arogansi Global, Amerika Serikat akan menerapkan sanksi tahap kedua terhadap Iran pada 4 Novemver besok, dan menteri luar negeri Iran hadiri sidang Dewan Menlu D-8 di Turki.
Jutaan Warga Iran Mengikuti Peringatan Arbain di Karbala
Lebih dari 1,6 juta warga Iran mengikuti peringatan hari Arbain tahun ini di Karbala, Irak. Sekitar 2.000 peziarah dari berbagai negara juga melintasi perbatasan Shalamcheh, Iran untuk mengambil bagian dalam peringatan Arbain. Jumlah peziarah asing yang memilih berangkat dari wilayah Iran naik 40 persen dibandingkan tahun lalu. Kebanyakan peziarah asing berasal dari India, Afghanistan, Pakistan, Azerbaijan, Rusia, Turki, dan Indonesia.
Pawai akbar menuju Karbala kembali dimulai pada tahun 2003 dan setelah tumbangnya rezim Saddam di Irak. Sebanyak 3 juta orang mengambil bagian pada tahun pertama acara. Pawai akbar Arbain adalah simbol persatuan dan solidaritas dan merupakan salah satu dari pelajaran kebangkitan Karbala. Kehadiran jutaan peziarah Iran dan negara lain memiliki pengaruh spiritual yang harus selalu dipertahankan.
Arbain adalah hari berkabung di mana kaum Muslim, terutama kelompok Syiah memperingati hari ke-40 setelah kesyahidan Imam Husein as, cucu Rasulullah Saw. Setiap tahun, jutaan Muslim Syiah pergi ke makam Imam Husein di Karbala dengan berjalan kaki untuk mengikuti peringatan Arbain.
Presiden Iran Hassan Rouhani menggambarkan pawai Arbain sebagai demonstrasi kekuatan di hadapan musuh-musuh Islam, dan mengatakan Arbain adalah simbol perlawanan terhadap penindasan dan pembelaan atas kebebasan.
"Pesan Arbain adalah perang melawan penindasan, membela kebebasan, dan kemerdekaan, tidak tunduk di hadapan musuh dan tiran, memerangi terorisme serta melakukan upaya menuju keamanan dan perdamaian global," kata Rouhani pada sidang kabinet hari Rabu (31/10/2018).
Presiden Iran menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemerintah dan rakyat Irak atas pelayanan mereka dengan mengatakan, “Rakyat Irak, terutama warga Karbala selalu menjadi tuan rumah yang baik bagi para peziarah Arbain."
13 Aban, Hari Nasional Melawan Arogansi Global
Rakyat Iran pada Ahad (4/11/2018) besok akan memperingati Hari Nasional Melawan Arogansi Global. Amerika Serikat selama 40 tahun terakhir mengadopsi berbagai tindakan permusuhan terhadap Republik Islam Iran, seperti perang yang dipaksakan, aksi kudeta, intervensi militer, dan sanksi ekonomi dengan tujuan mencegah kemajuan Iran. Namun mereka selalu gagal mencapai misinya itu. Meski demikian, AS dan beberapa negara Eropa terus mengambil tindakan bermusuhan terhadap Iran.
Pada 4 November 1979, mahasiswa Iran menduduki Kedutaan Besar AS di Tehran dalam aksi protes menentang campur tangan Washington terhadap Revolusi Islam. Setiap tahun, rakyat Iran memperingati momen itu sebagai Hari Nasional Melawan Arogansi Global dengan menggelar pawai akbar menyuarakan persatuan nasional dan solidaritas Islam melawan AS sebagai simbol imperialis global.
Pekan lalu, Copenhagen sejalan dengan plot Washington menuding Iran berusaha melakukan operasi teror di wilayah Denmark dan memanggil pulang dubesnya dari Tehran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qasemi kemudian mengkonfirmasikan pemanggilan dubes Denmark di Tehran hari Rabu (31/10/2018). "Dubes Denmark di Tehran, Danny Annan Rabu pagi hadir di Kemenlu dan bertemu dengan kepala administrasi urusan Eropa Utara Kemenlu Iran. Tehran menyampaikan nota protes kepadanya menyikapi statemen politik prematur sejumlah pejabat Denmark dan media negara itu," ungkap Qasemi.
Menurutnya, kepala administrasi urusan Eropa Utara Kemenlu Iran dalam pertemuan tersebut membantah berita miring tentang Iran yang dilakukan musuh untuk merusak hubungan baik antara Iran dan Eropa.
Sementara itu, Dubes Denmark dalam pertemuan itu menyatakan akan berkonsultasi dengan Copehagen dan menyampaikan protes pihak Iran mengenai masalah yang mengemuka saat ini.
AS akan Terapkan Sanksi Tahap Kedua Besok
Pemerintah AS akan menerapkan tahap kedua sanksi terhadap Iran pada 4 November besok. Sanksi ini menargetkan penjualan minyak Iran dan mengancam akan menghentikan ekspor minyak negara ini ke titik nol.
Pengamat isu-isu internasional, Dan Glazebrook menuturkan, "Trump menggunakan semua yang dia miliki untuk mengobarkan perang ekonomi terhadap Iran. Masalahnya adalah bahwa semua yang dia punya tidak cukup, karena kekuatan monopoli virtual yang pernah digunakan oleh AS telah lama menguap."
Pekan lalu, seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri mengumumkan rencana AS untuk memangkas ekspor minyak Iran ke angka nol pada 4 November, dengan mengancam akan menjatuhkan sanksi pada setiap perusahaan yang masih berdagang di luar tanggal tersebut.
"Tekad untuk menghancurkan Iran dengan cara apapun, tentu saja telah menjadi kebijakan luar negeri pemerintahan Trump sejak hari pertama, dengan hampir setiap anggota timnya menyimpan dendam lama dan terdokumentasi dengan baik terhadap Republik Islam. Kehadiran Iran sebagai negara independen mengancam kontrol imperialis atas wilayah Timur Tengah," ujar Glazebrook.
Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol memperingatkan tentang dampak ekonomi atas sanksi sepihak Amerika Serikat dan potensi penurunan ekspor minyak Iran. Dia mengingatkan bahwa karena permintaan naik, muncul kekhawatiran yang signifikan terkait pasokan minyak yang dibutuhkan pasar.
Fatih Birol dalam sebuah komentar pada Sabtu (27/10/2018) mengkritik politisasi pasar minyak, dan menuturkan meskipun penawaran dan permintaan berimbang, namun harga minyak berpotensi naik lebih tinggi dan situasi ini akan menjadi momen terburuk bagi ekonomi global.
Sementara itu, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan kepala dan pejabat Lembaga Pertahanan Sipil Iran, Ahad (28/10/2018) sore, menekankan pentingnya peran lembaga pertahanan sipil dalam menangkal ancaman baru musuh.
"Dalam menghadapi metode rumit serangan musuh, badan pertahanan sipil harus benar-benar kuat dan waspada, serta menangkal segala infiltrasi dengan tindakan, akurat, dengan cara terbaru, dan komprehensif," tambahnya.
Zarif Hadiri Sidang Dewan Menlu D8 di Turki.
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif tiba di Antalya, Turki pada Jumat (2/11/2018) untuk menghadiri Sidang ke-18 Dewan Menlu D-8. Pertemuan ini akan dimulai pada 3 November untuk membahas sejumlah isu, termasuk pengembangan kerjasama di antara negara-negara anggota D-8.
Organisasi Kerjasama Ekonomi D-8 adalah sebuah forum untuk pengembangan kerjasama di antara negara-negara anggota; Iran, Indonesia, Bangladesh, Mesir, Nigeria, Malaysia, Pakistan, dan Turki.
Kerjasama regional dalam format ekonomi dan politik selalu menjadi salah satu prioritas kebijakan luar negeri negara-negara dunia untuk memajukan tujuan dan kepentingan nasionalnya. Tujuan dan kepentingan ini dapat didefinisikan dalam konteks pendekatan win-win. Pendekatan model ini akan mendorong peningkatan keamanan di semua bidang.
Misi D-8 adalah untuk meningkatkan posisi negara-negara anggota dalam perekonomian global, diversifikasi, dan menciptakan peluang baru dalam hubungan perdagangan, serta mengintensifkan partisipasi dalam pengambilan keputusan di tingkat internasional dan meningkatkan standar hidup. (RM)