Dinamika Asia Tenggara, 6 Juli 2019
https://parstoday.ir/id/news/other-i71623-dinamika_asia_tenggara_6_juli_2019
Dinamika, Asia Tenggara pekan ini menyoroti sejumlah isu di antaranya masalah pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah target, dan dua WNI dihukum pengadilan Irak karena bergabung dengan kelompok teroris Daesh.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Jul 06, 2019 11:53 Asia/Jakarta
  • Menteri luar negeri Republik Indonesia
    Menteri luar negeri Republik Indonesia

Dinamika, Asia Tenggara pekan ini menyoroti sejumlah isu di antaranya masalah pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah target, dan dua WNI dihukum pengadilan Irak karena bergabung dengan kelompok teroris Daesh.

Isu lainnya mengenai sikap Malaysia mengecam pembangunan terowongan di Masjid al-Aqsa, dan operasi anti-narkoba di Filipina menewaskan anak-anak.

 

Sri Mulyani

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Bawah Target

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya mencapai 5,2% atau di bawah target yang ditetapkan semula 5,3%.

Situs katadata melaporkan, Sri Mulyani menyampaikan masalah ini  dalam rapat kinerja dan fakta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Mei 2019 di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

"Perekonomian sampai kuartal I tumbuh sebesar 5,07% di mana kuartal II kita masih membuat proyeksi antara 5,02-5,13%. Untuk keseluruhan tahun 5,2% atau lebih rendah 0,1%," ujar menteri Sri Mulyani dilansir situs Katadata hari ini.

Laporan ini tidak jauh berbeda dari prediksi Bank Dunia sebelumnya yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 dari 5,2% menjadi 5,1%. Penurunan ini dipicu oleh gejolak ekonomi global yang menyebabkan pertumbuhan ikut tersendat.

Sepanjang kuartal pertama 2019, Bank Dunia melihat, terjadi peralihan pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan investasi menurun dari tingkat tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, konsumsi masyarakat dan pemerintah meningkat. Hal ini berdampak positif dalam mengurangi tekanan pada defisit neraca berjalan.

Sebelumnya Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2018 bakal melandai. Situs Kompas mengutip statemen Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, cenderung tertahannya kinerja pertumbuhan ekonomi disebabkan kinerja ekspor yang turun. Adapun secara keseluruhan, bank sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 berada di bawah titik tengah 5 persen hingga 5,4 persen.

Selain itu, investasi non bangunan belum meningkat signifikan dipicu dampak perlambatan ekspor, meskipun investasi bangunan tetap berlanjut. Sementara itu, konsumsi diprakirakan tetap baik didukung terjaganya daya beli dan keyakinan masyarakat. Adapun permintaan domestik diprediksi bakal tumbuh terbatas, sehingga impor diprakirakan menurun.

 

Tertangkap Gabung Daesh, Dua WNI Dihukum di Irak

Sebanyak dua perempuan asal Indonesia divonis 15 tahun penjara oleh pengadilan tinggi Irak karena bergabung dengan kelompok kelompok teroris Daesh.

Pelaksana tugas juru bicara Kemlu RI, Teuku Faizasyah menjelaskan kedua perempuan yang disebut bernama Aidha dan Amalia itu bergabung dengan ISIS hingga sampai divonis di Irak.

Kabar soal kedua perempuan Indonesia ini pertama kali diberitakan oleh AP pada pekan lalu. Dewan Kehakiman Tertinggi Irak menyatakan kedua perempuan itu menikahi seorang anggota ISIS yang tewas akibat serangan udara koalisi Amerika Serikat beberapa waktu lalu.

Pernyataan itu juga menyebutkan kedua perempuan tersebut masuk ke Provinsi Niveva, Irak, dari Suriah, meski tak menjelaskan kapan.

Pengadilan Irak juga telah menjatuhkan hukuman mati terhadap belasan warga Perancis simpatisan ISIS dalam beberapa pekan terakhir. Meski begitu, proses eksekusi belum hingga kini belum dilakukan.

Irak sendiri telah menahan dan memenjarakan setidaknya 19 ribu orang yang dituduh memiliki hubungan dengan ISIS dan pelanggaran terorisme lainnya dalam beberapa waktu terakhir.  Mereka juga telah menjatuhkan vonis hukuman terhadap 3 ribu simpatisan ISIS berdasarkan analisis AP pada 2018 lalu.

 

Menlu Malaysia

Malaysia Mengutuk Pembangunan Terowongan di Masjid al-Aqsa

Pemerintah Malaysia mengutuk peresmian terowongan ilegal di tanah Palestina yang disebut "Pilgrimage Road" oleh rezim Zionis Israel.

Seperti dilansir IRNA, Menteri Luar Negeri Malaysia, Datuk Saifuddin Abdullah mengatakan Malaysia tidak setuju dengan langkah sepihak rezim Zionis dan ini tidak dapat diterima.

"Kami ingin menyatakan bahwa kami menolak tindakan terbaru rezim Israel. Kami tidak akan pernah mendukung hal-hal semacam ini," tegasnya.

Datuk Saifuddin lebih lanjut menandaskan, "Mengenai isu-isu yang berhubungan dengan rezim Zionis dan Palestina, kami tetap teguh di pihak Palestina dalam semua masalah."

Israel telah meresmikan proyek terowongan ilegal dari Silwan sampai selatan Masjid al-Aqsa yang disebut Pilgrimage Road. Proyek ini merupakan bagian dari yahudisasi Quds dan peresmiannya dilakukan oleh perwakilan pemerintah AS.

Duta Besar AS untuk rezim Zionis, David Friedman dan Utusan Presiden Trump untuk Timur Tengah, Jason Greenblatt meresmikan terowongan yang berada di bawah rumah-rumah warga Palestina itu.

 

Operasi Anti-Narkoba Filipina Tewaskan Anak-anak

Operasi anti-narkoba yang dilancarkan kepolisian Filipina kembali menuai kecaman setelah seorang anak perempuan berusia tiga tahun dilaporkan tewas.

Pihak kepolisian Filipina Kamis (4/7) menjelaskan bahwa insiden ini bermula ketika operasi sedang memburu seorang tersangka pengedar  narkoba di dekat Manila. Saat polisi sedang mencoba mengejar tersangka, pria itu menjadikan putrinya sebagai tameng dan mulai melepaskan tembakan ke arah aparat. Polisi pun membalas dengan tembakan yang ternyata tersasar ke arah bocah tersebut.

Juru bicara kepolisian Filipina, Bernard Banac, mengatakan bahwa para personel yang diterjunkan dalam operasi pada Minggu itu sudah ditahan untuk menentukan penanggung jawab kematian bocah tersebut. Namun, kepolisian tak bisa menyalahkan personelnya karena tersangka melepaskan tembakan terlebih dulu.

"Kejadian itu memang kecelakaan dan dia menggunakan putrinya sebagai tameng manusia," ujar Banac sebagaimana dikutip Reuters.

Membela pernyataan Banac, seorang senator yang pernah memimpin kampanye anti-narkoba Filipina, Ronald dela Rosa, juga mengatakan bahwa insiden tersebut tak dapat dihindari.

"Kita hidup di dunia yang tak sempurna. Akankah seorang petugas kepolisian menembak anak kecil? Tidak akan karena mereka punya anak juga. Namun, kesialan memang terjadi dalam operasi," katanya.

Namun, ibu batita tersebut membantah semua pernyataan kepolisian, meski tak menjabarkan lebih lanjut cerita versi keluarganya. Operasi kepolisian ini pun langsung menuai kritik.

Protes atas operasi anti-narkoba kepolisian pun kembali meluas. Sejumlah aktivis lantas mengingatkan bahwa saat ini, sudah ada puluhan negara yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menyelidiki operasi anti-narkoba di Filipina.

Operasi besar-besaran yang digaungkan oleh Presiden Rodrigo Duterte itu memang dikecam karena menewaskan hampir 27 ribu tersangka tanpa proses peradilan jelas. (PH)