Transformasi Timur Tengah, 10 Agustus 2019
-
Operasi gabungan yang melibatkan pasukan Hashd al-Shaabi untuk memburu sisa-sisa teroris Daesh di Irak.
Transformasi Timur Tengah sepekan terakhir diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya pembunuhan saudara sekjen Ansarullah Yaman dan Hamas meminta Otorita Ramallah mengobarkan perlawanan anti-Zionis.
Isu lainnya mengenai kecaman Hizbullah Lebanon terhadap pernyataan Kedutaan AS di Beirut, dan terakhir pasukan Hashd al-Shaabi Irak berhasil membersihkan Provinsi Nineveh dari sisa-sisa Daesh.
Saudara Sekjen Ansarullah Yaman Meninggal Diteror
Gerakan Houthi Yaman mengatakan pada hari Jumat (9/8/2019) bahwa anggota senior keluarga Houthi telah dibunuh. "Tangan-tangan berbahaya yang berafiliasi dengan Amerika-rezim Zionis telah membunuh Ibrahim Badreddin al-Houthi," kata televisi al-Masirah mengutip pernyataan dari Kementerian Dalam Negeri Yaman di Sana'a.
Ibrahim al-Houthi adalah saudara dari pemimpin Gerakan Ansarullah Yaman, Abdul-Malek al-Houthi.
Dinas Intelijen Yaman berhasil mengungkap identitas anggota tim teror saudara sekjen Ansarullah itu dan menangkap sejumlah banyak dari mereka. Menurut laporan televisi al-Mayadeen, aparat keamanan Yaman setelah mengungkap identitas kelompok peneror Ibrahim al-Houthi, berhasil menangkap sejumlah teroris bayaran yang tergabung dalam kelompok itu.
Anggota tim teror ini berafiliasi ke Kementerian Intelijen Saudi dan berada di bawah pengawasan salah satu pemimpin milisi bersenjata mantan diktator Yaman, Ali Abdullah Saleh.
Sementara itu, ribuan orang melakukan demonstrasi di Yaman untuk menyuarakan kebencian mereka atas blokade udara yang dilakukan Arab Saudi dan penutupan bandara di Sana'a, yang membuat pasokan makanan dan bantuan medis tidak bisa masuk ke negara itu.
Pada hari Jumat, para pengunjuk rasa berkumpul di luar Bandara Internasional Sana'a dalam sebuah demonstrasi yang bertema, "Kelanjutan Embargo Udara dan Blokade adalah Kejahatan AS."
Mereka meneriakkan slogan-slogan menentang Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel, karena mendukung blokade Yaman yang dilakukan Saudi.
Dalam sebuah pernyataan, para demonstran mengatakan, koalisi agresor yang dipimpin Saudi harus menanggung semua konsekuensi atas pengepungan bandara Sana'a. Rakyat Yaman memiliki hak untuk menggunakan semua opsi yang tersedia untuk mematahkan blokade dan menghentikan agresi.
Hamas Minta Otorita Ramallah Kobarkan Perlawanan Anti Zionis
Pekan lalu, Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) meminta pemerintah Otorita Ramallah untuk mengakhiri kerja sama keamanan dengan rezim Zionis Israel. Seruan ini dikeluarkan dalam merespon pembunuhan seorang tentara Zionis di distrik Gush Etzion di Tepi Barat, Palestina.
"Otorita Ramallah dan dinas-dinas keamanannya harus memulai perlawanan nyata dan mengajak rakyat Palestina untuk melakukan perlawanan dengan tujuan membebaskan tanah Palestina dan membentuk negara merdeka," kata pernyataan Hamas.
Sementara itu, Gerakan Jihad Islam Palestina menganggap pembunuhan tentara Israel itu membawa sebuah pesan penting di tengah aksi mogok massal yang dilakukan oleh para tawanan Palestina. "Insiden itu menunjukkan bahwa semua penjajah akan menjadi target yang sah kelompok perlawanan Palestina," tegasnya.
Kubu perlawanan Palestina menegaskan selama kejahatan orang-oang Zionis berlanjut, maka operasi melawan mereka juga akan dilanjutkan.
Sementara itu, Kepala Otorita Ramallah Palestina saat bertemu dengan delegasi DPR Amerika Serikat di Ramallah, menyampaikan penentangannya terhadap kebijakan AS terkait Palestina dan mengatakan rakyat Palestina menolak keputusan Presiden Donald Trump mengenai Palestina.
Mahmoud Abbas dalam pertemuan dengan delegasi DPR AS yang dipimpin oleh Steny Hoyer, Rabu (7/8/2019) menekankan pentingnya komitmen terhadap resolusi-resolusi internasional.
Hizbullah Kecam Pernyataan Kedutaan AS di Beirut
Gerakan Hizbullah mengecam pernyataan Kedutaan Besar AS di Beirut dan menganggap hal itu sebagai campur tangan dalam urusan Lebanon. Hizbullah, seperti dikutip televisi al-Manar, Kamis (8/8/2019) mengecam pernyataan Kedubes AS tentang insiden penembakan di daerah Qabr al-Shamoun, dan menyebutnya sebagai intervensi nyata dalam urusan Lebanon.
Hizbullah menganggap statemen Kedubes AS sebagai penghinaan berat kepada pemerintah dan lembaga-lembaga hukum Lebanon. "Ini adalah campur tangan yang tidak dapat diterima. Lembaga-lembaga hukum Lebanon sedang mengusut insiden tersebut dan mereka mampu melakukan tugasnya dengan baik," tambahnya.
Kedubes AS di Beirut pada Rabu lalu, meminta pengadilan di Lebanon untuk memeriksa ulang insiden penembakan yang terjadi satu bulan lalu di daerah Qabr al-Shamoun, Provinsi Jabal.
Dua pengawal Menteri Penasihat Lebanon untuk Urusan Pengungsi, Saleh al-Gharib, tewas ditembak di Qabr al-Shamoun pada 30 Juni lalu. Tiga orang lainnya juga terluka dalam peristiwa itu.
Kubu politik di Lebanon termasuk Gerakan Patriotik Bebas (FPM) dan Fraksi Pembangunan dan Kebebasan, mengkritik pernyataan Kedubes AS itu. Anggota parlemen Lebanon, Hikmat Dib juga mengkritik statemen Kedubes AS dan mengatakan, campur tangan AS mengenai insiden Qabr al-Shamoun bertujuan untuk melindungi pihak tertentu.
Hashd al-Shaabi Bersihkan Provinsi Nineveh dari Sisa Daesh
Pasukan Hashd al-Shaabi berhasil membersihkan lebih dari selusin desa di bagian selatan Provinsi Nineveh, Irak selama tahap ketiga operasi untuk memburu sisa-sisa anggota teroris Daesh.
Dalam sebuah pernyataan pada 5 Agustus 2019, pasukan Hashd al-Shaabi mengumumkan Brigade-40 pasukan mereka telah membersihkan 13 desa, termasuk Ayn al-Jahesh, Msheirfeh, ʻArish, Khirbet al-Yazidi, Albu Jarad, Ayn al-Bayda dari para teroris Daesh.
Secara terpisah, Brigade-4 dan Brigade-24 Hashd al-Shaabi dengan dukungan pasukan pemerintah Irak, telah menghancurkan sejumlah basis persembunyian teroris dan menjinakkan enam alat peledak improvisasi di timur laut kota Miqdadiyah, di Provinsi Diyala, timur Irak.
Pada 6 Agustus, pasukan sukarelawan ini menyatakan bahwa mereka telah membersihkan 19 desa, termasuk al-Rahmaneyah, Kookh dan al-Hauesh di wilayah al-Shoura, yang terletak 45 kilometer selatan ibukota Provinsi Mosul dari para teroris Daesh.
Biro media Komando Operasi Gabungan menyatakan bahwa tentara Irak, polisi dan pasukan Hashd al-Shaabi, yang didukung oleh jet tempur Angkatan Udara Irak, telah meluncurkan tahap ketiga dari Operasi Kemenangan di Provinsi Diyala dan Nineveh.
Militer Irak dan pasukan sukarelawan memulai tahap pertama Operasi Kemenangan pada 7 Juli lalu. Operasi ini bertujuan untuk membersihkan daerah-daerah di Irak dari kehadiran sisa-sisa teroris Daesh. (RM)