Iran Aktualita 14 Desember 2019
https://parstoday.ir/id/news/other-i76553-iran_aktualita_14_desember_2019
Transformasi Iran sepekan terakhir diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya respon jubir Kemlu Iran atas klaim menlu Jerman, menlu Iran menjelaskan visi perdamaian Tehran di Istanbul, Turki.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Des 14, 2019 10:07 Asia/Jakarta
  • Iran Aktualita 14 Desember 2019

Transformasi Iran sepekan terakhir diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya respon jubir Kemlu Iran atas klaim menlu Jerman, menlu Iran menjelaskan visi perdamaian Tehran di Istanbul, Turki.

PBB membantah Iran terlibat dalam serangan ke kilang minyak Arab Saudi. Dan isu terakhir mengenai kerja sama keamanan maritim antara Iran dan Pakistan.

Respon Jubir Kemlu Iran atas Klaim Menlu Jerman

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Sayid Abbas Mousavi mengecam klaim, posisi sepihak, dan bias Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas yang memanfaatkan peristiwa baru-baru ini di Iran untuk kepentingan politik.

Kecaman itu dilontarkan Mousavi setelah Heiko Maas pada hari Kamis (12/12/2019) mengklaim bahwa ratusan orang tewas dalam unjuk rasa terbaru di Iran. Menlu Jerman di hadapan anggota parlemen negaranya juga menegaskan bahwa penumpasan demonstran di Iran harus dikecam.

Mousavi menilai pernyataan menlu Jerman sebagai tidak bertanggung jawab dan intervensif. "Kata-kata seperti itu tidak dapat menutupi kegagalan beberapa negara Eropa untuk mematuhi kewajiban kesepakatan nuklir JCPOA dan sikap pasif mereka mengenai terorisme ekonomi AS," tegasnya.

"Opini publik belum melupakan negara yang mempersenjatai mantan diktator Irak, Saddam Hussein, dengan senjata kimia yang digunakan untuk melawan Iran selama delapan tahun perang yang dipaksakan," sindir Mousavi.

"Mereka (orang-orang) juga memikirkan bagaimana polisi menumpas para demonstran pada KTT G20 di Hamburg pada Juli 2017 atau pengiriman senjata oleh negara-negara Eropa ke Asia Barat untuk membunuh anak-anak dan perempuan yang tidak bersalah, termasuk yang di Yaman," tambahnya.

Mousavi meminta Jerman untuk menjaga prinsip-prinsip utama hak asasi manusia alih-alih mengadopsi sikap yang bias dan tidak profesional. "Iran selama kerusuhan baru-baru ini, telah memisahkan barisan musuh dan pembunuh orang-orang tak berdosa dan pendukung asing mereka dari para pengunjuk rasa yang sebenarnya," jelasnya.

Mohammad Javad Zarif.

Visi Perdamaian Iran di Kawasan

Republik Islam Iran menyatakan bahwa kehadiran pasukan asing tidak pernah bisa mewujudkan stabilitas di Asia, terutama kawasan barat. Isu ini kembali disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif pada hari Senin (9/12) dalam konferensi tingkat menteri ke-8 "Jantung Asia" di kota Istanbul, yang menegaskan visi perdamaian dan keamanan Iran di kawasan.

Pengalaman menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak pernah serius mewujudkan keamanan maupun menumpas terorisme di Asia Barat, dan kawasan Asia lainnya. Sebaliknya, Washington justru menjadi pemicu konflik dan pengobar perang yang telah dipaksakan di Asia selama beberapa dekade, termasuk di Afghanistan.

Mengenai isu Afghanistan, Zarif dalam konferensi Istanbul juga mengungkapkan sikap Iran yang mendukung proses perdamaian intra-Afghanistan dengan melibatkan partisipasi seluruh faksi, termasuk Taliban, dan pemerintah pusat Kabul. "Segenap upaya harus dikerahkan untuk mendorong proses perdamaian, sekaligus menjaga capaian Konferensi Bonn di tahun 2001, khususnya dalam kerangka Konstitusi Republik Islam Afghanistan sebagai dasar yang kuat untuk meraih solusi politik," tegasnya.

Menlu Iran juga menyinggung masalah ancaman yang ditimbulkan oleh kebijakan intervensi asing di kawasan. Menurut Zarif, ancaman kelompok teroris Daesh yang semakin meningkat di Afghanistan tidak boleh menyulut lebih banyak pertumpahan darah, maupun mengesampingkan masalah penyebaran konflik sektarian yang juga berbahaya. Sebab tidak ada yang diuntungkan sama sekali dari penciptaan dan dukungan terhadap Daesh dan kelompok-kelompok teroris lainnya di Suriah dan Irak maupun di Afghanistan dan Asia Tengah. Oleh karena itu, semua pihak harus menghentikannya sebelum menjadi malapetaka besar.

Sekitar 16 tahun lalu, analis politik terkemuka AS, Samuel Huntington menulis," Bagi kebanyakan orang di seluruh dunia, Amerika sedang menjadi negara adikuasa yang sewenang-wenang dan satu-satunya ancaman eksternal utama masyarakatnya."

PBB: Iran tidak Berada di Balik Serangan ke Kilang Minyak Saudi

PBB tidak dapat memverifikasi tudingan bahwa Iran berada di balik serangan ke kilang minyak Aramco milik Arab Saudi. Sekjen PBB, Antonio Guterres mengatakan para penyelidik PBB tidak dapat secara independen menguatkan klaim AS dan Saudi bahwa Iran berada di balik serangan terhadap fasilitas minyak Aramco pada September 2019.

Dalam sebuah pengumuman hari Selasa (10/12/2019), Guterres menambahkan bahwa semua puing-puing dari senjata yang digunakan terhadap Aramco, telah diperiksa dan PBB belum dapat memverifikasi klaim anti-Tehran yang dibuat oleh Washington dan Riyadh.

"Pada saat ini, tidak dapat secara independen membenarkan bahwa rudal jelajah dan pesawat tanpa awak yang digunakan dalam serangan tersebut berasal dari Iran," tegas Guterres dalam laporannya kepada Dewan Keamanan PBB.

Serangan rudal dan drone menghantam fasilitas pengolahan minyak Aramco di daerah Khurais dan Abqaiq, Saudi pada 14 September. Serangan ini dilakukan oleh Gerakan Ansarullah Yaman, tetapi Saudi dan AS bersikeras menyalahkan Iran tanpa bukti apapun.

Republik Islam Iran membantah tuduhan keterlibatan apapun dan mengatakan serangan itu adalah tindakan pembelaan diri yang sah oleh Yaman, yang telah mengalami serangan terus-menerus oleh koalisi Arab Saudi sejak Maret 2015.

Laksamana Hussein Khanzadi (kiri) dan Zafar Mahmoud Abbasi (kanan).

Keamanan Maritim, Poros Kerja sama Iran dan Pakistan

Komandan Angkatan Laut Republik Islam Iran, Laksamana Hussein Khanzadi dan sejawatnya dari Pakistan, Zafar Mahmoud Abbasi dalam pertemuan di Islamabad, menekankan perluasan kerja sama bilateral di bidang keamanan laut.

Peningkatan kerja sama Iran dan Pakistan di bidang maritim ini sangat penting dengan pertimbangan setidaknya dua alasan.

Laksamana Khanzari dalam pertemuan dengan komandan angkatan laut Pakistan menjelaskan urgensi pemanfaatan kapasitas pelabuhan Chabahar dan Gwadar, dan kedua pelabuhan ini memiliki kapasitas geopolitik yang spesifik dan tidak akan pernah saling bersaing karena perbedaan kapasitasnya masing-masing.

Komandan angkatan laut Iran menjelaskan, "Keberadaan jalur ini adalah peluang yang baik di bidang ekonomi, dan Iran bisa menjadi titik temu yang baik untuk  jalur timur dan barat. Titik penyatuannya adalah dua pelabuhan Chabahar dan Gwadar, yang bisa bekerja sama daripada bersaing, dan dua angkatan laut dapat bergandengan tangan di perairan."

Sementara itu, Komandan Angkatan Laut Pakistan menyikapi tawaran pejabat militer Iran dengan mengatakan, tingkat hubungan angkatan laut kedua negara tidak memadai dan perlu ditingkatkan. "Kita harus berperan untuk meningkatkannya," tegas Zafar Mahmoud Abbasi.

Republik Islam Iran memiliki pendekatan positif terhadap partisipasi negara-negara kawasan dalam  kerja sama di bidang keamanan regional. Masalah ini telah disampaikan pejabat tinggi Iran dalam inisiatif "Hormoz Peace Endeavour." (RM)