Iran Aktualita, 11 April 2020
-
Masjid Jamkaran di kota Qom berhias menyambut hari kelahiran Imam Mahdi as dan Nisfu Sya\'ban.
Iran Aktualita selama beberapa hari terakhir diwarnai berbagai isu di antaranya perayaan hari kelahiran Imam Mahdi as dan Nisfu Sya’ban.
Selain itu perkembangan penanganan wabah virus Corona di Iran, kesiapan Uni Ekonomi Eurasia untuk memperluas hubungan ekonomi dengan Republik Islam, dan putusan Pengadilan Eropa yang mencabut pemblokiran aset Iran.
Pidato Rahbar Menyambut Hari Kelahiran Imam Mahdi
Pekan lalu, rakyat Iran merayakan hari kelahiran Imam Mahdi as pada tanggal 15 Sya’ban (Nisfu Sya’ban). 15 Sya'ban adalah di antara perayaan besar umat Islam terutama bagi Muslim Syiah. Karena hari itu diperingati sebagai hari kelahiran Imam Mahdi as. Nisfu Sya'ban tahun ini jatuh pada 9 April 2020.
Biasanya pada malam mulia itu, warga Iran berbondong-bondong ke masjid dan Huseiniyah untuk mengikuti doa bersama Nisfu Sya'ban. Namun karena virus Corona tengah mewabah, acara perayaan ini ditiadakan.
Di pagi hari, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei atau Rahbar menyampaikan pidato yang disiarkan langsung oleh televisi nasional Iran untuk menyambut perayaan Nisfu Sya’ban. Rahbar mengucapkan selamat atas hari kelahiran Imam Mahdi as – sang juru selamat – kepada bangsa Iran, warga Muslim dunia, dan para pencari kebebasan di dunia.
Mengacu pada berbagai masalah yang dihadapi umat manusia di tengah kemajuan sains, Ayatullah Khamenei mengatakan, “Ketidakadilan, kemiskinan, penyakit, dekadensi moral, dosa, perpecahan yang mendalam, dan penyalahgunaan sains oleh kekuatan-kekuatan dunia, telah menyebabkan umat manusia merasa lelah, cemas, dan larut dalam masalah. Saat ini kebutuhan akan juru selamat telah mencapai puncaknya di seluruh dunia.”
“Sudah terbukti bahwa sains dan logika tidak dapat melepaskan belenggu ketidakadilan. Mewujudkan mimpi abadi ini membutuhkan tangan kuasa Ilahi. Karena alasan inilah misi agung Imam Mahdi as adalah memenuhi bumi dengan keadilan,” ujarnya.
Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei menyoroti perilaku dunia Barat di tengah pandemi Corona seperti, merampas masker dan sarung tangan yang dilakukan oleh pemerintah AS dan beberapa pemerintah Eropa, warga menyerbu supermarket untuk mengosongkan rak-raknya, orang-orang terlibat pertengkaran demi beberapa gulung tisu toilet, ditambah antrian untuk membeli senjata, penolakan pemerintah untuk merawat orang tua, dan juga aksi bunuh diri sejumlah orang karena takut terinfeksi Corona.
Dalam peristiwa itu, lanjut Rahbar, budaya dan peradaban Barat telah menunjukkan sifat sejatinya yang merupakan konsekuensi alami dari filosofi yang dibangun di atas individualisme, materialisme, dan sebagian besar ateisme.
Menurut Ayatullah Khamenei, virus Corona adalah masalah serius dan penyakit berbahaya bagi umat manusia, tetapi kasus ini seharusnya tidak menyebabkan kita melupakan kejadian penting lainnya di dunia. Sebab dalam beberapa tahun terakhir, dunia dan negara kita dihadapkan dengan masalah dan insiden yang lebih besar.
Salah satu tragedi ini adalah serangan senjata kimia yang diluncurkan oleh rezim Saddam di kota Halabcheh dan beberapa daerah perbatasan di Iran. Perang Dunia I dan II, Perang Vietnam, serta serangan AS terhadap Irak dan Afghanistan merupakan contoh lain dari insiden serius yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir.
“Wabah virus Corona seharusnya tidak menyebabkan kita mengabaikan penindasan dan tirani negara adikuasa di dunia terhadap berbagai negara termasuk Palestina dan Yaman. Kita juga tidak boleh melalaikan konspirasi dan permusuhan oleh kekuatan arogan, karena tidak seperti pemikiran beberapa orang bahwa jika kita tidak menunjukkan permusuhan, mereka juga tidak akan memusuhi kita. Permusuhan kekuatan arogan tertuju pada prinsip sistem Republik Islam dan demokrasi religius.”
70 Juta Lebih Warga Iran telah Menjalani Screening Corona
Wakil Menteri Kesehatan Iran, Alireza Raeisi mengatakan 70.35.000 warga Iran telah menjalani screening massal untuk mengidentifikasi dini penyebaran virus Corona.
Raeisi, seperti dikutip kantor berita IRIB, Jumat (10/4/2020) menambahkan salah satu dampak penting program screening massal ini adalah mengurangi tingkat rujukan warga ke pusat-pusat perawatan medis.
Menurutnya, aksi nasional melawan Corona dan program pembatasan sosial di Iran sudah membuahkan hasil. Hal ini ditandai dengan penurunan jumlah kasus baru dan korban jiwa dalam beberapa hari terakhir, serta kerja sama warga Iran untuk berdiam di rumah selama pelaksanaan program tersebut.
Kementerian Kesehatan Iran dengan dukungan angkatan bersenjata sedang mempercepat proses diagnosis, melacak orang-orang yang pernah kontak dengan pasien Corona, melakukan pemisahan, dan mengobati orang yang positif Corona.
Uni Eurasia Siap Memperluas Hubungan Ekonomi dengan Iran
Menteri Uni Ekonomi Eurasia, Andrey Slepnev mengumumkan kesiapan organisasi ini untuk memperluas kerja sama ekonomi dengan Iran.
Seperti dilansir IRNA, Jumat (10/4/2020), Slepnev dalam pembicaraan telepon dengan Duta Besar Iran untuk Rusia Kazem Jalali, mengatakan Uni Ekonomi Eurasia mendukung tindakan Iran memerangi virus Corona dan akan menyampaikan kebutuhan Tehran dalam hal ini kepada para anggotanya.
Menurut Slepnev, sanksi Amerika Serikat terhadap Iran tidak masuk akal, terutama di tengah kampanye global melawan pandemi Corona.
Berbicara tentang perluasan pertukaran perdagangan antara Iran dan negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia, Slepnev menambahkan bahwa pihaknya siap meningkatkan promosi hubungan Iran dengan para tetangganya dan seluruh kawasan.
Sementara itu, Kazem Jalali menekankan tekad Iran untuk melaksanakan butir-butir perjanjian dengan negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia, dan meminta agar kapasitas yang ada dimanfaatkan secara maksimal untuk pengembangan perdagangan bilateral.
Uni Ekonomi Eurasia memiliki lima negara anggota yaitu Rusia, Kazakhstan, Kirgistan, Armenia, dan Belarus.
Berdasarkan perjanjian yang ditandatangani antara kedua pihak, 502 produk ekspor Iran ke negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia menikmati tarif preferensial.
AS Gigit Jari, Pengadilan Eropa Cabut Pemblokiran Aset Iran
Gubernur Bank Sentral Iran, Abdul Nasser Hemmati menyatakan bahwa AS gagal menyita dan mentransfer dana milik Bank Sentral Iran yang berada di Eropa ke negaranya.
"Bank Sentral Republik Islam Iran telah meraih dua kemenangan secara cerdas dalam menangkal aksi AS dan mengambil langkah-langkah hukum di peradilan di Luksemburg," ujar Hemmati, Rabu (8/4/2020).
"Pertama, keputusan pencabutan blokir dana milik Bank Sentral Iran di lembaga Clearstream Luksemburg senilai 1,6 miliar dolar yang telah dibekukan sejak 15 Januari 2016. Selain itu, keputusan sementara dari cabang lain di pengadilan Luksemburg yang mencegah transfer dana Iran ke Amerika Serikat dan distribusinya di antara para pendakwa palsu dari insiden 11 September 2001," tegas Gubernur Bank Sentral Iran.
Sebelumnya, pengadilan AS memutuskan secara in absentia bahwa Republik Islam Iran harus membayar kompensasi kepada keluarga korban serangan teroris 11 September 2001.
Klaim hakim bahwa Iran terlibat dalam serangan teroris 11 September 2001 benar-benar bertentangan dengan informasi dari tim investigasi Kongres AS sendiri.
Berdasarkan investigasi tim Kongres AS, lima belas dari 19 pembajak pesawat yang melakukan serangan 11 September 2001 adalah warga negara Saudi dan dua warga negara UEA, dan mereka memiliki hubungan dengan pejabat kedua negara Arab itu. (RM)