Dinamika Asia Tenggara, 18 April 2020
https://parstoday.ir/id/news/other-i80496-dinamika_asia_tenggara_18_april_2020
Dinamika Asia Tenggara selama beberapa terakhir menyoroti sejumlah isu di antaranya mengenai kesepakatan negara anggota ASEAN untuk merelokasi 10 persen anggaran guna penanganan Covid-19.
(last modified 2026-03-03T12:22:08+00:00 )
Apr 17, 2020 21:24 Asia/Jakarta
  • Bendera negara-negara anggota ASEAN
    Bendera negara-negara anggota ASEAN

Dinamika Asia Tenggara selama beberapa terakhir menyoroti sejumlah isu di antaranya mengenai kesepakatan negara anggota ASEAN untuk merelokasi 10 persen anggaran guna penanganan Covid-19.

Selain itu, Indonesia mempersiapkan diri untuk mengantisipasi resesi ekonomi Global akibat Covid-19, rupiah mengalami pelemahan, dan Mahathir mengatakan bahwa kewarganegaraan Malaysia tidak akan diberikan kepada imigran.

 

virus corona

 

ASEAN Sepakat Relokasi Anggaran Tangani Corona

Sepuluh negara anggota ASEAN menyepakati relokasi anggaran kerja sama organisasi sebesar 10 persen untuk penanganan virus corona di kawasan.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan usulan relokasi dana itu dibahas dalam KTT ASEAN+3 bersama Cina, Korea Selatan, dan Jepang yang tertuang dalam pernyataan bersama seluruh anggota seusai pertemuan berlangsung.

Retno mengatakan Covid-19 ASEAN responds funds itu berasal dari alokasi 10 persen dari total anggaran kerja sama ASEAN dengan negara mitra.Relokasi dana ini diprioritaskan untuk membeli peralatan kesehatan dan kebutuhan lainnya yang dibutuhkan negara ASEAN dalam menanggulangi penyebaran Covid-19.

ASEAN sepakat membentuk prosedur protokol pelacakan dan investigasi bersama penyebaran wabah corona.

 

Presiden RI, Joko Widodo

 

Indonesia Siap Antisipasi Resesi Ekonomi Global Akibat Covid-19

Pemerintah Indonesia mulai mengantisipasi kemungkinan terburuk akibat adanya pandemi Covid-19 yang melanda dunia, tak terkecuali Indonesia. Kemungkinan terburuk itu, salah satunya, adalah terjadinya resesi ekonomi global.

Untuk itu, Presiden Joko Widodo mengingatkan jajaran menteri dan kepala daerah untuk bersiap dengan skenario dalam mengantisipasi dampak negatif terhadap ekonomi dari pandemi Covid-19, termasuk kemungkinan terjadinya resesi ekonomi global.

Presiden menerima laporan bahwa pertumbuhan ekonomi global dapat terkontraksi mencapai -2,8 persen pada tahun ini karena situasi pandemi virus Corona jenis baru. Untuk Indonesia, Kepala Negara menyebutkan memang terdapat potensi perlambatan laju pertumbuhan ekonomi.

 

mata uang rupiah dan dolar

 

Pelemahan Rupiah di Pusaran Virus Corona

Nilai tukar rupiah pada perdagangan di pasar spot Kamis (16/4) pagi dibuka melemah 0,52 persen ke level Rp 15.657 per dolar Amerika Serikat. Rupiah tercatat sebagai mata uang dengan penurunan terbesar ketiga setelah won Korea dan Ringgit Malaysia yang masing-masing anjlok sekitar 0,83 persen dan 0,6 persen di tengah peningkatan penyebaran Covid-19.

Bank Indonesia (BI) berupaya menyelamatkan ekonomi dalam negeri dari dampak negatif virus corona dengan menggelontorkan dana hampir Rp300 triliun untuk menginjeksi likuiditas ke pasar uang dan perbankan sejak awal tahun hingga saat ini.

Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah penyebaran virus corona. BI melakukan intervensi tersebut karena banyak investor asing menarik dananya dari pasar keuangan Indonesia, sehingga membuat rupiah tertekan.

Selain itu, BI melakukan injeksi likuiditas ke perbankan lebih dari Rp56 triliun melalui skema term-repo dengan underlying SBN yang dimiliki perbankan. Kemudian, menurunkan giro wajib minimum (GWM) rupiah sebesar 50  basis poin (bps), sehingga menambah likuiditas di perbankan sebesar Rp22  triliun.

Tidak hanya itu, BI menambah lagi likuiditas untuk perbankan sebesar US$3,2  miliar dengan menurunkan GWM valuta asing (valas) sebesar 4  persen. Seluruh keputusan ini diharapkan bisa menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan.

Tapi para ekonom memandang langkah ini belum memadai untuk meredam pelemahan rupiah. Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto menilai intervensi itu tidak bisa mengembalikan rupiah ke area Rp14 ribu per dolar AS sebagaimana yang berhasil diraih awal 2020.

Menurut Eko, tampaknya sulit bagi BI untuk membawa rupiah ke level Rp14 ribu per dolar AS, ketika persoalan pandemi virus corona masih menjalar di Indonesia dan dunia. Pasalnya, ekonomi global belum stabil dan dampaknya memukul nilai tukar Rupiah. Oleh karena itu, butuh langkah lain yang membuat pasar kembali pulih, di antaranya dengan menjaga independensi BI. Jika pasar menilai kebijakan yang mereka keluarkan diambil karena pengaruh dari pemerintah, maka pasar akan bereaksi negatif dengan menarik dananya dari pasar keuangan Indonesia.

 

Mahathir Mohamad

 

Mahathir: Kewarganegaraan Malaysia Tidak Diberikan kepada Imigran

Stasiun televisi Al Jazeera, Senin (13/4/2020) melaporkan, Mahathir Mohamad membela undang-undang dasar Malaysia yang hanya memberikan hak kewarganegaraan kepada suku Melayu asli, dan membedakan warga keturunan Cina serta India.

Politisi senior Malaysia itu menambahkan, orang-orang yang bermigrasi ke Malaysia tidak seperti orang-orang yang mengungsi ke Amerika Serikat. Para imigran di Amerika sepenuhnya bercampur dengan budaya lokal, berbicara bahasa Inggris dan berperilaku seolah-olah Amerika adalah negara asalnya, sehingga generasi kedua imigran sama sekali melupakan negara asal.

Ia menambahkan, para pengungsi dari Cina dan India di Malaysia, tidak mau bercampur dengan budaya lokal, dan tidak bersedia menempuh pendidikan di sekolah-sekolah Malaysia, atau belajar bahasa pribumi dan memeluk agama pribumi.

Menurut Mahathir, budaya Cina dan Melayu jauh berbeda, Cina memiliki sejarah peradaban lebih dari 4000 tahun, sementara peradaban Melayu masih sangat muda.

Namun, imbuhnya, warga Cina di bidang pekerjaan dan ekonomi lebih unggul dari Melayu, karena warga Melayu malas dan serakah.

Mahathir menegaskan, jika undang-undang dasar Malaysia tidak memberikan hak khusus kepada warga pribumi, maka tidak diragukan mereka akan pergi dan meninggalkan budayanya yang selama ini menjadi fondasi negara. (PH)