Mab'ats Nabi Islam; Titik Balik dalam Kehidupan Umat Manusia
https://parstoday.ir/id/news/religion-i184218-mab'ats_nabi_islam_titik_balik_dalam_kehidupan_umat_manusia
Pars Today – Peristiwa diutusnya Nabi Islam dapat dipandang sebagai titik balik sejarah; sebuah kejadian yang dengan bertumpu pada pembacaan wahyu, penyucian jiwa, pendidikan, dan kebijaksanaan, telah mengubah struktur pemikiran dan sosial umat manusia.
(last modified 2026-01-17T10:35:06+00:00 )
Jan 17, 2026 19:27 Asia/Jakarta
  • Mab'ats Nabi Islam; Titik Balik dalam Kehidupan Umat Manusia

Pars Today – Peristiwa diutusnya Nabi Islam dapat dipandang sebagai titik balik sejarah; sebuah kejadian yang dengan bertumpu pada pembacaan wahyu, penyucian jiwa, pendidikan, dan kebijaksanaan, telah mengubah struktur pemikiran dan sosial umat manusia.

Dalam kalender Hijriah Qamariah, tanggal 27 Rajab dicatat sebagai hari peringatan diutusnya Nabi Islam, Nabi Muhammad Mustafa (SAW); suatu hari yang menurut para pemikir sejarah dunia menandai dimulainya babak baru dalam sejarah spiritual dan sosial umat manusia. Peristiwa ini bukan hanya menjadi awal risalah Nabi Islam, tetapi juga merupakan titik balik dalam transformasi intelektual, moral, dan sosial masyarakat manusia.
 
Empat Tujuan Fundamental Pengutusan Nabi
 
Al-Qur’an pada ayat 164 Surah Ali ‘Imran menyebutkan empat poros utama misi pengutusan Nabi Islam:
 
"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata."
 
Pembacaan ayat-ayat Ilahi, penyucian dan pemurnian moral, pengajaran Kitab dan ilmu pengetahuan, serta pendidikan hikmah. Keempat hal ini membentuk kerangka yang jelas tentang misi Nabi; sebuah misi yang bertujuan membimbing manusia dari kesesatan menuju pengetahuan, pertumbuhan, dan kebahagiaan di dunia serta kehidupan setelahnya. Keempat tujuan penting ini telah melahirkan berbagai perubahan besar dalam kehidupan manusia, di antaranya sebagai berikut:
 
1. Kebangkitan Nilai-Nilai Individu dan Sosial
 
Pengutusan Nabi Islam terjadi pada masa ketika masyarakat Arab terjerat oleh struktur jahiliah yang keras; keutamaan seperti kesabaran, pemaafan, kedermawanan, dan rasa malu telah memudar, sementara nilai-nilai kemanusiaan terlupakan di bawah bayang-bayang fanatisme kesukuan. Nabi Islam, dengan bersandar pada ajaran wahyu, menghidupkan kembali nilai-nilai tersebut dan melembagakan konsep-konsep seperti kebebasan, keadilan sosial, dan martabat manusia dalam masyarakat—konsep-konsep yang kemudian menjadi pilar peradaban Islam.
 
2. Pembebasan dari Kegelapan
 
Imam Ali (as), penerus Nabi Islam, dalam Khutbah 89 Nahjul Balaghah, menggambarkan secara tepat kondisi sosial dan intelektual sebelum pengutusan Nabi:
 
“Allah mengutusnya pada masa terhentinya para rasul, panjangnya kelalaian umat-umat, merebaknya fitnah, kekacauan urusan, berkobarnya peperangan, dan dunia yang redup cahayanya serta penuh tipu daya; pada saat daun pohonnya menguning dan harapan akan buahnya telah sirna.”
 
Menurut beliau, masa tersebut adalah zaman tanpa kehadiran nabi, fitnah meluas, peperangan berkecamuk, dan manusia terlelap dalam “tidur panjang”. Dalam situasi seperti itu, pengutusan Nabi Islam bagaikan cahaya yang menembus kegelapan kebodohan, kekerasan, dan ketidakadilan, serta membuka jalan baru bagi umat manusia.
 
3. Membangkitkan Akal dan Pemikiran
 
Salah satu tujuan utama para nabi adalah membangkitkan kemampuan berpikir manusia. Amirul Mukminin (as) dalam Nahjul Balaghah menegaskan bahwa para nabi diutus untuk mengaktifkan “khazanah-khazanah akal” yang tersembunyi dalam diri manusia. Oleh karena itu, pengutusan Nabi Islam—yang menekankan membaca, memperoleh hikmah, dan penyucian diri demi pengembangan pengetahuan—dipandang sebagai titik awal kebangkitan intelektual ini.
 
4. Penegakan Perdamaian dan Ketenangan
 
Keamanan dan ketenteraman merupakan kebutuhan mendasar setiap masyarakat manusia, dan pada dasarnya tidak ada pertumbuhan tanpa ketenangan. Nabi Islam, dengan menghadirkan teladan kasih sayang dan toleransi, menunjukkan jalan perdamaian kepada kaum Muslim. Salah satu contoh historis pendekatan ini adalah sikap Nabi pada hari penaklukan Mekah; ketika sebagian sahabat meneriakkan slogan “Hari ini adalah hari pembalasan”, Nabi dengan tegas menyatakan: “Hari ini adalah hari kasih sayang.” Saat penduduk Mekah menantikan pembalasan, Nabi bukan saja memaafkan mereka, tetapi juga menamai hari itu sebagai hari rahmat—sebuah pendekatan yang menjadi faktor penting dalam ketertarikan luas masyarakat Mekah kepada Islam. (HS)