Teror Madinah dan Kontradiksi Perang Melawan Terorisme Saudi
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i14047-teror_madinah_dan_kontradiksi_perang_melawan_terorisme_saudi
Protes pejabat-pejabat senior Arab Saudi atas aksi-aksi yang dilakukan kelompok-kelompok Takfiri pasca rangkaian serangan teror terbaru di negara itu, menunjukkan tibanya masa perubahan potensial kebijakan-kebijakan rezim Al Saud.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 07, 2016 13:19 Asia/Jakarta
  • Teror Madinah dan Kontradiksi Perang Melawan Terorisme Saudi

Protes pejabat-pejabat senior Arab Saudi atas aksi-aksi yang dilakukan kelompok-kelompok Takfiri pasca rangkaian serangan teror terbaru di negara itu, menunjukkan tibanya masa perubahan potensial kebijakan-kebijakan rezim Al Saud.

Salman bin Abdulaziz, Raja Saudi yang sebelumnya berulang kali mengumumkan dukungan negaranya atas kelompok-kelompok bersenjata di kawasan, Selasa (5/7) pasca peledakan bom di Madinah dan Qatif mengatakan, mulai saat ini kami akan menindak serius orang-orang yang berusaha mempengaruhi pemikiran para pemuda.

Raja Salman tanpa menyinggung bantuan-bantuan total Riyadh atas kelompok-kelompok teroris bersenjata seperti Daesh dan Front Al Nusra di Suriah, Irak dan Yaman dalam beberapa tahun terakhir, mengakui bahwa masalah umat Islam paling serius adalah melindungi para pemuda dari bahaya ekstremisme.

Mohammad bin Nayef, Menteri Dalam Negeri sekaligus Putra Mahkota Saudi, setelah menjenguk korban luka serangan teror di Jeddah dan Madinah menngklaim, Riyadh tidak akan membiarkan para teroris menganggu keamanan negara ini.

Statemen basi para pejabat Saudi terkait perang melawan ekstremisme dan bahaya terorisme bagi negara-negara Islam kawasan, disampaikan padahal sebelum serangan-serangan teror meluas ke Saudi, para pejabat negara itu berulang kali secara terang-terangan menyatakan dukungan mereka atas kelompok-kelompok bersenjata di kawasan.

Raja Saudi baru kali ini mengatakan bahwa masalah paling serius yang dihadapi umat Islam adalah ektresmisme, di saat yang sama ratusan bukti yang dipublikasikan sumber-sumber intelijen dan keamanan di Irak dan Suriah menunjukkan bahwa rezim Al Saud adalah pendukung utama kelompok-kelompok teroris di kawasan.

Lebih dari itu, tidak ada seorangpun yang menyangsikan bahwa rezim Al Saud sebagai tempat lahir pemikiran Wahabisme dan penyebar teroris ke berbagai wilayah dunia itu, mulai dari Afghanistan sampai Amerika Serikat, memainkan peran signifikan dalam sebagian besar aksi-aksi teror yang terjadi di dunia.

Penangkapan ratusan warga Saudi di Suriah, Irak, Yaman, Amerika dan negara-negara Eropa, membuktikan klaim ini.

Oleh karena itu, kebijakan-kebijakan gagal Saudi yang berpijak pada intervensi militer dan politik atas urusan dalam negeri negara-negara lain, pergantian rezim berkuasa, merusak stabilitas negara-negara dan memecah belah, pemikiran sektarian dan etnis serta menyebarluaskannya ke luar perbatasan negara, harus segera dirubah.

Pasalnya, hingga kini kebijakan-kebijakan tersebut justru memberikan hasil sebaliknya bagi Saudi, khususnya di Yaman, Irak dan Suriah yang tidak menghasilkan apapun kecuali kerusakan.

Terjadinya insiden teror di Saudi juga menunjukkan bahwa kekalahan Saudi di sejumlah perang luar negeri dan musibah-musibah yang muncul bagi negara ini dan negara lain, serta klaim Riyadh terkait dukungan atas masalah-masalah bangsa Arab dan Islam dan pergantian sejumlah pemerintahan serta reformasi, di saat hubungan rahasia dan terbuka Saudi-rezim Zionis Israel terungkap, sudah tidak efektif lagi.

Hal itu disebabkan karena Saudi lebih dari negara manapun di dunia ini, membutuhkan reformasi radikal di dalam negeri. (HS)