Eizenkot: Hizbullah Tantangan Besar bagi Israel
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i14449-eizenkot_hizbullah_tantangan_besar_bagi_israel
Kepala Staf Angkatan Bersenjata rezim Zionis Israel, IDF mengakui kekuatan perlawanan Lebanon sebagai tantangan besar bagi Israel.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 12, 2016 13:09 Asia/Jakarta
  • Eizenkot: Hizbullah Tantangan Besar bagi Israel

Kepala Staf Angkatan Bersenjata rezim Zionis Israel, IDF mengakui kekuatan perlawanan Lebanon sebagai tantangan besar bagi Israel.

Surat kabar Israel Hayom (12/7) melaporkan, Gadi Eizenkot, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, IDF mengakui kekalahan rezim itu dalam perang 33 hari di Lebanon dan menekankan urgensi kesiapan militer Israel dalam menghadapi segala bentuk serangan potensial.

Eizenkot juga menyinggung pentingnya merubah struktur militer Israel untuk menciptakan ketenangan di perbatasan Utara Palestina pendudukan dengan Lebanon.

Ia menuturkan, konsentrasi pada kesiapan militer Israel saat ini, dalam situasi darurat perang.

Koran Israel Hayom juga memuat dokumen militer baru dari arsip perang melawan Lebanon pada tahun 2006 dan menulis, perang ini, sebagai perang tersulit, tidak akan pernah hilang dari benak warga Israel.

Sementara itu, Yair Golan, Deputi Kepala Staf IDF dalam wawancara dengan surat kabar Yedioth Ahronoth, mengakui kekalahan Israel dalam perang 33 hari Lebanon dan mengatakan, sebab utama kekalahan tersebut adalah ketidakmampuan serta tidak adanya rasa percaya diri di pasukan Israel.

Salah satu perwira IDF yang lain menyinggung perubahan perimbangan di Suriah pasca masuknya Hizbullah, Lebanon ke negara itu.

Ia menuturkan, Hizbullah sekarang telah berubah menjadi sebuah pasukan dan memusatkan diri pada taktik serangan serta meninggalkan taktik bertahan.

Perang Israel-Lebanon pada tahun 2006 atau yang lebih dikenal dengan perang 33 hari pecah pada 12 Juli 2006 antara militer Israel melawan Hizbullah. Cakupan perang itu mulai dari Utara Palestina pendudukan sampai Selatan Lebanon.

Perang akhirnya dihentikan bersamaan dengan keluarnya resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB pada 14 Agustus 2006. (HS)